Month: August 2014

Look who’s dead

Posted on Updated on

Nietzsche once said, “God is dead”
Well look who’s dead now…

Now these little kids say, “God is rotten”
We’ll see who will be rotten then…

Advertisements

bedanya moral dan akhlak

Posted on Updated on

Walaupun sama-sama mengajarkan nilai-nilai kebaikan, namun moral dan akhlak itu berbeda. Dilihat dari asal katanya, kedua istilah ini berasal dari dua sumber dan bahasa yang berbeda. Kedua kata ini sama-sama diserap ke dalam bahasa Indonesia karena keduanya mewakili konsep yang berbeda dari bahasa dan peradaban asalnya.

Kata moral berasal dari bahasa Inggris abad pertengahan, yang dapat ditarik asalnya dari bahasa Latin “moralis”, “mor”. Moral dalam bahasa Inggris berarti “expressing a conception of right behavior or principles of right and wrong in behavior”, “moral implies conformity to established sanctioned codes or accepted notions of right and wrong; the basic moral values of a community” (Merriam-Webster Dictionary).

Dari penjelasan di atas, kita dapat memahami bahwa nilai moral bersumber dari pandangan masyarakat manusia terhadap kebaikan. Nilai-nilai yang disepakati sebagai kebaikan ditegakkan, dan nilai-nilai yang disepakati sebagai keburukan ditinggalkan.

Read the rest of this entry »

Pandangan Hidup Muslim

Posted on

Teguh hubungan ke langit, kepada Tuhan. Teguh hubungan di bumi, sesama insan.

Akal untuk memperkuat iman beragama, dan agama untuk memberi arah mulia dari akal.

Ilmu baru sempurna kalau beragama. Agama baru cukup kalau berilmu. Keduanya membuka alam dari seginya masing-masing.

Tujuan dari agama yang benar dan ilmu yang benar adalah satu, yaitu menuju Yang Maha Benar.

 

~HAMKA, Pandangan Hidup Muslim

bangsa yang jauh dari Tuhannya

Posted on

sungguh malang bangsa yang menjauhkan diri dari Tuhan dan wahyu-Nya. ia adalah bangsa yang mati, namun tak sadar bahwa ia mati.

~M. Iqbal

antara ilmuwan dan ulama

Posted on

Belajar agama, knowledge dan recognition should be followed by acknowledgement dan submission. Kenal dan tahu saja tidak cukup. Percaya dan patuh.

Knowledge tanpa submission, contohnya iblis. Ia bukan makhluk Tuhan yg atheis, bukan pula agnostik. Ia tahu dan kenal, know and recognize. Tetapi ia sombong dan enggan mengakui kebenaran.

Karena itu, walaupun akar katanya sama, saat ini istilah ulama’ beda jauh maknanya dengan ilmuwan. Ulama’ adalah orang yang tahu dan karenanya ia takut pada Tuhannya. Ulama’ melibatkan ilmu dan amal, tahu dan taat.

Di lain pihak, ilmuwan blm tentu beramal dan taat, karena yg ditekankan pada istilah ini hanya aspek tahu-nya saja, amal belum tentu.

Idealnya, ilmuwan pun harus seperti ulama’. Realitanya, banyak yang tidak demikian. Ulama’ yang tidak beramal dengan ilmunya pun tidak bisa disebut ulama’ lagi. Bahkan, ilmuwan ada yang selalu membangkang dan membantah, takabbur dgn ilmunya, mengaburkan kebenaran dengan kemampuannya.

Sad but true…

 

Nasehat Hasan al-Bashri

Posted on

Al-Imam Hasan al-Bashri berkata,

Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasihati kalian, dan bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian.

Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya.

Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat.

Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya.

Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan.

Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita. Bertaqwalah kalian semua kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. *

(Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal.185-187)