Menggali Nilai-Nilai Peradaban dari Arsitektur Awal Masjid Nabawi

Posted on

From the perspective of its architectural style, there is not quite much to say about the early building of Masjid Nabawi in Madinah al-Munawarah. Even so, it doesn’t mean that there’s no lesson at all from its past simplicity for our future complexity. This paper aims to discuss the architecture of Masjid Nabawi, not from the spirit of historicity, nor the revivalistic enthusiasm for the memories of the past. Else, this paper is more intended to explore and appreciate the importance of Masjid Nabawi in giving us lessons in architecture and islamic civilization, inspite of its simple architectural form. Some applications of islamic basic values that is relevant for architecture nowadays can be traced from the early architecture of Masjid Nabawi. Moreover, an important lesson about the basis of islamic civilization which were derived from the unity of iman (faith), ilmu (knowledge), and amal (deeds) can also be studied from Masjid Nabawi as the early locus of islamic civilization.

Dari segi gaya arsitektural, tidak banyak yang dapat dibahas dari arsitektur Masjid Nabawi di masa-masa awal pembangunannya oleh Nabi Muhammad saw beserta sahabat-sahabat beliau. Namun demikian, bukan berarti bentuk bangunan Masjid Nabawi yang sangat sederhana itu tidak menyampaikan pelajaran berharga apapun bagi kaum muslim yang hidup di masa kini. Tulisan ini bermaksud membahas arsitektur Masjid Nabawi, bukan dari perspektif historisitasnya maupun dari semangat revivalisme terhadap bentuk-bentuk masa lalu. Tulisan ini lebih ditujukan sebagai bentuk eksplorasi dan apresiasi mengenai arti penting Masjid Nabawi dalam memberikan pelajaran di bidang arsitektur di balik seluruh kesederhanaan bentuknya. Nilai-nilai mendasar di dalam Islam yang masih sangat relevan bagi proses berarsitektur di masa kini dan masa depan dapat kita temukan dari arsitektur masjid ini. Lebih jauh, pelajaran tentang asas peradaban Islam yang meliputi kesatuan iman, ilmu, dan amal dapat pula kita temukan di lokus awal peradaban Islam dan kaum muslim ini.

 

Pendahuluan

Masjid Nabawi yang terletak di Madinah al-Munawarah merupakan salah satu di antara tiga masjid yang memiliki banyak keutamaan dan mengunjunginya bernilai lebih bagi kaum muslim, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha di Palestina. Melaksanakan shalat di Masjid Nabawi bahkan merupakan satu keutamaan tersendiri dan 1000 kali lebih baik daripada shalat di masjid-masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram (HR. Bukhari – Muslim). Ziarah ke Masjid Nabawi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan ibadah haji setiap tahunnya. Selain itu, di banyak hadits juga disebutkan berbagai keutamaan Masjid Nabawi dan Kota Madinah, yaitu didoakan oleh Nabi saw menjadi negeri yang diberkahi dan dilindungi, tidak akan dimasuki oleh Dajjal, adanya sebuah taman (raudhah) dari taman-taman surga yang terletak di antara rumah dan mimbar Nabi saw, dan sebagainya.

Saat ini, Masjid Nabawi telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dan menjadi salah satu masjid terluas di dunia yang mampu menampung jutaan jamaah. Selain diperluas secara intensif berulang kali, renovasi bangunan masjid pun dilakukan secara besar-besaran sehingga jika kita melihat Masjid Nabawi saat ini yang tampak adalah kemegahan dan kemewahan arsitekturnya. Kita tidak dapat lagi merasakan suasana kesederhanaan Masjid Nabawi di masa-masa awalnya, saat Nabi Muhammad saw menyebarkan Islam dan membangun peradaban di kota ini.

Secara umum, jika kita mendengar kata peradaban, maka yang terbayang adalah bangunan-bangunan besar semacam Piramida Giza yang menjadi simbol peradaban Mesir Kuno, Taj Mahal yang menjadi simbol keagungan peradaban India, dan bangunan-bangunan monumental sejenis. Sesungguhnya, peradaban suatu bangsa tidaklah semata-mata berbentuk hasil-hasil bentukan fisiknya saja. Selalu ada pemikiran, kepercayaan, agama, ideologi, dan keilmuan yang melatarbelakangi hasil-hasil bentukan fisik yang kasatmata itu. Bahkan hal-hal yang tak kasatmata itulah yang justru sangat menentukan bangkit dan jatuhnya sebuah peradaban di muka bumi.

