dari film “What the Bleep Do We Know!?”

Posted on

Peradaban Barat telah menunjukkan kepada dunia, bahwa segala sesuatu yang digarap dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan capaian yang memukau dan mencengangkan. Tidak hanya di dunia ilmu pengetahuan, namun juga di dunia seni, politik, ekonomi, dan sebagainya. Di dalam dunia seni, khususnya seni pertunjukan, film-film bergenre science fiction sering kali membuat penontonnya tidak mampu membedakan mana yang sains dan mana yang fiksi di tengah-tengah alur cerita yang menghanyutkan. Terdapat banyak film bergenre science fiction yang membawa penontonnya seolah-olah tengah menyaksikan film dokumenter yang menyajikan fakta-fakta secara apik dan meyakinkan.

Film “What the Bleep Do We Know?” merupakan salah satu film yang membuat para penontonnya menerka-nerka apakah ini film yang murni sains, atau film yang dicampuri oleh fiksi di sana-sini. Fiksi yang dimaksudkan di sini lebih dari sekedar ilustrasi-ilustrasi yang digambarkan melalui alur cerita dari film tersebut. Fiksi yang mencampuri sains di dalam film ini bisa jadi berupa preasumsi-preasumsi yang ada di dalam diri para saintis yang mempengaruhi cara pandang mereka dalam mengambil kesimpulan dari temuan mereka. Fiksi di dalam film ini bisa jadi juga berupa reinterpretasi-reinterpretasi yang dibuat untuk menghubungkan satu fakta dengan fakta lain yang nampaknya saling berhubungan atau mungkin sesungguhnya tidak berhubungan sama sekali.

Cara manusia memaknai fakta memang selalu tergantung pada cara pandang (worldview) yang inheren di dalam dirinya. Preasumsi yang sudah mendarah daging di dalam diri para ilmuwan dapat memberikan dampak tertentu di dalam cara mereka memaknai fakta. Sama halnya dengan kebohongan yang diulang-ulang terus-menerus di media massa yang pada akhirnya dapat dianggap sebagai kebenaran oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan, fakta merupakan satu hal, sedangkan makna merupakan hal lain yang tidak selalu sama dengan fakta. Namun, baik fakta maupun makna merupakan prasyarat di dalam ilmu. Hal ini dikarenakan ilmu merupakan pemaknaan terhadap fakta. Orang yang tak mampu memaknai fakta tidak dapat disebut orang berilmu. Seperti anak kecil yang memakan semua yang dilihatnya, karena ia baru mampu melihat fakta namun masih sangat terbatas dalam memaknai fakta-fakta yang ia lihat.

Dilihat dari sudut pandang sains, film ini tampaknya merupakan pengembangan yang lebih dalam terhadap teori positive thinking yang sejak dulu telah ramai didiskusikan di dunia saintifik. Senada dengan film dan buku yang sangat populer, “The Secret”, penemuan-penemuan ilmiah mengenai kekuatan pikiran manusia yang digambarkan di film ini semakin memperkuat teori tersebut. Walaupun demikian, karena paham materialisme yang telah menjadi paradigma di dunia Barat, kekuatan pikiran (mind) dan perasaan (feelings) manusia ini tereduksi menjadi sekedar kemampuan otak (brain) dan berbagai reaksi kimia – fisika yang terjadi di dalamnya. Dari segi penggunaan istilah, dapat kita temukan bahwa istilah akal budi di dalam konsep ketimuran yang meliputi baik aspek yang material maupun yang immaterial, tidak dapat dipadankan dengan istilah brain di film ini yang mewakili konsep Barat mengenai aspek yang material dari akal budi.

