dalam diam dan dalam doa

Posted on Updated on

Setiap keluarga punya ceritanya sendiri-sendiri. Ada banyak cerita bahagia, tapi tak jarang tersimpan juga cerita sedih. Setiap keluarga tumbuh bersama dan menua bersama. Rangkaian hari yang mereka punya, jalin-menjalin membentuk semacam sintesis. Tentu, lebih dari sekedar kumpulan cerpen yang tak berhubungan satu sama lain. Sampai pada satu saat, ketika salah satu dari mereka pergi, sintesis itu muncul dalam bentuk kehilangan yang amat sangat. Kenangan pun terangkum dalam ungkapan-ungkapan singkat, dan air mata. We never knew what we’ve got ’till it’s gone..

Begitu juga keluarga tempat saya tinggal selama beberapa bulan terakhir ini. Setahun terakhir, dua anggota keluarga mereka meninggal dunia. Seorang kakek, dan seorang ibu dari tiga anak yang masih kecil. Setelah keduanya berpulang, ketiga anak yang masih duduk di bangku SD itu diasuh oleh nenek dan tante mereka yang biasa mereka panggil bunda. Sementara ayah mereka harus bekerja di lain kota dan hanya pulang seminggu atau dua minggu sekali.

Sebenarnya, tidak banyak yang saya ketahui tentang mereka. Hanya sepenggal cerita tadi dan suara riang ketiga anak itu yang sering saya dengar dari kamar kos saya. Tetapi ada sesuatu yang baru saya sadari, telah saya abaikan.

Kemarin, ketika saya baru datang dari kampus, tanpa sengaja saya bertatapan dengan Tia, si sulung yang kalem dan ramah. Seperti biasa, Tia tersenyum dan menyapa, “Kak,” dan saya bertanya, “Tia mau jalan-jalan yaa?”. Ia menjawab dengan anggukan malu-malu sambil berlalu dari hadapan saya. Entah kenapa saya mendapati kesedihan dan kesepian di mata anak kecil itu. Saya tahu, ia tentu rindu sosok ibu yang telah meninggalkannya. Tiba-tiba saya ingin sekali menjadi sahabat dan kakak untuknya. Selama ini, saya tak mampu membaca keinginan itu dari matanya. Baru kemarin, saat saya menatap benar-benar mata gadis kecil itu, saya menangkap tawaran persahabatan darinya.

Dan saat ini… saya hanya terpaku, teringat tiga hari lagi saya akan pindah dari rumah ini ke tempat kos yang baru. Setidaknya, dengan menulis cerita ini, saya berharap sedikit beban terlepas dari dada saya… Setidaknya, jika suatu saat saya membaca lagi cerita ini, saya akan mengingatnya lagi. Setidaknya, saya dapat membawanya dalam doa…

Tia, maafin kakak belum sempat jadi teman Tia ya… Biar kakak jadi sahabat Tia dalam diam dan dalam doa… :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s