Demikian pula halnya dengan peradaban Islam yang tidak hanya diukur melalui kemegahan masjid-masjid dan istana-istananya, dimana sejarah menunjukkan istana-istana megah itu justru dibangun di awal masa kejatuhan khalifah-khalifah muslim yang mulai meninggalkan kesederhanaan yang dicontohkan para pendahulunya dan silau dengan kemegahan gaya hidup yang dicontohkan di Barat. Alih-alih menjadi simbol kejayaan Islam, istana-istana itu justru menjadi penanda jauhnya kaum muslim dari ajaran agamanya yang di kemudian hari menjadi sebab keruntuhan internal mereka sendiri.

Secara konseptual, peradaban Islam merupakan gambaran internal bagaimana keimanan atau keyakinan dalam Islam yang rasional dan berdimensi ilmu itu memancarkan ilmu pengetahuan dan mengejawantah dalam bentuk amal-amal (Zarkasyi, 2011: 12). Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibnu Khaldun, adalah berkembangnya ilmu pengetahuan. Demikian pula maju dan mundurnya sebuah peradaban juga berkaitan dengan maju dan mundurnya ilmu pengetahuan (Zarkasyi, 2011: 27). Di dalam Islam, terdapat kesatuan antara iman, ilmu, dan amal di dalam bangunan peradaban Islam, sebagaimana Islam itu sendiri sebagai din memiliki cakupan yang sangat luas di setiap aspek kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi kaum muslim. Karenanya, para sarjana muslim pun menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban dan menolak agama adalah kebiadaban (Zarkasyi, 2011: 28).

Selanjutnya, di dalam diskursus peradaban Islam, periode Madinah sebagai salah satu periode penting dalam proses pembentukan bangunan peradaban Islam merupakan salah satu pokok bahasan yang sangat menarik untuk dicermati dan didiskusikan. Hal ini dikarenakan pada periode ini wahyu-wahyu yang diturunkan berkaitan dengan kehidupan komunitas muslim dan hukum-hukum yang mengatur hubungan individu, keluarga, dan masyarakat, sebagai sebuah keberlanjutan dari periode Makkah yang menekankan pada prinsip-prinsip dasar akidah atau teologi Islam (Zarkasyi, 2011: 20). Walaupun demikian, pembahasan di dalam makalah ini akan dikhususkan pada upaya menggali hikmah di balik kesederhanaan arsitektur awal Masjid Nabawi sebagai sebuah lokus peradaban Islam di Madinah pada masa Nabi Muhammad saw.

 

Sejarah Awal Masjid Nabawi

Masjid Nabawi merupakan bangunan pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw sesampainya beliau di Kota Madinah. Sebelum sampai di Kota Madinah yang dulunya bernama Yastrib, Nabi terlebih dahulu singgah di Desa Quba yang berjarak dua mil dari pusat kota Madinah. Di desa ini, Nabi saw juga membangun sebuah masjid yang dinamai Masjid Quba. Masjid Quba diabadikan di dalam al-Qur’an Surat at-Taubah ayat 108 sebagai masjid yang didirikan atas dasar takwa. Selama bermukim di Madinah, Nabi Muhammad saw mengunjungi Masjid Quba setiap hari sabtu dan shalat dua rakaat di dalamnya. Menurut sebuah riwayat, Masjid Quba merupakan masjid yang paling tepat arah kiblatnya karena Malaikat Jibril as sendirilah yang menunjukkan arah kiblat masjid ini (Muhallawi, 2005: 217).

Pemilihan lokasi Masjid Nabawi pertama kalinya merupakan ilham dari Allah swt, berdasarkan ucapan Nabi Muhammad saw, “Biarkanlah untaku ini, sesungguhnya ia berjalan sesuai ilham dari Allah swt.” Unta Rasulullah saw berhenti tepat di tanah kosong milik dua orang anak yatim yang biasa digunakan untuk menjemur kurma. Di antara hikmah pemilihan lokasi ini adalah terhindarnya kaum Anshar dari kemungkinan perselisihan akibat keinginan mereka agar Nabi Muhammad saw ber-tempat tinggal di rumah mereka. Nabi saw lalu membeli tanah tersebut seharga sepuluh dinar emas yang berasal dari harta Abu Bakar ra. Setelah itu, Nabi saw beserta kaum Muhajirin dan Anshar bahu-membahu membangun masjid dan rumah bagi istri-istri beliau. Menurut Dr. Su’ad Maher, dalam membangun masjid ini Nabi dibantu oleh seorang arsitek dari Hadramaut yang memahami seluk-beluk membangun (Muhallawi, 2005: 226). Nabi Muhammad saw sendiri ikut serta mengangkut batu-batu yang digunakan sebagai bahan bangunan.