Penolakan sains selama ini terhadap keberadaan aspek-aspek yang immaterial di dunia ini juga masih tampak di film ini, walaupun di dalamnya kita disuguhi penemuan-penemuan bahwa aspek terkecil dari materi ternyata bukanlah materi. Kecenderungan ini dapat dilihat dari kesimpulan bahwa Tuhan ada di dalam diri manusia itu sendiri dan manusialah Tuhan itu sendiri, hanya karena para saintis ini menemukan kekuatan pikiran yang sedemikian besar di dalam diri manusia. Titik yang ekstrem ini menunjukkan bahwa penolakan terhadap adanya kekuatan yang sangat besar dan tak tercerap indera dan nalar yang ada di luar diri manusia itu sendiri masih sangat kuat di dalam diri sebagian besar saintis tersebut. Kepercayaan ini senada dengan paham Pantheism yang mempercayai bahwa segala sesuatu, baik Tuhan maupun alam merupakan entitas yang menyatu dan dengan demikian menolak entitas Tuhan yang terpisah dari makhluk yang diciptakannya.

Sayangnya, penolakan sains atas kekuatan immaterial tersebut tidak dibarengi dengan pengakuan atas keterbatasan sains yang mengakui hanya dua sumber keilmuan, yaitu nalar dan indera manusia. Padahal, telah kita ketahui bersama bahwa nalar dan indera manusia tersebut, seperti halnya bagian-bagian lainnya di dalam diri manusia, ternyata penuh keterbatasan pula. Mungkin karena itulah, sampai saat ini di dalam bahasa Indonesia, istilah sains juga kurang dapat dipadankan dengan istilah ilmu. Sains terlalu banyak menafikan peran intuisi dan inspirasi, padahal banyak penemuan ilmiah tidak semata-mata didasari oleh nalar dan indera semata, namun juga diperoleh dari intuisi dan inspirasi yang datang tiba-tiba layaknya pencerahan (enlightenment) di dalam diri para ilmuwan. Karena sains dan ilmu mewakili dua konsep yang berbeda itulah, keduanya sama-sama diserap dan digunakan di dalam bahasa Indonesia untuk mewakili rasa bahasa dan makna yang berbeda pula.

Selanjutnya, dilihat dari alur penyampaian pesannya, film ini sangat menarik karena mampu memancing berbagai pertanyaan lebih jauh. Misalnya, jika benar hanya realitas yang kita pilih yang akan kita lihat, bagaimana mungkin hal-hal yang tak pernah dipikirkan oleh seseorang dapat terjadi pada dirinya, misalnya kecelakaan. Padahal, tidak ada manusia yang berharap atau memilih realitas semacam kecelakaan itu terjadi pada dirinya. Bagaimana manusia bisa terbuka terhadap hal-hal baru, jika hal-hal baru tersebut tidak terlihat olehnya akibat tidak pernah ada di pikirannya, seperti suku pedalaman yang tidak melihat kapal Columbus. Pada kenyataannya, manusia sangat mudah tertarik melihat hal-hal yang baru, mencoba makanan baru, pengalaman baru, yang sebelumnya tak pernah dilihatnya. Pertanyaan lainnya, jika benar kekuatan sedemikian besar yang ada di dalam pikiran manusia itu adalah Tuhan itu sendiri yang mampu melakukan apapun yang dipikirkannya, bagaimana penjelasan yang saintifik atas mati, ketika kekuatan yang sedemikian besar dari pikiran itu serta merta hilang begitu saja. Ketika, dengan jasad yang sama, manusia yang hidup dan yang mati menunjukkan perbedaan yang sangat jauh dalam hal aktivitas berpikirnya, aktivitas tubuhnya, dan sebagainya. Jika benar manusia dapat mengendalikan segala sesuatu dengan pikirannya, maka akan banyak manusia yang tidak ingin mati dan tidak akan mati.Bagaimana dengan kenyataan bahwa tidak ada satu makhluk bernyawa pun yang tidak mengenal kematian. Sebaliknya, bagaimana manusia yang menginginkan kematian juga tidak dapat begitu saja dengan pikirannya, mati seketika itu juga, seperti menekan tombol on off saklar kehidupan. Demikianlah sekelumit refleksi dan pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari keawaman saya mengenai perkembangan sains, terutama fisika kuantum yang sangat progresif beberapa dekade terakhir.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s