antara ilmuwan dan ulama

Posted on

Belajar agama, knowledge dan recognition should be followed by acknowledgement dan submission. Kenal dan tahu saja tidak cukup. Percaya dan patuh.

Knowledge tanpa submission, contohnya iblis. Ia bukan makhluk Tuhan yg atheis, bukan pula agnostik. Ia tahu dan kenal, know and recognize. Tetapi ia sombong dan enggan mengakui kebenaran.

Karena itu, walaupun akar katanya sama, saat ini istilah ulama’ beda jauh maknanya dengan ilmuwan. Ulama’ adalah orang yang tahu dan karenanya ia takut pada Tuhannya. Ulama’ melibatkan ilmu dan amal, tahu dan taat.

Di lain pihak, ilmuwan blm tentu beramal dan taat, karena yg ditekankan pada istilah ini hanya aspek tahu-nya saja, amal belum tentu.

Idealnya, ilmuwan pun harus seperti ulama’. Realitanya, banyak yang tidak demikian. Ulama’ yang tidak beramal dengan ilmunya pun tidak bisa disebut ulama’ lagi. Bahkan, ilmuwan ada yang selalu membangkang dan membantah, takabbur dgn ilmunya, mengaburkan kebenaran dengan kemampuannya.

Sad but true…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s