 

Pelajaran Berharga dari Masjid Nabawi Masa Lalu untuk Arsitektur Masa Kini

Dari segi bentuk dan gaya arsitekturnya, para sejarawan dan kritikus Barat menyebut arsitektur Masjid Nabawi dan masjid-masjid di awal perkembangan Islam sebagai masjid bergaya “hypostyle” (Hillenbrand, 1994: 66). Di dalam Merriam-Webster Dictionary, secara bahasa (etimologis) kata hypostyle sebenarnya berasal dari istilah Yunani, “hypostylos”, dimana hypo– berarti rendah dan stylos berarti pilar. Istilah ini digunakan terhadap masjid-masjid di Jazirah Arab karena bentukan serambinya yang memanjang dan beratap cukup rendah, serta ditopang oleh kolom-kolom yang tak terlalu tinggi. Selanjutnya, penyebutan dalam bahasa Inggris, hypostyle, membuatnya terdengar seperti “gaya rendah” atau “minim gaya”, karena hypo– dalam bahasa Inggris berarti under, below, atau unusually low, sedangkan style berarti gaya.

Masjid-masjid yang dibangun di awal perkembangan Islam, termasuk Masjid Nabawi, memang sangat sederhana dari segi bentuk dan detail arsitekturalnya. Karena itu, gaya masjid-masjid di awal perkembangan Islam ini memang tidak dapat diklasifikasikan sebagai high-style architecture layaknya gaya arsitektur Klasik Romawi-Yunani, Barok, Gotik, atau Renaisans. Hal ini menarik, karena dalam kacamata para seniman Renaisans pun, gaya arsitektur Gotik tidak dianggap sebagai high-style architecture. Istilah “Gothic” mereka sematkan untuk seluruh seni dan arsitektur zaman pertengahan yang mereka setarakan dengan karya Barbarian Goths, atau orang tak berperadaban. Penamaan sebuah gaya di dalam seni dan arsitektur memang sangat tergantung kepada siapa yang memberi nama dan apa pandangan mereka terhadap aliran seni dan arsitektur yang mereka namai itu. Selanjutnya, dalam perkembangan sejarah arsitektur dunia istilah atau terminologi hypostyle kemudian menjadi istilah khas untuk gaya masjid-masjid di Timur Tengah yang memiliki halaman dalam (sahn), selasar beratap (iwan), dan ruang shalat yang ternaungi atap (haram).

Walaupun terlihat sangat sederhana dan hampir “tak bergaya”, namun sesungguhnya dari Masjid Nabawi pada masa awal ini dapat diambil sangat banyak hikmah dan ibrah bagi kaum muslim di masa kini. Namun demikian, pelajaran berharga darinya baru dapat diambil ketika kita tak sekedar melihat dengan mata kepala bentukan arsitektural yang tampak, melainkan melihat dengan mata hati dan keimanan akan adanya nilai-nilai mendasar (basic values) dalam berarsitektur di balik bentuk fisik yang tampak itu. Di antara nilai-nilai mendasar yang dapat kita gali dan temukan dari arsitektur Masjid Nabawi di masa awal ini adalah (1) nilai ketauhidan, (2) nilai pandangan jauh ke depan (visi dunia dan akhirat), (3) nilai kemanfaatan, (4) nilai kesederhanaan (kesahajaan), (5) nilai perlindungan, penghindaran kemudharatan, dan pemberian kemudahan bagi manusia, (6) nilai kepedulian terhadap alam, (7) nilai kesetempatan, dan (8) nilai keindahan. Paparan berikut ini adalah sekelumit dari pelajaran dan hikmah yang dapat kita ambil di balik kesederhanaan Masjid Nabawi di masa Nabi Muhammad saw.

