miscellaneously scientific

Kuliah Perdana Filsafat Al-Attas

Posted on Updated on

“Sebenarnya orang-orang Islam belum sadar tentang apa yang disebut metafisika, padahal itu adalah suatu kewajiban bagi kita untuk memahaminya, sebab pandangan mengenai hakikat dan alam terangkum dalam suatu kerangka metafisik. Kalau kita tidak memahami kerangka metafisik kita sendiri, tentu kita akan keliru dan terperosok ke dalam pandangan mengenai alam dan hakikat yang berbeda, dan yang lain, dan yang tak sesuai dengan jiwa kita, bahkan yang tidak benar…”

~ Syed Muhammad Naquib Al-Attas

Kesadaran akan pentingnya pemahaman yang benar tentang konsep dan kerangka metafisika inilah yang tampaknya mendorong Institut for the Study of Islamic Thoughts and Civilizations atau INSISTS mengadakan serangkaian workshop filsafat Islam yang diberi nama KFA, Kuliah Filsafat Al-Attas. Selain di Jakarta, KFA rencananya juga akan diselenggarakan di beberapa kota besar, seperti Surakarta dan Surabaya.

Read the rest of this entry »

Advertisements

hakikat segala sesuatu

Posted on Updated on

haqă’iq al-asyyă’ tsăbitah, wa l-‘ilmu bihă mutahaqqiq, khilăfan li s-sũfasthă’iyyah.. ~Imam an-Nasafi

artinya, hakikat segala sesuatu itu tetap (dan oleh karena itu bisa ditangkap), tidak berubah (sebab yang berubah hanya sifat-sifatnya, a’radh, lawahiq, atau lawazim-nya saja), sehingga segalanya bisa diketahui dengan jelas… dan kita bukanlah dari golongan sofisme yang keliru karena meragukan kebenaran namun membenarkan keraguan…

dari film “What the Bleep Do We Know!?”

Posted on

Peradaban Barat telah menunjukkan kepada dunia, bahwa segala sesuatu yang digarap dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan capaian yang memukau dan mencengangkan. Tidak hanya di dunia ilmu pengetahuan, namun juga di dunia seni, politik, ekonomi, dan sebagainya. Di dalam dunia seni, khususnya seni pertunjukan, film-film bergenre science fiction sering kali membuat penontonnya tidak mampu membedakan mana yang sains dan mana yang fiksi di tengah-tengah alur cerita yang menghanyutkan. Terdapat banyak film bergenre science fiction yang membawa penontonnya seolah-olah tengah menyaksikan film dokumenter yang menyajikan fakta-fakta secara apik dan meyakinkan.

Film “What the Bleep Do We Know?” merupakan salah satu film yang membuat para penontonnya menerka-nerka apakah ini film yang murni sains, atau film yang dicampuri oleh fiksi di sana-sini. Fiksi yang dimaksudkan di sini lebih dari sekedar ilustrasi-ilustrasi yang digambarkan melalui alur cerita dari film tersebut. Fiksi yang mencampuri sains di dalam film ini bisa jadi berupa preasumsi-preasumsi yang ada di dalam diri para saintis yang mempengaruhi cara pandang mereka dalam mengambil kesimpulan dari temuan mereka. Fiksi di dalam film ini bisa jadi juga berupa reinterpretasi-reinterpretasi yang dibuat untuk menghubungkan satu fakta dengan fakta lain yang nampaknya saling berhubungan atau mungkin sesungguhnya tidak berhubungan sama sekali.

Cara manusia memaknai fakta memang selalu tergantung pada cara pandang (worldview) yang inheren di dalam dirinya. Preasumsi yang sudah mendarah daging di dalam diri para ilmuwan dapat memberikan dampak tertentu di dalam cara mereka memaknai fakta. Sama halnya dengan kebohongan yang diulang-ulang terus-menerus di media massa yang pada akhirnya dapat dianggap sebagai kebenaran oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan, fakta merupakan satu hal, sedangkan makna merupakan hal lain yang tidak selalu sama dengan fakta. Namun, baik fakta maupun makna merupakan prasyarat di dalam ilmu. Hal ini dikarenakan ilmu merupakan pemaknaan terhadap fakta. Orang yang tak mampu memaknai fakta tidak dapat disebut orang berilmu. Seperti anak kecil yang memakan semua yang dilihatnya, karena ia baru mampu melihat fakta namun masih sangat terbatas dalam memaknai fakta-fakta yang ia lihat. Read the rest of this entry »

manusia dan kebenaran

Posted on Updated on

Ada sesuatu yang sangat istimewa tentang kebenaran di dalam sejarah pemikiran umat manusia. Konsep tentang kebenaran mungkin telah mengalami berbagai perubahan, mulai dari masa Yunani Kuno dengan sophismenya, hingga masa Post-Modern dengan relativismenya. Namun, berbagai upaya epik yang terjadi di dunia selama ini, sesungguhnya terjadi dalam rangka menemukan kebenaran. Sepanjang sejarah, para filosof, saintis, seniman, budayawan, dan siapa saja yang disebut manusia, selalu mencoba menemukan dan merumuskan kebenaran dengan cara dan jalannya masing-masing. Hasilnya, betapapun terkadang jauh dari sesuatu yang disebut benar, ternyata mampu mengubah dunia menjadi dunia seperti yang kita miliki hari ini. Dengan berbagai ilmu pengetahuan, filsafat, seni, dan budaya yang terus berkembang, setidaknya kita tahu, betapa berharganya sesuatu yang bernama kebenaran itu.

