apanya yang ngga Indonesia?

Posted on Updated on

“Kamu kok pakaiannya kayak orang Arab gitu? Ngga Indonesia dong…” tanya seorang kawan saya ketika saya iseng menggunakan gamis hitam bordir bunga produksi asli Bangil, hehe…

Tapi untuk menjelaskan bahwa model baju seperti ini banyak diproduksi di Bangil, kainnya mungkin made in China, dan bordirnya mungkin diambil dari pola bunga-bunga vintage a la Eropa… masih banyak hal penting yang harus saya kerjakan…

“Kamu sendiri pakai jeans dan polo shirt itu kayak orang Amerika… kurang Indonesia, hwehehehe” jawab saya sambil bercanda.

“Ya udah, besok saya pakai sarung aja…” katanya pura-pura ngambek.

“Ehem… sarung itu adanya duluan di Yaman lhooo… baru abis itu dibawa ke Indonesia oleh pedagang dan mubaligh dari sana… wkwkwk,”

Mendiskusikan seberapa asli, seberapa lokal, seberapa Indonesia, bukan perkara ringan yang selesai hanya dalam percakapan lima menit yang sambil lalu…

Pinjam-meminjam berbagai kebudayaan adalah hal yang lumrah dalam perkembangan peradaban manusia… Memisah-misahkan mana yang benar asli dan mana yang campuran adalah pekerjaan melelahkan dan kurang menarik minat saya…

Saya bahkan tidak tahu, apakah krupuk dan bakso kegemaran saya benar-benar asli Indonesia ataukah pada suatu masa yang telah lalu, dibawa dan diperkenalkan oleh budaya lain, lalu diterima baik oleh masyarakat kita…

Saya juga tidak tahu, apakah kerudung yang katanya asli Indonesia itu benar-benar asli Indonesia… Sebelum Islam masuk, apakah kerudung dan baju kurung sudah dikenal di masyarakat nusantara…

Apalagi jika perbincangan ini lantas dikaitkan dengan Islam… apakah jilbab itu Islam atau Arab, dst dst tidak lagi menarik untuk saya… Yang jelas, ketika saya memutuskan untuk berjilbab, saya telah dapat membedakan mana yang perintah agama, mana yang sekedar budaya.

Pun ketika saya memakai gamis hitam dari Bangil, saya paham bahwa pada budaya-budaya yang tidak bertentangan dengan agama, ada keluasan kita untuk mengambil dan menggunakannya…

Saya pun paham budaya lokal yang tidak bertentangan dengan agama, bahkan dapat dijadikan norma… Jika banyak pertanyaan tentang apakah gamis hitam Bangil itu bertentangan dengan agama dan norma lokal, saya pikir pertanyaan yg sama juga bisa diterapkan kepada jeans dan polo shirt itu… Kenapa segala sesuatu yang berbau Arab selalu dipertanyakan, sementara yang berbau Barat, Korea, dsb dsb sering ditelan mentah-mentah?🙂

Setidaknya itulah yang saya pahami dari “Memelihara yang lama yang baik, dan menerima yang baru yang lebih baik…” Bukan sekedar lama atau barunya, bukan sini atau sananya, tetapi baik atau buruknyalah yang terpenting…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s