Nilai ketauhidan. Nilai ini merupakan nilai yang mendasari nilai-nilai lainnya dalam berarsitektur. Nilai ini pula yang secara konseptual membedakan konsep arsitektur Islam dengan konsep arsitektur lainnya, walaupun secara fisik hasil arsitektur keduanya tampak tak berbeda. “Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya…” (HR. Bukhari – Muslim). Niat melestarikan alam misalnya, pada tataran aplikatif bisa jadi sama-sama tampil dalam bentuk arsitektur yang hemat energi, namun pada tataran konsep, bagi kaum muslim pemeliharaan alam semesta itu didasari keimanan kepada Allah swt dan keyakinan bahwa Allah swt telah menunjuk manusia sebagai khalifah fil ardhi (pemimpin di bumi) yang bertanggung jawab kepada Allah swt atas segala kegiatan membangunnya dan konsekuensi kegiatan itu di muka bumi. Sebaliknya, bagi kaum yang materialistik pemeliharaan alam semesta itu sekedar didasari pertimbangan untuk memelihara eksistensi manusia itu sendiri di muka bumi.

Pada tataran aplikatif, nilai ketauhidan ini tampak pula dari dihindarinya kemungkinan adanya kesyirikan di setiap proses berarsitektur. Orang-orang yang menggantungkan diri kepada selain Allah swt, diibaratkan seperti laba-laba yang membuat rumah yang sangat lemah (QS. al-Ankabuut [29]: 41). Sementara itu, orang-orang yang dzalim diumpamakan sebagai orang yang mendirikan bangunan di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam (QS. at-Taubah [9]: 109). Allah menjadikan arsitektur sebagai perumpamaan atau analogi bagi banyak hal, di antaranya akibat bagi kesyirikan dan kedzaliman manusia. Beberapa ayat lain di dalam al-Qur’an juga menjelaskan tentang berbagai peradaban yang sangat maju dari kaum-kaum yang telah lalu serta keakhiran nasib mereka. Seni ilustrasi dan analogi yang ada di dalam al-Qur’an menjadikan manusia mudah memahami pelajaran-pelajaran yang ada di dalam kitab yang suci ini.

Dalam pembangunan Masjid Nabawi, penerapan nilai ketauhidan ini tampak jelas mulai dari niat, proses, hingga hasil pembangunan masjid ini. Masjid ini dibangun pada saat awal Nabi Muhammad saw sampai dari perjalanan jauhnya untuk hijrah dari Mekah ke Madinah. Kondisi Kota Madinah sangat berbeda dengan kondisi yang sangat menekan kebebasan ibadah kaum muslim di Mekah yang dikuasai kaum kafir Quraisy. Masyarakat Kota Madinah sangat mendukung dilaksanakannya shalat berjamaah dan berbagai kegiatan ibadah kaum muslim yang merupakan bagian dari syiar Islam tanpa harus bersembunyi dan diliputi rasa takut. Karena itu, Rasulullah saw langsung membangun masjid di lokasi yang telah diilhamkan Allah swt kepada beliau lewat kecenderungan unta beliau untuk berhenti pada saat tiba di kota ini. Masjid Nabawi merupakan masjid yang dibangun atas dasar iman dan takwa, murni untuk beribadah dan mengagungkan Allah swt, serta meniadakan berbagai takhayul yang berkembang di masyarakat jahiliyah di masa itu.

Nilai pandangan jauh ke depan (visi dunia dan akhirat). Adalah penting untuk menyadari bahwa setiap perbuatan seorang muslim memiliki pertimbangan untuk kebaikan bukan hanya di dunia, namun juga di akhirat. Di dalam kegiatan berarsitektur, visi jauh ke masa depan tidak hanya mewujud dalam berbagai pertimbangan akan manfaat dan mudharat di masa depan dari bangunan yang dirancangnya, namun juga mewujud pada sikap kehati-hatian (wara’) akan terperangkap pada sikap berlebih-lebihan akan sesuatu yang halal dan dibolehkan. Membangun masjid merupakan suatu hal yang bernilai ibadah di dalam Islam jika dilakukan dengan niat yang benar. Walaupun demikian, jika kita berlebih-lebihan dalam membangun tanpa memperhatikan kemanfaatannya, maka bangunan masjid itu bukan tidak mungkin dapat menimbulkan mudharat berupa penyalahgunaan di masa depan untuk kegiatan-kegiatan yang tak bernilai ibadah atau bahkan mengandung maksiat.

