tentang Rasulullah, Khadijah, dan cinta…

Posted on

Ada diskusi via e-mail dengan seorang teman, yang isinya menurut saya cukup menarik… Ia memulai diskusi ini dengan beberapa kalimat panjang plus satu pertanyaan inti, “Ketika Rasullah menikahi Siti Khadijah, beliau masih berumur 25 tahun sedangkan Siti Khadijah sudah berumur 40 tahun, beliau adalah manajer bisnis perniagaan Khadijah, sedangkan Khadijah merupakan “boss” beliau. Lalu apa sebenarnya motivasi Rasulullah ketika menikahi Siti Khadijah? Sebagian orang berpendapat kalau pernikahan Rasulullah dengan Khadijah semata-mata karena materi yang berorientasikan kepada dakwah. Padahal ketika itu, Rasulullah belum diangkat menjadi Rasul dan belum diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran Islam kepada kaumnya. Mahar Rasulullah ketika itu juga merupakan mahar yang terbesar di jamannya, sehingga tidak benar anggapan bahwa Rasulullah ketika itu hanyalah pemuda yang miskin.Menurut saya, Rasulullah menikahi Siti Khadijah karena dasar cinta. Memang Khadijah yang melamar Rasulullah melalui sahabatnya yang bernama Nufaisa sehingga akhirnya mereka menikah. Tapi dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sebenarnya Rasulullah juga menyukai Khadijah, namun hati kecilnya belum berani memikirkan perkawinan, mengingat Khadijah sudah menolak lamaran hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy. Rasulullah sudah lama bekerja membantu Khadijah dalam menjalankan perniagaan Khadijah. Mungkin dari situlah Rasulullah tahu siapa Khadijah, mulai dari sifatnya, kehormatannya, sikapnya, kecerdasannya, dan lain sebagainya. Dari situlah kemudian Rasulullah jatuh cinta kepadanya. Dalam bahasa Al-Qur’an mengenai rumah tangga itu biasa disebut “Miitsaaqan Ghaliidzaa” bukan lagi parameter umur maupun kelas sosial yang menjadi acuannya. Menurut kak Lia bagaimana?”

Pertanyaan ‘adik’ saya itu saya jawab juga via e-mail agak panjang yang bagian akhirnya saya baca ulang kok rada ngga nyambung yaa? Tapi ngga apa-apa kan, namanya juga diskusi, hehehehe… “Salah satu istri Nabi saw yang paling saya cintai karena keutamaan dan teladannya adalah Siti Khadijah (tentu saja semua istri Nabi memiliki keutamaan2 masing-masing ^_^). Pada diri beliau terdapat banyak keutamaan yang harus ada dalam diri seorang perempuan. Beliau adalah seseorang yang dalam bahasa saya “memancarkan aura bidadari”, bukan semata-mata karena kelemahlembutan dan keindahan perilaku beliau, tetapi juga karena ketegasan, keteguhan, kedalaman pandangan dan kedewasaan beliau. Karena itu, saya yakin sekali bahwa Nabi Muhammad saw sangat mencintai beliau. Cinta yang hadir karena pesona fisik mungkin bisa datang dalam sekejap dan pergi pula dalam sekejap, tetapi cinta yang lahir karena kecantikan hati dan akhlaq adalah sesuatu yang jauh lebih menawan dan jauh lebih dalam tercerap di hati. Saya pikir Nabi saw mencintai Khadijah, selain karena pesona fisik (siapa yang pernah bilang Khadijah jelek walaupun sudah berumur 40 tahun, ngga ada kan? Hehe, buktinya banyak yang ngelamar…) tetapi juga karena potensi jiwa dan kekuatan hati Siti Khadijah. Saya saja yang jauh sekali terpisah waktu dengan Siti Khadijah bisa terpesona karena “aura” beliau, apalagi Nabi saw yang hidup semasa dengan beliau… ^_^ Saya juga selalu terharu kalau ingat dan membayangkan Nabi saw saat mengucapkan perkataan yang membela Siti Khadijah di depan istri beliau yang lain dengan kalimat indah yang mencerminkan betapa dalam kenangan beliau terhadap Siti Khadijah…”

Diskusi itu dilanjutkan lagi oleh adik saya tersayang itu, ”Nah…tuh kan, Rasulullah aja jatuh cinta🙂 masalah yang muncul kemudian, bagaimana kira-kira Rasulullah mengekspresikan perasaan cintanya? ”Cinta” yang pada jaman sekarang, sudah bermakna negatif, cinta dalam pemahaman orang sekarang dekat dengan hawa-nafsu, trus… apa ada cinta sejati? (kata Ari Lasso, Element dan Jikustik sih ada…) Kalaupun ada, apa hanya cinta kepada Allah yang disebut sebagai cinta sejati? Trus cinta Rasulullah kepada Khadijah, sejati kah?”

