everyday architecture

trik-trik terbaru mahasiswa telat ngumpulin tugas :D

Posted on Updated on

mhs: bu, saya belum tanda tangan absen UAS

sy: lho, kog bisa?

mhs: iya bu, sy kemaren lupa, tp udh ngumpulkan kog bu (pasang wajah inosen)

sy: oya? mana? (dia gak tau kalo sy yg jaga sendiri tuh jam 12.20-14.00, lewat 1/2 jam malah)

mhs: itu bu, di meja ibu

sy: *nggeremeng* oooh, yang kemaren ngumpulkan tepat waktu udah saya sembunyikan… jadi kamu telat ya?

mhs: eeeee… waktu sy naik ibu turun bu… (jungkat-jungkit kaleeee, plis deh)

sy: *mbatin* kog ngga nyamperin? saya udah tunggu sampai 14.30 lho… jadi kamu pasti telat lebih dari 1/2 jam…

mhs: jadi waktu ada cleaning service saya ikut masuk kantor untuk ngumpulkan bu… (omg, lancang banget ni anak)

sy: *dalam hati* ya udah, tanda tangan aja sana di cleaning service… wkkkkkkkkkkkkkk

bu luluk & bu sukma (sebagai saksi): *geleng-geleng kepala*

sy: kamu boleh bilang sy jahat, sy pelit, sy gak peduli… sebenernya kamu yang udah zalim sama dirimu sendiri… dst dst

mhs: kalo gitu kami permisi bu…

sy: ok, sampai ketemu di pramod tahun depan…

Advertisements

Bagaimana Islam Menyikapi Takhayul dalam Proses Berarsitektur (Sebuah Bahan Renungan bagi Masyarakat Muslim)

Posted on

Salah satu prinsip yang sangat penting dalam proses berarsitektur di dalam Islam, adalah meniadakan kepercayaan-kepercayaan yang tidak berdasar dalam setiap proses perencanaan, pembangunan maupun pemanfaatan setiap bangunan. Salah satu jenis bangunan yang seringkali dikaitkan dengan berbagai kepercayaan ini adalah bangunan rumah tinggal. Sayangnya, prinsip dasar yang penting ini seringkali malah dilupakan dan dilanggar sendiri oleh sebagian masyarakat muslim. Karenanya, penulis menujukan tulisan ini bagi masyarakat muslim, termasuk praktisi dan akademisi muslim. Di dalam artikel ini penulis akan berusaha memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan dasar pemikiran dari larangan mendasarkan diri pada kepercayaan yang salah, dan dampak-dampak yang bisa jadi ditimbulkan dari diyakininya kepercayaan-kepercayaan yang tidak ada dasarnya di dalam agama itu oleh masyarakat muslim.

Read the rest of this entry »

Area Penyimpanan, Tak Sekedar Gudang

Posted on Updated on

Keberadaan area penyimpanan dalam suatu rumah tinggal -yang besar maupun yang mungil dan terbatas-, mungkin tidak terlalu diperhatikan. Padahal, area ini sangat berguna untuk menjaga agar barang-barang yang kita miliki mudah diorganisasi dan tidak terpencar-pencar. Area penyimpanan dapat berupa gudang, rak terbuka maupun lemari.

Memberi Kesan Rapi dan Bersih

Tertatanya benda-benda yang kita miliki dalam suatu area akan mempermudah kita menemukannya sewaktu-waktu. Kondisi barang pun lebih terjaga, dengan menghindarkannya dari debu, binatang peliharaan dan sebagainya. Dampak yang paling nyata, adalah kesan rapi dan bersih yang timbul, dengan tidak adanya barang yang berserakan saat tak kita butuhkan. Hal ini berpengaruh besar pada atmosfir ruang yang tercipta. Suasana tenang dan lapang akan lebih terasa dalam ruang yang tertata rapi. Dengan demikian, kita pun dapat beristirahat lebih nyaman.

Vocal Point (Titik Pandang Utama) Dalam Ruang
Pemanfaatan Ruang Yang Tersedia

Dalam rumah tinggal dengan luas yang memadai, tidak akan menjadi masalah dalam menyediakan ruang sebagai area penyimpanan. Sebaliknya, dalam rumah dengan ruang yang terbatas, kreativitas kita dituntut agar dapat mengubah area yang sepertinya tidak berguna, menjadi area penyimpanan yang potensial. Pada rumah tinggal di Eropa, keberadaan foyer sangat bermanfaat sebagai area penyimpanan jas hujan, payung dan sepatu, selain sebagai ruang penyambutan tamu. Sebagian rumah tinggal di Jepang, bahkan memiliki laci-laci yang memanfaatkan kolong di bawah lantai.