Karena itu, tentu bukan tanpa alasan Nabi Muhammad saw membangun Masjid Nabawi dengan bentuk yang sangat sederhana. Di balik bentuk yang sangat sederhana itu dapat terbaca visi yang sangat jauh ke depan, yaitu masjid sebagai wadah pendidikan dan pembinaan umat muslim. Bentuk yang sederhana itu justru sangat baik mewadahi berbagai aktivitas dengan berbagai karakter yang berbeda. Sejak awal berdirinya, Masjid Nabawi tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat berjamaah kaum muslim. Masjid Nabawi merupakan tempat menyatukan hati kaum Muhajirin dan kaum Anshar dalam berbagai kegiatan ibadah, sosial kemasyarakatan, dan pendidikan. Masjid Nabawi merupakan contoh nyata bahwa masjid merupakan sebuah institusi yang sangat berperan dalam membentuk peradaban Islam.

Nilai kemanfaatan. Nilai kemanfaatan merupakan nilai yang sangat mendasar pula dalam berarsitektur. Ketiadaan manfaat dapat menyebabkan timbulnya mudharat pada suatu hal, apalagi jika hal tersebut dilakukan berulang-ulang dan berlebih-lebihan. Pengetahuan dan pemahaman akan kaidah-kaidah kemanfaatan dan penghindaran kemudharatan di dalam Islam sangat bermanfaat sebagai jalan untuk memperoleh maslahat dan menolak mafsadat dalam berarsitektur. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi saw, “laa dharar wa laa dhirar,” dilarang segala yang berbahaya dan menyebabkan bahaya (Omer, 2009a: 189). Bahaya yang dimaksud di sini tidak hanya bahaya yang menimpa jiwa dan fisik, namun juga bahaya yang menimpa agama.

Secara arsitektural, dapat diamati bahwa ruang-ruang yang ada di Masjid Nabawi pada masa itu merupakan ruang-ruang yang sangat fleksibel dan multifungsi. Karena itu, ruang-ruang ini memiliki kemanfaatan yang sangat besar dan tidak tersia-siakan begitu saja. Halaman luas yang dikelilingi oleh tembok membuat area tersebut cukup aman dan nyaman untuk kegiatan shalat berjamaah, berlatih fisik, berolahraga, berkumpul dan bermusyawarah, serta belajar. Ruang-ruang yang beratap juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas secara fleksibel, di antaranya shalat berjamaah, menuntut ilmu dan bermusyawarah. Tentu saja keberadaan halaman yang luas sebagai tempat sholat berjamaah ini dimungkinkan sesuai dengan konteks wilayah dan iklim di Madinah dan Jazirah Arab yang kering dan jarang hujan. Namun demikian, pembelajaran dari prinsip multifungsionalitas dan kemanfaatan ini dapat kita terapkan di masjid-masjid di Indonesia dalam aplikasi yang berbeda dan sesuai dengan konteks wilayah dan iklim di sini.

Nilai kesederhanaan (kesahajaan). Nilai kesederhanaan sering disalahpahami dalam aplikasinya sebagai bentuk-bentuk yang buruk dan tak dirancang dengan baik. Padahal, keindahan pun dapat tampil lewat bentuk-bentuk yang sederhana dan bersahaja. Nabi Muhammad saw merupakan teladan kesederhanaan yang sangat sempurna, tidak hanya dalam berarsitektur, namun juga di dalam setiap perilaku beliau. Beliau menganjurkan kaum muslim untuk sederhana dalam berbicara, berjalan, tertawa, dan sebagainya. Beliau juga menolak bahwa pengertian sederhana identik dengan sesuatu yang jelek dan buruk, serta memperbolehkan seseorang mengenakan pakaian yang indah, hanya saja beliau mencela segala yang berlebih-lebihan dan ditujukan untuk menyombongkan diri.

Secara arsitektural, kesederhanaan bentuk arsitektural Masjid Nabawi di masa Rasulullah saw tidaklah mencerminkan kejelekan bentuk atau ketiadaan gaya yang indah. Justru dari kesederhanaan bentuknya, Masjid Nabawi mencerminkan kewibawaan dan kepekaan jiwa seorang pemimpin yang tidak menjaga jarak dari kaumnya, yang berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan mereka, dan yang tidak menjadikan dunia sebagai parameter kehormatan dirinya. Kesederhanaan bentuknya juga justru memberikan fleksibilitas yang sangat besar bagi ruang-ruang yang ada di dalamnya untuk dimanfaatkan oleh berbagai kalangan masyarakat dan berbagai aktivitas ibadah dan muamalah mereka. Karenanya, keindahan yang muncul dari kesederhanaan tersebut adalah keindahan yang menyatu dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.

