Month: October 2014

Saya dan Buku ini…

Posted on Updated on

Sejak awal membaca buku “Risalah untuk Kaum Muslimin” yang ditulis Prof. Syed Naquib al-Attas, saya telah jatuh hati pada tutur bahasa beliau yang sastrawi, indah, lembut, namun tetap sederhana dalam mengungkapkan kebenaran…

Kalimat demi kalimatnya seperti dituliskan dari hati, dengan penuh rasa, dan penuh harap agar ilmu itu tersingkap pula bagi banyak orang yang membaca… Dan saya semakin percaya, apa yang berasal dari hati, akan menyentuh hati…

Terkadang ada satu dua halaman yang membuat saya ingin menangis karena tak kunjung paham… ada pula halaman-halaman yang membuat saya ingin menangis karena menemukan jawaban yang tiba-tiba muncul tentang hal-hal yang pernah saya pertanyakan dalam hati… Some other times, it feels like a strange awakening, “Where have i been all my life not knowing these important things?”

Saya merasakan keindahan ilmu yang tidak pernah saya rasakan dari pengetahuan yang selama ini saya peroleh dari jenjang-jenjang kuliah saya… Saya menemukan ilmu yang menentramkan di tengah berbagai pengetahuan dan cara pandang yang membingungkan… Saya menemukan ilmu yang mengutuhkan jiwa manusia, bukan yang membelah dan memisah jiwa manusia dari jasadnya…

Semoga berkah dan rahmat Allah untuk beliau dan semua ulama’ ilmuwan yang jadi jalan bagi banyak orang menemukan keindahan, ketentraman, dan kebenaran di dalam ilmu…

Advertisements

Sedikit tentang Kritik

Posted on

Istilah kritik bukanlah merupakan sesuatu yang asing di dalam bidang keilmuan arsitektur. Kritik arsitektur sebagai sebuah kelompok keahlian atau alur keilmuan yang khusus, telah menempati posisi yang penting di dalam struktur keilmuan arsitektur. Setiap institusi pendidikan arsitektur selalu memiliki dosen-dosen yang tergabung di dalam laboratorium atau kelompok penelitian kritik dan teori arsitektur. Demikian pula di dalam kurikulum pendidikan arsitektur, selalu terdapat beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan bidang kritik arsitektur.

Read the rest of this entry »

Barangsiapa mengenal dirinya, mengenal Tuhannya

Posted on Updated on

“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya”. Ungkapan ini menjelaskan tentang salah satu bagian di dalam ilmu pengenalan. Menurut Prof. Al-Attas, ilmu pengenalan adalah ilmu yang utama di dalam paham Islam mengenai perkara ilmu. Ilmu ini memiliki pertalian yang erat dengan akhlak dan budi pekerti. Nilai kebenaran yang ada padanya lebih daripada nilai kebenaran yang ada ilmu pengetahuan umumnya.

Sebagaimana arti kata “kenal” dan “mengenal” yang jauh lebih mendalam dibandingkan kata “tahu”, ilmu pengenalan tidak akan dapat dicapai melainkan diberi oleh yang dikenali kepada yang ingin mengenali. Sedikit atau banyaknya pun tergantung kepada pemberian dari yang ingin dikenali tersebut. Belumlah seseorang dapat dikatakan mengenali seseorang lainnya, melainkan sesudah ia dapat berhubungan langsung dengannya, menjadi dekat dengannya, dan bersahabat akrab dengan akhlak yang baik dengannya dalam jangka waktu yang tak sebentar.

Ilmu pengenalan adalah ilmu pemberian Allah yang datang sebagai ilham dan kashaf, yaitu pernyataan, penerangan, pembukaan rahasia mengenai hakikat yang tadinya terselubung, tersamar dalam gelap, tertutup dari penglihatan akal dan kalbu. Ilmu ini merujuk pada hakikat kebenaran, kepada keyakinan, dan karena itulah ia terikat erat dengan akhlak dan budi pekerti.

Karena itu, ungkapan “Barangsiapa mengenal dirinya, mengenal Tuhannya” di atas, bukanlah dimaksudkan bahwa dirinya itu Tuhan, melainkan merupakan pengibaratan bahwa ketika seseorang benar-benar mengenal dirinya, maka pengenalan akan dirinya sebagai makhluk Tuhan yang serba terbatas itu akan membawanya kepada pengenalan akan Tuhannya, karena dirinya yang asali memang sudah mengenal Tuhannya dalam persaksian, “Qaalu bala syahidna”.

diringkas dari Risalah untuk Kaum Muslimin, Prof. SMN Al-Attas, hal. 53-55

Makna Ilmu menurut Prof. SMN al-Attas

Posted on Updated on

Ilmu adalah suatu proses atau gerak daya memperoleh pengetahuan dan merujuk kepada suatu sifat yang berada pada sesuatu (insan) yang hidup, yang membolehkan diri yang mengetahui itu mengetahui yang diketahui.

Ilmu juga adalah pengenalan atau ma’rifat terhadap yang dikenali sebagaimana adanya. Pengenalan ini pengenalan yang yakin tentang kebenarannya, dan merujuk kepada hikmah. Maka ilmu adalah sesuatu yang meyakinkan dan memahamkan dengan nyata. Mengenali dan mengetahui sesuatu itu adalah mengenali dan mengetahui sebab-sebab wujud dan keadaan sesuatu yang dikenali dan diketahui. Read the rest of this entry »

di manakah aku berada?

Posted on Updated on

Renungan indah dan mendalam dari Ali bin Abi Thalib radhiaLlahu anhu:

Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan.

Keyakinan hanya tinggal pemikiran yang tidak berbekas dalam perbuatan.

Ada orang baik tapi tidak berakal, ada orang berakal tapi tidak beriman.

Ada yang berlisan fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyu’ namun sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis, ada ahli maksiat tapi rendah hati bagaikan sufi.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, ada yang banyak menangis karena kufur nikmat.

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat, ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.

Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan, ada juga pezina yang tampil sebagai figur panutan.

Ada yang punya ilmu tapi tidak paham, ada yang paham ilmu tapi tidak mengamalkannya.

Ada yang pintar tapi tukang membodohi umat, ada yang bodoh malah sok pintar.

Ada yang beragama tapi tidak berakhlaq, ada yang berakhlaq tapi tidak bertuhan.

Lalu di antara semua itu, di mana aku berada?