Selanjutnya, kebenaran juga unik karena disadari ataupun tidak, bahkan seorang yang tak percaya akan keberadaan Tuhan pun masih percaya akan kebenaran. Seorang atheis, betapapun ia membatasi konsep kebenaran di dalam dirinya hanya pada yang terindera, tetap percaya bahwa keyakinannya tentang ketiadaan Tuhan itu benar adanya. Ia pun tetap percaya bahwa ada kebenaran universal yang menjadikan dunia mampu bertahan dari kehancuran hingga detik ini. Jika tak ada kebenaran yang dijaga bersama oleh umat manusia, maka dunia akan hancur oleh perbuatan-perbuatan segelintir manusia yang keliru dan merusak. Hal ini dikarenakan, setiap manusia secara fitrah senang menemukan kebenaran, dan tidak menyukai terjadinya sesuatu yang menurutnya salah atau keliru. Bahkan pencuri pun tak senang jika rumahnya kecurian, dan pembunuh pun tak senang jika keluarganya dibunuh orang lain. Ada nilai-nilai kebenaran universal yang menjaga dunia tetap bertahan di tengah berbagai upaya merusaknya. Read the rest of this entry »

tentang sebuah nama…

Posted on

di twitter, setiap kali baca TL saya merasa tersentuh ngelihat pak Dahlan Iskan selalu menyebut nama orang yang dibalas mentionnya oleh beliau 🙂

memanggil orang lain dengan namanya sendiri, atau nama2 kesayangannya, selalu terdengar lebih merdu dan menyentuh bagi si pemilik nama.. 🙂

ada hati yang tersambung ketika kita memanggil seseorang dari hati, dengan cara yang menyentuh hati pula.. 🙂

Allah saja memperkenalkan namanya langsung di dalam al-Qur’an, beserta seluruh namaNya yang Ia sukai yaitu asmaul husna, nama2 yang baik 🙂

masihkah kita berkeras memanggilNya dengan “wahai Tuhan yang disebut dgn berbagai nama dlm berbagai agama” atau nama2 lain yg Ia tidak ridha?

kita saja tak akan menoleh jika panggilannya tak kita inginkan atau tak sesuai dengan nama kita sendiri..

apalagi Allah yg telah memperkenalkan namaNya sendiri di dlm surat al-Ikhlas.. sesungguhnya di balik cara memanggil nama ada adab yang baik.

itulah mengapa, Allah ciptakan semua dengan nama.. di balik nama ada doa, ada harapan, ada keindahan yang melekat dengan eksistensi yang dinamai.

di balik nama ada ilmu dan ada konsep. karenanya, Adam as pertama kali diajari tentang nama-nama benda. Adam as diangkat derajatnya dengan ilmu..

sekarang, masihkah akan kau panggil setiap orang dengan seenak maumu? apapun itu, akan sampai ke hatinya dalam bentuk luka ataupun bahagia..

ngga tau, ngga mau, dan ngga mau tau

Posted on

ngga ngelaksanakan perintah Allah itu bisa jadi karena ngga tau, ngga mau, atau ngga mau tau..

yang ngga tau, cukup dengan dikasih tau.. secara, sekarang jaman informasi.. kalau mau cari tau pasti bisa tau.. 🙂

yang ngga mau, namanya penyakit syahwat, menyerang hawa nafsu.. harus coba maksakan diri.. melaksanakan perintah ga boleh nunggu maunya ajah 😀

yang ngga mau tau.. ini penyakit syubhat, menyerang akal pikiran, paling parah, sering tak disadari. perintah diplintir2 ngikuti maunya sendiri.

semoga kita semua terhindar dari ketiganya yaa.. aamiiin.. karna itu jangan pernah bosan utk selalu belajar dan mencari tau.. 😉

antara perbedaan dan penyimpangan

Posted on

perbedaan itu tidak sama dengan penyimpangan.. jika perbedaan bisa membangun, penyimpangan justru meruntuhkan..  jika perbedaan adalah sunatullah, penyimpangan justru seringkali merupakan pengingkaran terhadap sunatullah.. ketika kita belajar tentang ilmu biologi dan genetika, maka akan tampak jelas terminologi perbedaan dan penyimpangan dalam ilmu ini.. perbedaan genetik adalah sesuatu yg sangat wajar, namun penyimpangan genetik sering disebabkan perbuatan tangan manusia yg merusak alam. karenanya, manusia membutuhkan ilmu untuk mengetahui manakah perbedaan dan manakah penyimpangan, termasuk dalam beragama.. ngertikan? 🙂