Nilai perlindungan, penghindaran kemudharatan, dan pemberian kemudahan bagi manusia. Di dalam setiap bangunan yang kita rancang, ada hak masyarakat dan hak tetangga yang harus kita perhatikan. Jangan sampai rancangan bangunan kita merugikan bagi lingkungan sekitar. Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan berbagai mudharat yang mungkin timbul di masa depan akibat kekeliruan perancangan kita. Terlebih lagi, di dalam perancangan bangunan publik yang digunakan oleh banyak orang dan berbagai kalangan terdapat hak masyarakat untuk mendapatkan perlindungan agar terhindar dari berbagai kemudharatan dan hak untuk memperoleh kemudahan dan kenyamanan dalam hal-hal yang mengandung manfaat.

Nilai-nilai kepedulian sosial dan perlindungan kepada manusia itu tampak jelas dari rancangan arsitektural Masjid Nabawi pada masa Rasulullah saw dengan adanya area khusus untuk menampung para ashab al-suffah, yaitu kaum Muslim yang tidak memiliki kawan dekat dan keluarga di Madinah, namun datang ke Masjid Nabawi untuk menuntut ilmu dan menjadikan serambi dan ruang-ruang masjid sebagai tempat untuk menuntut ilmu (Zarkasyi, 2011: 25). Mereka mencari sedikit rejeki melalui berbagai usaha, namun mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka bersama Nabi Muhammad saw untuk belajar mengenai Islam. Salah satunya adalah Abu Hurairah ra. yang banyak meriwayatkan hadits karena intensifnya interaksi beliau dengan Nabi Muhammad saw. Masjid Nabawi berfungsi sebagai pusat pendidikan bagi segala kalangan, pria dan wanita, orang tua, dan anak-anak.

Selain itu, masjid juga menjadi tempat silaturahmi antar penduduk kota yang bertemu pada saat shalat berjamaah ataupun pada saat belajar. Masjid juga pernah menjadi tempat pertunjukan demonstrasi keahlian perang dari Abissinia (Afrika) pada saat Idul Fitri. Lebih jauh, di masjid ini terdapat pula baitul mal, atau ruang untuk menyimpan dan mengatur distribusi harta zakat, infak, dan sedekah. Nabi Muhammad saw menyalurkan harta kaum muslim ini bagi kaum fakir, anak yatim, janda, ahlus suffah, dan sebagainya.

Masjid ini juga menjaga perlindungan terhadap istri-istri nabi yang merupakan ummahatul mukminin. Privasi masing-masing istri sangat terlindungi di rumah mereka masing-masing. Walaupun rumah-rumah itu berukuran kecil dan menyatu dengan area masjid, namun dapat menjamin penjagaan terhadap kehormatan mereka.

Selanjutnya, pemberian kemudahan bagi manusia dan masyarakat tampak dari adanya pintu-pintu dari ketiga arah, yaitu di bagian belakang, timur, dan selatan masjid. Hal ini dimaksudkan agar kaum muslim yang berasal dari berbagai penjuru Kota Madinah dapat mencapai masjid dengan jarak terpendek. Memudahkan manusia dalam hal-hal yang bermanfaat, seperti menuntut ilmu dan beribadah merupakan salah satu ajaran yang sangat mulia di dalam Islam. Kemudahan dapat mendorong kecenderungan hati untuk menetapi kebenaran. Tentu saja kemudahan yang dimaksud di sini bukanlah jenis kemudahan yang melanggar larangan agama dan mencari-cari celah untuk tidak melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Nilai kepedulian terhadap alam. Salah satu hikmah dari sikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan dalam berarsitektur adalah meminimalisasi kerusakan terhadap alam, karena manusia hanya membangun berdasarkan kebutuhannya dan bukan keinginannya. Selain itu, kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi membuatnya wajib mempertanggungjawabkan setiap bangunan yang ia rancang dan ia bangun beserta seluruh dampak negatifnya terhadap alam. Hal ini akan mendorong manusia untuk bersikap hati-hati dalam setiap pengambilan keputusan rancang.

Di dalam sebuah riwayat, saat pembangunan Masjid Nabawi, Nabi Muhammad saw memindahkan sebuah pohon kurma yang masih hidup di area yang akan dibangun. Pohon tersebut dibiarkan tetap hidup di tempatnya yang baru dan ia sekaligus berfungsi sebagai penanda arah kiblat dan tempat Nabi Muhammad saw bersandar ketika khutbah. Pohon kurma ini di dalam satu hadits menangis sedih ketika Nabi bersandar ke tongkat beliau ketika berkhutbah pada suatu saat, dan bukan bersandar padanya. Dari kisah tersebut dapat diambil pelajaran berharga bahwa Nabi Muhammad saw memiliki adab yang sangat tinggi, tidak hanya kepada Allah swt dan sesama manusia, namun juga kepada ciptaan Allah lainnya seperti hewan dan tumbuhan.

