bahagia bukan tentang apa yang kita miliki

Posted on Updated on

“happiness is not in what you have, it is in what you feel,”

beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah kisah broadcast dari grup whatsapp, tentang seorang ibu yang awalnya minder karena hanya s1, namun akhirnya bersyukur dan merasa bahagia setelah bertemu dengan wanita lain yang sudah s3 namun belum bersuami dan memiliki anak.

membaca cerita itu, terasa ada sesuatu yang kurang pas. di luar hikmah luar biasa yang diperoleh si ibu, yang tentu saja ikut saya syukuri, ada semacam cara pandang yang kurang pas ketika si ibu ini memandang wanita lain yang tidak memiliki apa yang dia miliki, sebagai wanita yang pasti kurang bahagia.

mengapa memandang orang lain yang tidak memiliki apa yang kita miliki sebagai orang yang pasti tidak bahagia? setiap orang memiliki kebahagiaannya sendiri-sendiri. dan salah satu sumber kekecewaan terbesar adalah membandingkan apa yang kita punya dengan apa yang orang lain punya, lalu menganggap kebahagiaan kita dan mereka berbanding lurus dengan kepunyaan kita dan kepunyaan mereka.

kebahagiaan itu bukan terletak pada apa yang kita miliki, dan ketidakbahagiaan bukan terletak pada apa yang tidak kita miliki. kebahagiaan terletak pada bagaimana kita memandang apa yang kita miliki dan tidak kita miliki. belum tentu orang yang memiliki apa yang kita inginkan, merasa bahagia. dan belum tentu orang yang tidak memiliki apa yang kita miliki, merasa tidak bahagia.

Advertisements

memilih teman

Posted on Updated on

“stay away from people who make you feel you’re hard to love,”

saya bersyukur beberapa tahun terakhir ini diberi Allah beberapa kawan yang tulus dalam pertemanan dan memiliki visi dan pandangan yang sama tentang hidup dan kehidupan. mereka adalah teman-teman saya di komunitas #ITJ dan tiga atau empat teman kantor.

menurut saya, memilih teman yang tepat bukan berarti kita sombong, tertutup, atau tinggi hati. kata Nabi saw, berteman dengan tukang minyak wangi akan tertular harumnya, dan sebaliknya. teman dapat mempengaruhi jiwa kita dan memenuhi hari-hari kita dengan kebahagiaan atau malah ketertekanan. memilih teman yang tepat sangat membantu saya mengurangi beban-beban kehidupan akibat mengurusi perkara-perkara yg sebenarnya tak penting untuk diurusi…

teman yang tepat, tahu bagaimana menghargaimu sebagai manusia. tidak terlalu ikut campur dalam urusan pribadimu, namun bisa diajak diskusi panjang lebar tentang ide-ide, nilai-nilai, pandangan-pandangan, yang benar-benar bermakna untuk hidup di dunia dan akhirat.

teman yang tepat, tidak menggerogoti energimu dengan membicarakan aib teman yang lain di hadapanmu, lalu membicarakan aibmu di hadapan teman yang lain. sungguh teman semacam ini membuat dirimu merasa engkau tidak cukup baik untuk dihargai dan dicintai. padahal, mungkin merekalah yang tidak cukup berharga untuk menerima cinta dan ketulusan darimu.

walaupun tidak banyak, saya memiliki teman-teman yang saya bisa rasakan ketulusan dan cintanya kepada saya. dan sebagai orang yang bertipe #infj saya memang tidak menilai teman dari kuantitas, namun dari kualitasnya. sedikit dalam jumlah, namun tulus dalam interaksi cukuplah bagi saya.

beberapa waktu terakhir, saya juga mulai bisa membatasi interaksi dengan teman-teman yang menggerogoti energi saya, menggosip di belakang saya, dan membenci saya diam-diam (you’ll understand this if you’re also an #infj, we can ‘smell’ hatred and also pure hearts instinctive and intuitively). saya tidak membenci atau memusuhi mereka, tapi sekedar membatasi diri untuk tidak membicarakan hal-hal penting dalam hidup saya dengan mereka. saya sadar, mengharapkan semua orang akan menyukai kita adalah hal yang mustahil. sama halnya, tidak semua orang juga menyukai mereka yang membenci orang lain. life is a mirror for ourselves anyway.

hasilnya, hidup saya lebih tentram, tenang, dan lebih bermakna. alhamdulillah. semoga selalu demikian adanya. “i’m very content with myself. i’m not looking to compete with anyone. i’m not looking to hate or to hurt. i’m at peace. i hope you are too.”

jum’at dan malam jum’at

Posted on

barusan kepikiran… selain nama-nama hari dalam bahasa indonesia yang diadaptasi dari bahasa arab akibat proses islamisasi yang berlangsung di nusantara selama berabad-abad, ternyata konsep pembagian hari pun berasal dari konsep islam.

hal sederhana yang dapat menjelaskan hal ini adalah cara kita menamai malam-malam sebagai malam ahad (ahad), malam senin (itsnaini), malam selasa (tsalatsa), malam rabu (arba’a), hingga malam sabtu (sab’ah). malam sabtu misalnya, menggambarkan bahwa setelah maghrib di hari jum’at, sudah berganti hari menjadi hari sabtu. karena itulah kita menyebutnya malam sabtu. demikian juga malam jum’at, berawal sejak maghrib di akhir hari kamis.

konsep ini berbeda dengan konsep barat tentang hari, yang berawal dan berakhir pukul 00.00 am di tengah malam. karena itu mereka menyebut malam ahad sebagai saturday night, karena sebelum pukul 12 malam, hari itu masih terhitung hari sabtu.

hal ini sekaligus membuktikan bahwa di balik nama ada konsep dan makna.

