Mencari Sebuah Masjid ~Taufik Ismail

Posted on

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan
fondasinya dari batu karang dan pualam pilihan
atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok
topan kutub utara dan selatan
aku rindu dan mengembara mencarinya….

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
dihiasi dengan ukiran kaligrafi Qur’an
dengan warna platina dan keemasan
bentuk daun-daunan sangat teratur
serta sarang lebah demikian geometriknya
ranting dan tunas jalin berjalin
bergaris-garis gambar putaran angin
aku rindu dan mengembara mencarinya….

Aku diberitahu tentang masjid
yang menara-menaranya menyentuh lapisan ozon
dan menyeru adzan tak habis-habisnya
membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
kemudian nadanya yang lepas-lepas
disulam malaikat jadi renda-renda benang emas
yang memperindah ratusan juta sajadah
di setiap rumah tempat singgah
aku rindu dan mengembara mencarinya….

Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya
di mana bila waktu adzan lohor engkau masuk ke dalamnya
engkau berjalan sampai waktu ashar,
tak kau capai shaf pertama
sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
bershalatlah di mana saja
di lantai masjid ini, yang besar luar biasa
aku rindu dan mengembara mencarinya….

Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mehrabnya
yaitu sebuah perpustakaan yang tak terkata besarnya
dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya
di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian
yang menyimpan cahaya matahari
kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu berguna
di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
terletak di sebelah menyebelah masjid kita
aku rindu dan mengembara mencarinya….

Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
tempat orang-orang bersila bersama
dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka
dan pendapat bisa berlainan
namun pertikaian bisalah diuraikan
dalam simpul persaudaraan sejati
dalam hangat sajadah yang itu juga
terbentang di sebuah masjid yang sama
tumpas aku dalam rindu
mengembara mencarinya
di manakah dia gerangan letaknya….

Pada suatu hari aku mengikuti matahari
ketika di puncak tergelincir
sempat lewat seperempat kwadran turun ke barat
dan terdengar merdunya adzan di pegunungan
dan aku pun melayangkan pandangan
mencari masjid ke kiri dan ke kanan
ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
dia berkata, “Inilah masjid yang dalam pencarian Tuan”

Dia menunjuk tanah ladang itu
dan di atas lahan pertanian
dia bentangkan secarik tikar pandan
kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
airnya bening dan dingin mengalir beraturan
tanpa kata dia berwudhu duluan
aku pun dibawa air itu menampungkan tangan
ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
hangat air yang terasa, bukan dingin kiranya
demikianlah air pancuran bercampur
dengan air mataku yang bercucuran….

(puisi favorit)🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s