Keberadaan alcove, atau relung kecil yang kadang ada dalam suatu ruang, juga dapat digunakan untuk meletakkan lemari atau rak. Rak-rak terbuka dari papan atau kaca dengan penyangga besi sederhana, merupakan solusi yang murah dan fleksibel. Bentuk ini cukup sederhana dan berkesan ringan, sehingga cocok bagi ruang yang relatif sempit. Kekuatan rak ini bergantung pada tebal material dan jarak antar penyangga.

Sebagai Pembatas Ruang
Beberapa Pertimbangan Area Penyimpanan

  • Untuk rak dengan tinggi melebihi kepala, sebaiknya lebar papan tidak terlalu besar, agar benda-benda di bagian atas dapat langsung terlihat dari bawah. Jika relatif lebar, gunakanlah untuk menyimpan benda yang besar namun ringan, misalnya tenda parasut.
  • Aturlah benda-benda yang lebih tinggi di baris paling belakang. Benda-benda yang sering digunakan sebaiknya diletakkan di bagian yang paling mudah dijangkau.
  • Hindari perletakan lemari yang menutupi stopkontak, saklar dan perlengkapan listrik lain.
  • Kotak-kotak tertutup sebaiknya diberi label, agar kita lebih mudah mengidentifikasi isinya dalam waktu singkat.
  • Untuk ruang yang sempit, pintu lemari dapat didesain sebagai pintu lipat atau pintu geser yang memakan lebih sedikit ruang.
  • Perabot built-in lebih efisien, memakan sedikit tempat dan dapat dirancang sesuai dengan kondisi ruang terutama dapur, walaupun memakan biaya lebih mahal. Perabot freestanding biasanya lebih banyak pilihan di pasaran, selain itu mudah dibawa ketika kita pindah, namun biasanya lebih besar dan memakan ruang.
  • Gunakan bagian dalam penutup/pintu lemari untuk menyimpan benda-benda yang kecil, misalnya dasi, kerudung dan selendang.
  • Usahakan benda-benda yang cukup berat diletakkan setinggi pinggang. Hal ini dapat mencegah cedera akibat membungkuk pada saat mengangkatnya, atau justru tertimpa pada saat mengambilnya.
  • Optimalkan desain rak terbuka atau lemari yang berfungsi ganda sebagai wadah pajangan. Warna netral pada dinding sesuai bagi berbagai jenis buku. Sebaliknya, warna background yang kuat sesuai bagi benda-benda pajangan yang berkesan ringan, misalnya botol-botol kaca.
  • Selera pribadi, dana yang tersedia dan ruang yang ada turut menentukan kebutuhan akan area ini. Ada baiknya memperhitungkan kebutuhan masa depan, baik dalam mengukur luasan ruang maupun kekuatan wadah penyimpanan. Hal ini untuk mengantisipasi penambahan-penambahan yang terjadi nantinya.

Sumber: The Ultimate Home Design Sourcebook dan sumber-sumber lainnya

Menjadi Penduduk “Ramah Lingkungan”

Posted on Updated on

ramah-1.jpg

 Pada saat-saat tertentu, ketika kita berjalan kaki di daerah permukiman padat di kota-kota besar, kita akan menyadari bahwa bayang-bayang yang menaungi jalan yang kita lalui bukanlah berasal dari rimbunnya pepohonan. Bayangan itu terbentuk oleh dinding-dinding bangunan yang merapat sedemikian rupa, sehingga menaungi sebagian besar badan jalan.

 Kenyataan di atas adalah salah satu contoh sederhana, betapa disadari atau tidak, degradasi kualitas lingkungan telah terjadi dan berdampak pada perubahan suasana kota. Jika secara sepintas kita merasakan peningkatan suhu kota kita atau air yang banyak tergenang di jalan raya ketika hujan turun, maka sesungguhnya telah terjadi perubahan besar pada lingkungan alam yang mewadahi kota kita.

 Perubahan yang terjadi, berupa penurunan kualitas lingkungan, sejatinya jauh lebih besar daripada yang secara sepintas lalu kita sadari. Lingkungan alam merupakan wadah manusia mengembangkan lingkungan binaannya. Lingkungan alam ini memperoleh dampak negatif dari usaha manusia membangun dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dampak negatif ini pada akhirnya kembali lagi kepada manusia dalam bentuk penurunan kualitas kesehatan dan masalah kependudukan lainnya.

 Apa yang bisa kita lakukan?”

Sampai di sini, bisa jadi akan muncul satu pertanyaan besar di benak kita masing-masing. “Lalu apa yang bisa kita lakukan?” Kita bukanlah pemegang kekuasaan yang dapat mengambil keputusan penting dalam pengembangan kota dan infrastrukturnya. Kita bukan pula seorang ahli lingkungan yang dapat memperhitungkan berapa besar dampak negatif dari setiap sampah plastik yang tak dapat diuraikan atau detergen yang mengalir bersama air sungai. Jika kita hanyalah salah satu dari penduduk biasa yang tinggal di suatu kota, apa yang kemudian dapat kita lakukan?

Read the rest of this entry »