Sedikit tentang Kritik

Posted on

Istilah kritik bukanlah merupakan sesuatu yang asing di dalam bidang keilmuan arsitektur. Kritik arsitektur sebagai sebuah kelompok keahlian atau alur keilmuan yang khusus, telah menempati posisi yang penting di dalam struktur keilmuan arsitektur. Setiap institusi pendidikan arsitektur selalu memiliki dosen-dosen yang tergabung di dalam laboratorium atau kelompok penelitian kritik dan teori arsitektur. Demikian pula di dalam kurikulum pendidikan arsitektur, selalu terdapat beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan bidang kritik arsitektur.

Walaupun demikian, karya-karya ilmiah yang dihasilkan oleh kelompok keahlian ini tampaknya lebih banyak diklasifikasikan sebagai karya pemikiran dibandingkan karya penelitian. Menerbitkan buku-buku populer tampaknya lebih mudah dilakukan daripada memasukkan tulisan-tulisan bergenre pemikiran ini ke dalam jurnal-jurnal penelitian yang lebih ketat mengawasi metode ilmiah dalam penulisan. Padahal, setiap penelitian ilmiah sedikit banyak juga mengandung kritik dalam pengertian yang lebih luas.

Secara umum, kata kritik itu sendiri dimaknai sebagai komentar terhadap sesuatu yang kerap kali mengandung unsur emosional dan sangat subjektif. Di dalam kamus Merriam-Webster, salah satu penjelasan mengenai makna critic adalah “one given to harsh or captious judgment” (Merriam-Webster Inc., 2012). Criticism dimaknai pula sebagai “the act of criticizing usually unfavorably” (Merriam-Webster Inc., 2012). Sejalan dengan pemaknaan tersebut, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) juga memaknai kata kritik sebagai “kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya” (KBBI, 2008).

Kecenderungan memaknai kritik sebagai sesuatu yang negatif tersebut, menurut Prof. RC. Kwant di dalam bukunya “Manusia dan Kritik”, dapat dipahami karena jika sesuatu memenuhi norma tertentu, manusia cenderung menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa terjadi dan tak perlu dikomentari. Sebaliknya, jika sesuatu dianggap tidak memenuhi norma tertentu, hal tersebut akan menarik perhatian dan mengundang berbagai komentar atau penilaian (Kwant, 1986: 19). Karena kesannya yang intimidatif dan menyerang itulah, banyak orang merasa kurang nyaman mendengar kata kritik, terlebih lagi menjadi sasaran kritik.

Lebih jauh, pemaknaan negatif terhadap kritik juga disebabkan oleh adanya kecenderungan pembuktian untuk memperkuat opini yang terkadang tak memenuhi standar validitas pembuktian ilmiah. Faktor kepakaran biasanya juga lebih menentukan apakah kritik tersebut diterima secara luas atau tidak, dibandingkan dengan kematangan metode dan kekuatan bukti-bukti yang dipaparkan untuk memperkuat sebuah kritik. Selera pribadi pakar cukup banyak pula mempengaruhi penilaian terhadap suatu karya. Keberadaan para pakar sebagai kritikus (critics) yang telah terkenal di Amerika dan Eropa bahkan dapat memberikan dampak positif maupun negatif yang sangat besar terhadap sebuah restoran, rumah mode, atau sebuah firma arsitektur, akibat kritik yang mereka lakukan. Walaupun demikian, kita masih jarang menemukan tren semacam itu di Indonesia. Kritik yang dilakukan terhadap karya-karya populer di negeri ini masih terbatas pada bentuk-bentuk apresiatif yang hanya memberikan dampak positif terhadap objek yang dikritik.

Dari penjelasan awal ini, dapat disimpulkan bahwa kritik dianggap sebagai sesuatu yang cukup menyeramkan, bahkan di bidang akademis sekalipun. Padahal, pemahaman yang lebih baik terhadap kritik,terutama kritik arsitektur, dapat memberikan manfaat kepada para akademisi untuk dapat menghasilkan karya yang lebih baik dan bertanggung jawab. Salah satu bentuk pemanfaatan dari pengetahuan tentang berbagai metode kritik ini adalah dengan mengaplikasikannya di dalam analisis penelitian kualitatif di bidang arsitektur.

