Month: May 2015

sks, beban atau kesempatan belajar?

Posted on

selama mindset belajar masih dianggap beban, selama itu juga kita ngga akan mampu menghasilkan ilmuwan yang mumpuni… yang ada cuma orang2 setengah paham tapi ngerasa udah paham karena udah merasa menempuh sekolah resmi bersistem sks.
gimana ngga, di pendidikan kita, sks aja disebut “beban 2 sks”… secara mindset, oleh para pendidik, belajar disebut beban, apalagi oleh yg dididik.
akibatnya, berasa makin besar sks makin besar bebannya. belajar 24 sks aja berasanya udah kayak beban seberat truk yang membawa batu hehe…

kalo jaman dulu, belajar sama ulama mana kenal beban 2 sks… yg ada sebanyak2nya kita raup ilmu… ngga kenal capek, ngga kenal susah… kecintaan terhadap ilmu membuat capek dan susah ngga dirasa lagi…

sebaiknya, mindset mendasar “belajar sebagai beban” ini diubah dulu… harusnya istilahnya bukan beban, tapi “kesempatan 2 sks”. artinya, kalau satu semester maksimal 24 sks, berarti kesempatan belajar kita cuma 24 sks… dan itu ngga cukup.

kita harus belajar lebih giat di luar kesempatan 24 sks yang diberikan kampus… itu kalau kita benar2 mau jadi “sesuatu”, bukan hanya jadi ordinary people yg belajar dengan cara ordinary.

🙂

apanya yang ngga Indonesia?

Posted on Updated on

“Kamu kok pakaiannya kayak orang Arab gitu? Ngga Indonesia dong…” tanya seorang kawan saya ketika saya iseng menggunakan gamis hitam bordir bunga produksi asli Bangil, hehe…

Tapi untuk menjelaskan bahwa model baju seperti ini banyak diproduksi di Bangil, kainnya mungkin made in China, dan bordirnya mungkin diambil dari pola bunga-bunga vintage a la Eropa… masih banyak hal penting yang harus saya kerjakan…

“Kamu sendiri pakai jeans dan polo shirt itu kayak orang Amerika… kurang Indonesia, hwehehehe” jawab saya sambil bercanda.

“Ya udah, besok saya pakai sarung aja…” katanya pura-pura ngambek.

“Ehem… sarung itu adanya duluan di Yaman lhooo… baru abis itu dibawa ke Indonesia oleh pedagang dan mubaligh dari sana… wkwkwk,”

Mendiskusikan seberapa asli, seberapa lokal, seberapa Indonesia, bukan perkara ringan yang selesai hanya dalam percakapan lima menit yang sambil lalu…

Pinjam-meminjam berbagai kebudayaan adalah hal yang lumrah dalam perkembangan peradaban manusia… Memisah-misahkan mana yang benar asli dan mana yang campuran adalah pekerjaan melelahkan dan kurang menarik minat saya…

Saya bahkan tidak tahu, apakah krupuk dan bakso kegemaran saya benar-benar asli Indonesia ataukah pada suatu masa yang telah lalu, dibawa dan diperkenalkan oleh budaya lain, lalu diterima baik oleh masyarakat kita…

Saya juga tidak tahu, apakah kerudung yang katanya asli Indonesia itu benar-benar asli Indonesia… Sebelum Islam masuk, apakah kerudung dan baju kurung sudah dikenal di masyarakat nusantara…

Apalagi jika perbincangan ini lantas dikaitkan dengan Islam… apakah jilbab itu Islam atau Arab, dst dst tidak lagi menarik untuk saya… Yang jelas, ketika saya memutuskan untuk berjilbab, saya telah dapat membedakan mana yang perintah agama, mana yang sekedar budaya.

Pun ketika saya memakai gamis hitam dari Bangil, saya paham bahwa pada budaya-budaya yang tidak bertentangan dengan agama, ada keluasan kita untuk mengambil dan menggunakannya…

Saya pun paham budaya lokal yang tidak bertentangan dengan agama, bahkan dapat dijadikan norma… Jika banyak pertanyaan tentang apakah gamis hitam Bangil itu bertentangan dengan agama dan norma lokal, saya pikir pertanyaan yg sama juga bisa diterapkan kepada jeans dan polo shirt itu… Kenapa segala sesuatu yang berbau Arab selalu dipertanyakan, sementara yang berbau Barat, Korea, dsb dsb sering ditelan mentah-mentah? 🙂

Setidaknya itulah yang saya pahami dari “Memelihara yang lama yang baik, dan menerima yang baru yang lebih baik…” Bukan sekedar lama atau barunya, bukan sini atau sananya, tetapi baik atau buruknyalah yang terpenting…