Dari rancangan Masjid Nabawi pada masa Nabi Muhammad saw, dapat pula kita lihat bahwa kepedulian kepada alam membuahkan arsitektur yang sesuai dengan kondisi alam setempat dan hemat energi. Sebagian besar ruang dibiarkan terbuka dan menyatu dengan alam, sehingga dapat digunakan untuk beragam aktivitas yang membutuhkan ruang yang luas tanpa adanya permasalahan dalam hal penghawaan dan pencahayaan alami. Adanya halaman yang luas dan dikelilingi tembok ini juga sesuai dengan kondisi iklim yang kering dengan rentang suhu yang ekstrim antara panas di siang hari dan dingin di malam hari. Ruang-ruang yang dilindungi dinding dan atap merupakan ruang-ruang berukuran sedang dengan bukaan yang kecil yang mampu menjaga kehangatan saat beristirahat di malam hari.

Adanya ruang terbuka yang cukup dan terintegrasi dengan bangunan juga mengajari manusia untuk lebih dekat dengan alam dan lebih peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi padanya. Hilangnya kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup salah satunya diakibatkan manusia terlalu banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan yang tak memberikan hubungan yang memadai dengan ruang luar di sekitarnya. Karenanya, ruang luar seharusnya tidak dirancang sebagai ruang sisa dari bangunan, melainkan menjadi bagian yang dipertimbangkan secara matang sejak awal perancangan arsitektur.

Nilai kesetempatan. Kondisi lingkungan alam setempat merupakan salah satu faktor yang membentuk tradisi membangun di wilayah yang bersangkutan. Selain itu, terdapat pula budaya setempat yang juga turut andil dalam membentuk kekhasan sebuah karya arsitektur di suatu wilayah, misalnya keahlian tukang bangunan lokal, material setempat, tatanan ruang, dan ornamentasi yang umum digunakan. Dalam aspek kehidupan dunia yang tak berkaitan dengan ritual ibadah maghdhah, tradisi membangun dan budaya setempat merupakan sesuatu yang mendapat tempat yang sangat luas di dalam Islam, selama tak bertentangan dengan syariat.

Di dalam arsitektur Masjid Nabawi pada masa Rasulullah saw dapat pula kita amati keluasan dalam penerapan nilai kesetempatan ini, selama ia tidak bertentangan dengan syariat Islam. Kebiasaan membangun dengan material batu, bata, dan pelepah kurma merupakan salah satu bentuk penerapan nilai kesetempatan ini. Hal ini berhubungan pula dengan nilai-nilai lainnya, seperti kemanfaatan, penghindaran kemudharatan, kemudahan, kepedulian kepada alam, dan sebagainya. Tatanan ruang pada rumah tinggal yang lazim ditemukan dengan inner courtyard atau halaman dalam yang menjaga privasi dan melindungi dari angin kencang dan badai gurun pasir juga ditemui penerapannya pada masjid ini dengan berbagai penyesuaian sesuai dengan perbedaan manfaat masing-masing. Selain itu, tentu saja masih banyak aspek lokal dalam tradisi membangun yang dapat kita temui pada Masjid Nabawi di masa itu.

Nilai keindahan. Nilai keindahan di dalam Islam merupakan nilai yang terikat dengan nilai-nilai yang lain dan bukanlah sebuah nilai yang berdiri sendiri serta terpisah dari nilai-nilai lainnya. Nilai keindahan di dalam berarsitektur ini terkait erat dengan nilai ketauhidan, nilai kemanfaatan, nilai penghindaran kemudharatan, nilai kepedulian sosial dan alam, dan sebagainya. Di dalam Islam, indah adalah indah karena benar dan indah karena baik. Indah bukanlah semata-mata atribut fisik yang hanya dapat dicerna oleh pancaindera, melainkan keindahan yang terpancar dari iman dan hati yang bersih. Hal inilah yang tak dipahami oleh sebagian kritikus Barat yang berpaham materialisme dan menganggap keindahan semata-mata permasalahan gaya arsitektural dan kemewahan fisik semata, sehingga muncul istilah hypostyle untuk masjid-masjid di masa Nabi yang secara fisik dianggap tidak atau sangat sedikit bergaya arsitektur.