Di berbagai aspek dunia pendidikan arsitektur selama ini, kritik sebenarnya telah mewujud dalam berbagai bentuk yang terkadang tidak disadari oleh si pelaku kritik itu sendiri. Contoh yang paling mudah terlihat adalah para dosen yang melakukan penilaian terhadap karya mahasiswa berdasarkan serangkaian standar dan norma. Namun, setiap diskusi mengenai sebuah karya arsitektur di kelas ataupun di luar kelas sesungguhnya juga memberikan ruang bagi bentuk-bentuk kritik yang diungkapkan secara verbal dan spontan. Berbagai tanggapan mahasiswa saat melihat kondisi tapak dan melakukan analisis terhadapnya pun sesungguhnya mewujud menjadi kritik yang diungkapkan melalui sketsa dan gambar terukur.

Pengertian Kritik
Kata kritik berasal dari bahasa Yunani, “krinein” yang artinya memisahkan atau memerinci (Kwant, 1986: 12). Pengertian secara etimologis ini sebenarnya menyediakan dasar pemaknaan yang lebih luas terhadap kritik dibandingkan dengan pengertian kritik yang secara umum hanya dipahami sebagai penilaian terhadap suatu objek atau karya. Kemampuan memisahkan atau menyusun kategori-kategori dan klasifikasi-klasifikasi yang bersifat ilmiah termasuk di dalam pengertian di atas. Demikian pula kemampuan memerinci atau menganalisis, yaitu memeriksa secara detil bagian per bagian untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh terhadap sesuatu, juga termasuk di dalam pengertian kritik pada awalnya. Pada titik ini, menurut Kwant, terdapat kesatuan antara kritik dan ilmu. Kritik akan membuahkan ilmu, dan ilmu itu sendiri lahir dari kritik (Kwant, 1986: 32).

Secara lebih terperinci, Ducasse menjelaskan bahwa kritik sesungguhnya merupakan penyelidikan dan penjelasan saintifik dari teks, asal-muasal, karakter, struktur, teknik, sejarah dan konteks kesejarahan, dan sebagainya, dari sebuah karya literatur atau jenis seni lainnya (Ducasse dalam Attoe, 1978: 4). Secara terminologis, pengertian kritik seperti yang telah diungkapkan Attoe tersebut memberikan pemahaman yang lebih terang mengenai adanya bobot ilmiah yang sangat besar di dalam sebuah kritik. Bahkan, dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa setiap penelitian ilmiah sesungguhnya mengandung unsur kritik terhadap hal-hal yang diteliti. Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Saut Situmorang, seorang seniman Indonesia, di dalam sebuah wawancara. Situmorang berpendapat bahwa kritik bukanlah sekedar menceritakan kembali sebuah karya, melainkan menganalisis karya berdasarkan sebuah hipotesis yang dibuktikan melalui pembahasan mengenai aspek-aspek tertentu di dalam karya tersebut (Situmorang, 2010).

Lebih jauh, menurut Attoe pemahaman yang lebih baik terhadap kritik dapat diperoleh bila kritik dilihat sebagai perilaku, bukan semata-mata sebagai penilaian (Attoe, 1978: 2). Karena itu, hal yang pertama kali harus diperhatikan di dalam kritik bukanlah objek yang dikritisi, melainkan kritikusnya itu sendiri. Pandangan si kritikus terhadap kritik tidak boleh terbatas pada pengertian kritik yang negatif seperti yang umum dipahami masyarakat. Selain itu, ia juga harus mampu menempatkan diri sebagai seseorang yang bertujuan untuk memberikan dampak yang lebih baik melalui kritik-kritik yang disampaikannya. Karenanya, ia harus pula menyadari bias-bias yang ada di dalam pandangan, perasaan, dan selera pribadinya sendiri (Attoe, 1978: 8).

Daftar Pustaka
Attoe, Wayne. 1978. Architecture and Critical Imagination. New York: John Wiley & Sons
Kwant, RC. 1986. Manusia dan Kritik. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). 2008. Aplikasi KBBI. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
Merriam-Webster Dictionary. 2012. Application © 2012 Merriam-Webster, Inc. University of Cambridge
Situmorang, Saut. 2010. Kegundahan Sastra Saut Situmorang. Diakses dari http://sastra-indonesia.com/2010/10/kegundahan-sastra-saut-situmorang/  pada tanggal 1 Desember 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s