😁

Ramadhan 1436 H Istimewa

Posted on Updated on

Ramadhan kali ini istimewa bagi saya, karena seperti saat pertama kali lahir ke dunia berpuluh tahun yang lalu, kedua ulang tahun saya jatuh pada bulan ramadhan…

Ketika saya lahir pada hari Ahad, tanggal 5 Juli 1981, hari itu bertepatan dengan tanggal 3 Ramadhan 1401 Hijriyah…

Tahun ini pun, selain merayakan milad tanggal 3 Ramadhan kemarin, saya juga insyaallah akan bertemu dengan tanggal 5 Juli di bulan Ramadhan…

Peristiwa semacam ini mungkin hanya 11-12 tahun sekali terjadi… Karenanya, Ramadhan ini istimewa bagi saya ❤

sks, beban atau kesempatan belajar?

Posted on

selama mindset belajar masih dianggap beban, selama itu juga kita ngga akan mampu menghasilkan ilmuwan yang mumpuni… yang ada cuma orang2 setengah paham tapi ngerasa udah paham karena udah merasa menempuh sekolah resmi bersistem sks.
gimana ngga, di pendidikan kita, sks aja disebut “beban 2 sks”… secara mindset, oleh para pendidik, belajar disebut beban, apalagi oleh yg dididik.
akibatnya, berasa makin besar sks makin besar bebannya. belajar 24 sks aja berasanya udah kayak beban seberat truk yang membawa batu hehe…

kalo jaman dulu, belajar sama ulama mana kenal beban 2 sks… yg ada sebanyak2nya kita raup ilmu… ngga kenal capek, ngga kenal susah… kecintaan terhadap ilmu membuat capek dan susah ngga dirasa lagi…

sebaiknya, mindset mendasar “belajar sebagai beban” ini diubah dulu… harusnya istilahnya bukan beban, tapi “kesempatan 2 sks”. artinya, kalau satu semester maksimal 24 sks, berarti kesempatan belajar kita cuma 24 sks… dan itu ngga cukup.

kita harus belajar lebih giat di luar kesempatan 24 sks yang diberikan kampus… itu kalau kita benar2 mau jadi “sesuatu”, bukan hanya jadi ordinary people yg belajar dengan cara ordinary.

🙂

apanya yang ngga Indonesia?

Posted on Updated on

“Kamu kok pakaiannya kayak orang Arab gitu? Ngga Indonesia dong…” tanya seorang kawan saya ketika saya iseng menggunakan gamis hitam bordir bunga produksi asli Bangil, hehe…

Tapi untuk menjelaskan bahwa model baju seperti ini banyak diproduksi di Bangil, kainnya mungkin made in China, dan bordirnya mungkin diambil dari pola bunga-bunga vintage a la Eropa… masih banyak hal penting yang harus saya kerjakan…

“Kamu sendiri pakai jeans dan polo shirt itu kayak orang Amerika… kurang Indonesia, hwehehehe” jawab saya sambil bercanda.

“Ya udah, besok saya pakai sarung aja…” katanya pura-pura ngambek.

“Ehem… sarung itu adanya duluan di Yaman lhooo… baru abis itu dibawa ke Indonesia oleh pedagang dan mubaligh dari sana… wkwkwk,”

Mendiskusikan seberapa asli, seberapa lokal, seberapa Indonesia, bukan perkara ringan yang selesai hanya dalam percakapan lima menit yang sambil lalu…

Pinjam-meminjam berbagai kebudayaan adalah hal yang lumrah dalam perkembangan peradaban manusia… Memisah-misahkan mana yang benar asli dan mana yang campuran adalah pekerjaan melelahkan dan kurang menarik minat saya…

Saya bahkan tidak tahu, apakah krupuk dan bakso kegemaran saya benar-benar asli Indonesia ataukah pada suatu masa yang telah lalu, dibawa dan diperkenalkan oleh budaya lain, lalu diterima baik oleh masyarakat kita…

Saya juga tidak tahu, apakah kerudung yang katanya asli Indonesia itu benar-benar asli Indonesia… Sebelum Islam masuk, apakah kerudung dan baju kurung sudah dikenal di masyarakat nusantara…

Apalagi jika perbincangan ini lantas dikaitkan dengan Islam… apakah jilbab itu Islam atau Arab, dst dst tidak lagi menarik untuk saya… Yang jelas, ketika saya memutuskan untuk berjilbab, saya telah dapat membedakan mana yang perintah agama, mana yang sekedar budaya.

Pun ketika saya memakai gamis hitam dari Bangil, saya paham bahwa pada budaya-budaya yang tidak bertentangan dengan agama, ada keluasan kita untuk mengambil dan menggunakannya…

Saya pun paham budaya lokal yang tidak bertentangan dengan agama, bahkan dapat dijadikan norma… Jika banyak pertanyaan tentang apakah gamis hitam Bangil itu bertentangan dengan agama dan norma lokal, saya pikir pertanyaan yg sama juga bisa diterapkan kepada jeans dan polo shirt itu… Kenapa segala sesuatu yang berbau Arab selalu dipertanyakan, sementara yang berbau Barat, Korea, dsb dsb sering ditelan mentah-mentah? 🙂

Setidaknya itulah yang saya pahami dari “Memelihara yang lama yang baik, dan menerima yang baru yang lebih baik…” Bukan sekedar lama atau barunya, bukan sini atau sananya, tetapi baik atau buruknyalah yang terpenting…

a little about poems

Posted on Updated on

image

when you read a poem, you read about yourself. your reading and other’s reading on the same one might be different. it depends on your own feelings, knowledge, experiences.

you might read this poem and think of your past lover, while i read it and think of an old abandoned house in my hometown.

therefore, all you can judge precisely from any poem, is yourself.