Hmmm… pertanyaannya dalem banget yaa? Saya aja sampai bingung ngomong apa, saya kan bukan ahli di bidang ini, hehehe… “Saya percaya bahwa cinta sejati itu ada, dan itu cinta pada Allah, pada Nabi dan cinta-cinta lain yang ada dalam koridor-Nya. Cinta kepada sesama manusia, kepada orang tua, terutama kepada pasangan, saya percaya memang benar-benar ada dan merupakan sesuatu yang indah dan fitrah sifatnya. Hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa seluruh cinta itu adalah cerminan cinta Allah kepada makhluknya. Karenanya, dalam mencintai segala sesuatu, kita haruslah tetap mengutamakan cinta kepada Allah di atas segalanya. Cinta kepada segala sesuatu itu harus juga ada di dalam garis yang ditentukan-Nya.

Dalam tataran praktis, keutamaan cinta kepada Allah ini membuat cinta kita kepada orang lain dan pasangan tidak melanggar batas garis atau koridor yang ditentukan Allah swt. Cinta kita kepada mereka tidak sepantasnya membuat kita melakukan segala hal dan melanggar ketentuan Allah, karena hal ini berarti kita telah menomorduakan cinta kita kepada Allah setelah cinta kita kepada makhluk. Begitu pula cinta kita terhadap pasangan, tidak sepantasnya membuat kita menerobos norma-norma agama, di dalam pernikahan sekalipun. Seorang istri taat kepada suami karena Allah yang perintahkan. Hal ini mencerminkan cintanya kepada suaminya berada di bawah payung cintanya kepada Allah. Hal ini juga mencerminkan bahwa tidak ada ketaatan di dalam hal-hal yang tidak diridhoi Allah. Lebih jauh, hal ini mencerminkan stabilnya kondisi hati si istri dalam ketaatan terhadap suaminya. Ia taat bukan karena mengharapkan balasan dari suami, tidak pula merasa kecewa ketika suaminya tidak berlaku seperti yang diinginkannya. Ia melakukannya semata-mata karena Allah. Hehehe… ini sih teorinya, kalo prakteknya saya juga belum tau susah apa nggak. ^_^

Jadi, dalam pandangan saya tidak ada yang salah dalam mencintai, selama cinta itu disikapi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan-Nya dan tidak melanggar larangan-larangan-Nya. Allah begitu mencintai kita, dan itu tercermin melalui cinta orang tua kepada kita, cinta teman kepada kita, juga cinta pasangan kepada kita. Bukankah Allah menurunkan satu di antara seratus cinta-Nya ke bumi, yang dengan itu seorang ibu mengasihi anaknya, seekor binatang melindungi anaknya… Layakkah jika kemudian kita khianati cinta-Nya dengan mencintai yang lain lebih daripada-Nya?

Selain itu, cinta kepada Allah juga harus dibuktikan, tidak hanya diucapkan. Semua orang juga pasti paham konsep ini. Nggak ada yang akan percaya ucapan cinta kita kalau tidak kita buktikan lewat perbuatan, apalagi perilaku kita menunjukkan kecuekan terhadap yang kita cintai. Cinta kepada Allah kita tunjukkan dengan melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Cinta kepada Allah hanya akan dapat dipercaya jika kita berperilaku sesuai keinginan-Nya. Jadi, “jalan cinta” kaum sufi itu sebenarnya adalah syariat. Dengan menjalankan syariat kita menggapai cinta Allah (Ingat kan, Allah paling menyukai hambanya yang mendekati-Nya dengan cara menjalankan amalan-amalan wajib dan ia terus menjalankan amalan-amalannafilah hingga Allah mencintainya… Afwan redaksinya adik pasti lebih hafal, tapi intinya seperti itu dehh, hehehe). Kalo kata Imam Syafi’i, “Jadilah engkau faqih sekaligus sufi, jangan hanya salah satunya. Demi kebenaran Allah, kepadamu kunasihatkan fatwa. Semata-mata fiqh adalah kekeraskepalaan, hatimu tidak akan bisa mencicipi taqwa nanti. Sedangkan semata-mata tasawuf adalah kebodohan. Bagaimana mungkin yang bodoh memperbaiki diri?” Hehehe… kalo makna keseluruhan dari kalimat ini saya juga nggak tau, yang bisa saya tangkap hanya sepenggal makna di atas.

Saya juga yakin bahwa Allah maha pemilik hati, maha pembolak-balik hati. Jadi, hati seseorang bisa jadi mencintai kita dan bisa jadi tidak mencintai kita, seluruhnya berada dalam genggaman-Nya. Ketika mencintai seseorang, kita harus menyerahkan penjagaan hati kita kepada Yang Maha Menggenggam Segala Hati, mohon perlindungan dari kesedihan dan kekecewaan yang terlalu bila cinta kita tidak terbalas, dan mohon perlindungan pula dari kegembiraan yang terlalu besar dan melenakan jika cinta kita terbalas. Di dalam cinta versi dien yang mulia ini, dunia tidak pernah hanya “milik kita berdua” ^_^. Hehehe….”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s