Month: July 2015

bahagia bukan tentang apa yang kita miliki

Posted on Updated on

“happiness is not in what you have, it is in what you feel,”

beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah kisah broadcast dari grup whatsapp, tentang seorang ibu yang awalnya minder karena hanya s1, namun akhirnya bersyukur dan merasa bahagia setelah bertemu dengan wanita lain yang sudah s3 namun belum bersuami dan memiliki anak.

membaca cerita itu, terasa ada sesuatu yang kurang pas. di luar hikmah luar biasa yang diperoleh si ibu, yang tentu saja ikut saya syukuri, ada semacam cara pandang yang kurang pas ketika si ibu ini memandang wanita lain yang tidak memiliki apa yang dia miliki, sebagai wanita yang pasti kurang bahagia.

mengapa memandang orang lain yang tidak memiliki apa yang kita miliki sebagai orang yang pasti tidak bahagia? setiap orang memiliki kebahagiaannya sendiri-sendiri. dan salah satu sumber kekecewaan terbesar adalah membandingkan apa yang kita punya dengan apa yang orang lain punya, lalu menganggap kebahagiaan kita dan mereka berbanding lurus dengan kepunyaan kita dan kepunyaan mereka.

kebahagiaan itu bukan terletak pada apa yang kita miliki, dan ketidakbahagiaan bukan terletak pada apa yang tidak kita miliki. kebahagiaan terletak pada bagaimana kita memandang apa yang kita miliki dan tidak kita miliki. belum tentu orang yang memiliki apa yang kita inginkan, merasa bahagia. dan belum tentu orang yang tidak memiliki apa yang kita miliki, merasa tidak bahagia.

Advertisements

memilih teman

Posted on Updated on

“stay away from people who make you feel you’re hard to love,”

saya bersyukur beberapa tahun terakhir ini diberi Allah beberapa kawan yang tulus dalam pertemanan dan memiliki visi dan pandangan yang sama tentang hidup dan kehidupan. mereka adalah teman-teman saya di komunitas #ITJ dan tiga atau empat teman kantor.

menurut saya, memilih teman yang tepat bukan berarti kita sombong, tertutup, atau tinggi hati. kata Nabi saw, berteman dengan tukang minyak wangi akan tertular harumnya, dan sebaliknya. teman dapat mempengaruhi jiwa kita dan memenuhi hari-hari kita dengan kebahagiaan atau malah ketertekanan. memilih teman yang tepat sangat membantu saya mengurangi beban-beban kehidupan akibat mengurusi perkara-perkara yg sebenarnya tak penting untuk diurusi…

teman yang tepat, tahu bagaimana menghargaimu sebagai manusia. tidak terlalu ikut campur dalam urusan pribadimu, namun bisa diajak diskusi panjang lebar tentang ide-ide, nilai-nilai, pandangan-pandangan, yang benar-benar bermakna untuk hidup di dunia dan akhirat.

teman yang tepat, tidak menggerogoti energimu dengan membicarakan aib teman yang lain di hadapanmu, lalu membicarakan aibmu di hadapan teman yang lain. sungguh teman semacam ini membuat dirimu merasa engkau tidak cukup baik untuk dihargai dan dicintai. padahal, mungkin merekalah yang tidak cukup berharga untuk menerima cinta dan ketulusan darimu.

walaupun tidak banyak, saya memiliki teman-teman yang saya bisa rasakan ketulusan dan cintanya kepada saya. dan sebagai orang yang bertipe #infj saya memang tidak menilai teman dari kuantitas, namun dari kualitasnya. sedikit dalam jumlah, namun tulus dalam interaksi cukuplah bagi saya.

beberapa waktu terakhir, saya juga mulai bisa membatasi interaksi dengan teman-teman yang menggerogoti energi saya, menggosip di belakang saya, dan membenci saya diam-diam (you’ll understand this if you’re also an #infj, we can ‘smell’ hatred and also pure hearts instinctive and intuitively). saya tidak membenci atau memusuhi mereka, tapi sekedar membatasi diri untuk tidak membicarakan hal-hal penting dalam hidup saya dengan mereka. saya sadar, mengharapkan semua orang akan menyukai kita adalah hal yang mustahil. sama halnya, tidak semua orang juga menyukai mereka yang membenci orang lain. life is a mirror for ourselves anyway.

hasilnya, hidup saya lebih tentram, tenang, dan lebih bermakna. alhamdulillah. semoga selalu demikian adanya. “i’m very content with myself. i’m not looking to compete with anyone. i’m not looking to hate or to hurt. i’m at peace. i hope you are too.”

jum’at dan malam jum’at

Posted on

barusan kepikiran… selain nama-nama hari dalam bahasa indonesia yang diadaptasi dari bahasa arab akibat proses islamisasi yang berlangsung di nusantara selama berabad-abad, ternyata konsep pembagian hari pun berasal dari konsep islam.

hal sederhana yang dapat menjelaskan hal ini adalah cara kita menamai malam-malam sebagai malam ahad (ahad), malam senin (itsnaini), malam selasa (tsalatsa), malam rabu (arba’a), hingga malam sabtu (sab’ah). malam sabtu misalnya, menggambarkan bahwa setelah maghrib di hari jum’at, sudah berganti hari menjadi hari sabtu. karena itulah kita menyebutnya malam sabtu. demikian juga malam jum’at, berawal sejak maghrib di akhir hari kamis.

konsep ini berbeda dengan konsep barat tentang hari, yang berawal dan berakhir pukul 00.00 am di tengah malam. karena itu mereka menyebut malam ahad sebagai saturday night, karena sebelum pukul 12 malam, hari itu masih terhitung hari sabtu.

hal ini sekaligus membuktikan bahwa di balik nama ada konsep dan makna.

😁