Keindahan yang dapat kita pelajari dari Masjid Nabawi di masa Rasulullah saw adalah keindahan yang terpancar dari kesederhanaan bentuk namun dengan kemanfaatan yang sangat besar dan perhatiannya pada nilai-nilai mendasar di dalam hubungan dengan Allah swt, hubungan antar sesama manusia, dan hubungan dengan lingkungan alam. Karenanya, dari bentuk fisik masjid yang sangat sederhana ini, kita ternyata dapat menggali sangat banyak hikmah sebagai bahan pembelajaran dalam berarsitektur. Nilai-nilai mendasar (basic values) yang dapat kita temui penerapannya di Masjid Nabawi di masa Nabi Muhammad saw tersebut dapat pula kita jadikan bahan pertimbangan mendasar dalam berarsitektur, terutama dalam tataran filosofis dan konseptual, serta menjadi dasar bagi upaya-upaya pengembangan yang kreatif sesuai dengan konteks waktu dan tempat dalam tataran aplikatif.

 

Penutup

Demikianlah, di balik kesederhanaan dan “ketiadaan gaya” dari Masjid Nabawi di masa-masa awal pembangunannya di masa Nabi Muhammad saw, ternyata terdapat banyak ibrah dan hikmah yang dapat kita ambil dan manfaatkan untuk proses berarsitektur di masa kini. Peradaban Islam yang sejatinya merupakan perwujudan dari hubungan integral antara iman, ilmu, dan amal tidaklah semata-mata terwujud lewat bangunan-bangunan megah yang dibangun para penguasa kaum muslim di masa lalu. Bangunan-bangunan megah itu memang menggambarkan banyak hal di dalam peradaban Islam, termasuk kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, perkembangan seni, namun sekaligus menggambarkan pula kenyataan getir bahwa di akhir masa kejayaannya, sebagian kaum muslim beserta para penguasanya telah cukup jauh dari esensi peradaban Islam yang dibangun berdasarkan kesatuan iman, ilmu, dan amal di dalam Islam itu sendiri. Kejayaan dan kejatuhan bangsa-bangsa dan berbagai peradaban memang selalu dipergilirkan sebagai sebuah sunatullah. Pembelajaran yang diperoleh dari kejayaan dan kejatuhan inilah yang harus terus digali agar kaum muslim dapat mengambil mutiara dari peradaban Islam dan saripati hikmah dari manusia-manusia pilihan di dalamnya, sekaligus dapat mencegah terulangnya kekeliruan yang sama dari kaum muslim terdahulu.

 

Referensi

Hillenbrand, Robert. 1994. Islamic Architecture: Form, Function, and Meaning. Edinburg: Edinburg University Press

M. Rasdi, M. Tajuddin. 1998. The Mosque as a Community Development Centre. Johor Darul Ta’zim: UTM Skudai

Muhallawi, Hanafi. 2005. Tempat-Tempat Bersejarah dalam Kehidupan Rasulullah. Jakarta: Gema Insani Press

Omer, Spahic. 2009a. Islamic Architecture. It’s philosophy, spiritual significance, and some early developments. Kuala Lumpur: AS. Noordeen

Omer, Spahic. 2009b. The History and Character of the Islamic Built Environment. Selangor: Arah Publications

Shahih Bukhari – Muslim

Terjemahan Al-Qur’an al-Kariim.

Zarkasyi, Hamid Fahmy. 2011. Worldview Islam Asas Peradaban. Jakarta: Penerbit INSISTS

 

Paper presented in Seminar Nasional Arsitektur Islam 3, Jurusan Arsitektur UIN Maliki Malang, 7 November 2013.

One thought on “Menggali Nilai-Nilai Peradaban dari Arsitektur Awal Masjid Nabawi

    Muhammad Azamuddin T said:
    April 20, 2014 at 1:20 am

    Reblogged this on WordPress Mas Azam and commented:
    Nilai ketauhidan, Nilai pandangan jauh ke depan, Nilai kemanfaatan, Nilai kesahajaan, Nilai perlindungan, penghindaran kemudharatan, dan pemberian kemudahan bagi manusia, Nilai kepedulian terhadap alam, Nilai lokalitas, Nilai keindahan dari Arsitektur awal Masjid Nabawi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s