Month: July 2014

legawa dan jumawa

Posted on Updated on

“sebaiknya anda legawa dan menyerahkan kursi kekuasaan pada lawan anda…”

what the heaven! pernyataan-pernyataan sejenis ini bertebaran beberapa waktu terakhir di media sosial dan media massa jauh sebelum pengumuman resmi KPU tanggal 22 Juli nanti… pernyataan yang tampaknya santun dan sopan itu bukan dari rakyat jelata, tapi dari pesohor2 negeri yang konon berpendidikan tinggi…

imo, menyuruh orang lain untuk legawa dengan cara yang jumawa semacam ini menunjukkan adanya paradoks kepribadian akut pencetusnya…

sekarang, bayangkanlah jika seorang petinju dibisiki, “sudahlah, mengalah saja,” sebelum pertandingan berakhir. bayangkan, seorang anak dibisiki oleh temannya, “santai aja, biasanya juga nilaimu pas-pasan,” setengah jam sebelum bel ujian berakhir…

sebagai seorang guru, saya tahu persis bahwa ucapan-ucapan saya bisa saja tanpa sadar menyebabkan mahasiswa merasa gagal bahkan sebelum semester berakhir… jika itu terjadi, pada hakikatnya bukan mahasiswa itu yang gagal, tetapi saya sendiri sebagai guru mereka…

membuat seseorang merasa kalah sebelum pertandingan merupakan cacat etika yang sangat fatal… salah satu bentuk bully dan kekerasan verbal terburuk walaupun disampaikan dengan balutan kata-kata yang santun untuk menutupi sarkasme di baliknya…

karena itu… terkadang pura-pura tuli itu penting, terutama terhadap suara-suara sumbang yang tidak layak dan tidak enak dan tidak perlu didengar… hehehe.

Advertisements

in a discussion…

Posted on

if you are brave enough to point out your opinion to other people, you must also be brave enough to see others pointing out their opinion…

awal mula dan akhirnya…

Posted on Updated on

pada awalnya, sejak permulaan proses pemilihan beberapa waktu lalu, saya telah menekadkan diri untuk menjadi pemilih yang rasional. setiap berita positive dan negative campaign yang saya temukan dari kedua pihak saya cermati, link-link rujukan di dalamnya saya telusuri, berita-berita sepuluh lima belas tahun lalu saya cari, debat-debat capres cawapres saya jabani…

sampai satu saat saya temukan sebuah opini seseorang, entah tokoh, politisi, timses, atau sekedar simpatisan, tentang para kyai khos yang disebut sebagai kurang wawasan karena menentukan pilihan berdasarkan sholat istikharoh… hati saya terusik ketika para kyai sepuh diperlakukan seperti itu… kurangnya adab membuat orang tersebut mampu berpikir sedangkal itu terhadap para ulama’.

dalam keterbatasan alam pikir saya… saya masih bisa meyakini bahwa para kyai khos dan para ulama pewaris para nabi itu memiliki ketajaman mata hati yang tidak dapat disetarakan dengan pemikiran rasional semata… dan sholat istikharoh merupakan cara jitu mencari jawaban dari setiap permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan hanya mengandalkan pemikiran rasional belaka…

pada akhirnya, saya memilih untuk tidak sekedar mencukupkan diri pada cara pertama saya… rasio penting namun bukan segalanya… terlalu banyak hal yang tak kita ketahui dibandingkan yang kita ketahui…

pada akhirnya, saya memutuskan untuk merendahkan kepala bersujud mohon petunjuk kepada Allah, memohon cahaya untuk mampu memilih yang terbaik di mata-Nya, bukan sekedar di mata saya… segala konsekuensi dari pilihan yang lahir dari sana pun saya kembalikan kepada-Nya, bukan kepada kemampuan diri saya sendiri…

perbedaan pilihan yang lahir dari ikhtiyar sholat istikharoh pun saya kembalikan pada-Nya… mungkin para kyai dan ulama’ yang memutuskan untuk berada di kubu yang berbeda itu nanti jadi jalan penyelamat bangsa, karena mereka memiliki akses untuk menasehati pemimpin itu jika kelak ia terpilih…

pada akhirnya, semua akan kembali kepada-Nya, tidak hanya saat mati kelak, namun juga di setiap saat di dalam hidup kita…

juli 2014, ramadhan 1435

yang kau yakini

Posted on Updated on

satu pelajaran kudapatkan hari ini
kalau kau mengatakan sesuatu dari hatimu
kalau kau menyuarakan sesuatu yang kau yakini,
kau tak akan memerlukan contekan ataupun catatan… :’)

doaku hari ini…

Posted on Updated on

semoga semua yang terbaik
di mata-Nya,
kupahami pula sebagai
segala yang terbaik
untuk hidupku…

Dan Aku pun, Masukkan dalam Daftarmu!

Posted on

Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu …….!

Puisi ini ditulis Hamka di Ruang Sidang Konstituante pada 13 November 1957, setelah mendengar pidato Moh. Natsir di Majlis Konstituante