legawa dan jumawa

Posted on Updated on

“sebaiknya anda legawa dan menyerahkan kursi kekuasaan pada lawan anda…”

what the heaven! pernyataan-pernyataan sejenis ini bertebaran beberapa waktu terakhir di media sosial dan media massa jauh sebelum pengumuman resmi KPU tanggal 22 Juli nanti… pernyataan yang tampaknya santun dan sopan itu bukan dari rakyat jelata, tapi dari pesohor2 negeri yang konon berpendidikan tinggi…

imo, menyuruh orang lain untuk legawa dengan cara yang jumawa semacam ini menunjukkan adanya paradoks kepribadian akut pencetusnya…

sekarang, bayangkanlah jika seorang petinju dibisiki, “sudahlah, mengalah saja,” sebelum pertandingan berakhir. bayangkan, seorang anak dibisiki oleh temannya, “santai aja, biasanya juga nilaimu pas-pasan,” setengah jam sebelum bel ujian berakhir…

sebagai seorang guru, saya tahu persis bahwa ucapan-ucapan saya bisa saja tanpa sadar menyebabkan mahasiswa merasa gagal bahkan sebelum semester berakhir… jika itu terjadi, pada hakikatnya bukan mahasiswa itu yang gagal, tetapi saya sendiri sebagai guru mereka…

membuat seseorang merasa kalah sebelum pertandingan merupakan cacat etika yang sangat fatal… salah satu bentuk bully dan kekerasan verbal terburuk walaupun disampaikan dengan balutan kata-kata yang santun untuk menutupi sarkasme di baliknya…

karena itu… terkadang pura-pura tuli itu penting, terutama terhadap suara-suara sumbang yang tidak layak dan tidak enak dan tidak perlu didengar… hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s