Seems like i don’t care…

Posted on

Icha, demikian teman-temannya memanggilnya. Saya pun senang memanggilnya demikian, karena menurut saya nama itu sesuai sekali dengan nama pemiliknya yang imut, manis dan pemalu. Seorang teman pernah mengingatkan untuk memanggil nama para mahasiswa sesuai dengan “nama akademik” masing-masing. Sebenarnya saya tidak pernah menemukan peraturan baku akan hal ini. Jadi, walaupun mungkin tujuan di balik penyebutan nama ini cukup baik, untuk menjaga wibawa seorang dosen di depan mahasiswanya, saya tampaknya belum cukup mampu untuk membatasi diri saya sedemikian jauh dengan mereka. Ditambah lagi, saya sering lupa kalau saya dosen mereka, misalnya saja melambaikan tangan lebih dulu dengan riangnya;p (mirip anak kecil ketemu permen) dan nyletuk2 iseng (apalagi yang kedapatan jalan berdua, wuihh) jika bertemu mereka di jalan. Mungkin cukuplah saat ini saya menjadi kakak saja bagi mereka; seorang kakak yang sering diprotes karena memberi tugas terlalu banyak dan kadang bisa tiba-tiba blank ketika menerangkan di depan kelas (I’m so sorry kids… ^_~).

Icha yang saya ceritakan ini adalah salah satu mahasiswi di kelas SPA1 yang saya ampu. Walaupun bagi saya Icha tergolong pendiam, ia adalah salah satu mahasiswi saya yang sangat sangat sangat sopan dan memiliki tutur kata yang santun. Usahanya juga cukup keras untuk menyelesaikan tugas-tugas perancangan yang memang cukup berat bagi para mahasiswa semester awal. Saya menyadari dari gambar-gambarnya, bahwa terkadang beberapa di antara tugas-tugas itu dirasakannya terlalu berat. Namun, tidak seperti beberapa mahasiswa lain yang memilih untuk menyerah sebelum waktunya, Icha tetap berusaha mengumpulkan tugas-tugas itu dengan mengerahkan segenap kemampuannya (aren’t you, Cha? ^_^). Dalam perkembangannya, saya pun melihat progress yang sangat besar pada kemampuan gambar dan kemampuan rancangnya. Progress ini membuat saya merasa “terbantu” dari such a hopeless and guilty feelingketika melihat beberapa mahasiswa lain bahkan tidak beranjak dari “lesehannya”. Terkadang saya berpikir, mungkin karena ketidakmampuan saya mendukung merekalah, mereka lebih memilih untuk “diam di tempat (grak! ;p)”. Itulah salah satu sebab mengapa Icha meninggalkan kesan tersendiri bagi saya di akhir perkuliahan ini.

Saya juga ingat sekali ketika Icha baru balik dari kampung halamannya di Aceh. Bungong Jeumpa satu ini mengirim sms kepada saya yang sedang mengajar di kelas. Sms itu tidak terbaca hingga akhir perkuliahan. Saya hanya heran melihat Icha yang mondar-mandir di depan kelas beberapa kali. Akhirnya Bu Luluk, teman team-teaching saya, memutuskan untuk keluar dan menghampiri Icha. Ternyata, si bungong jeumpa yang imut ini hendak memberikan bros “pintu Aceh” dan dendeng asli Aceh (hmmm, sedapnya…) kepada kami berdua. Saya jadi sungkan, sebab sebelum Icha mudik, saya sempat menggodanya, “Asik asik yang mau mudik… Oleh-olehnya ya Cha!”. Hmmph, rupanya jadi dosen itu tidak boleh asal cablak ya, karena mahasiswa menanggapinya dengan, “Your wish is my command, Maam!” hehe. Akhirnya, saya mengirim sms meminta maaf yang sebesaaar-besarnya karena sudah merepotkan, dan menjelaskan bahwa sebenarnya saya hanya bercanda (suerr!!) waktu itu.

Seminggu sebelum pengumpulan tugas besar (waktu dimana para mahasiswa saya dilanda stres berat), datanglah satu sms yang tidak disangka-sangka mengenai meninggalnya ayah Icha. Saya tidak tahu harus bagaimana ketika itu. Saya ingin sekali menelpon dan menguatkannya, tetapi mengetik sms pun demikian berat rasanya. Saya harus bolak-balik menghapus kalimat-kalimat saya sebelum akhirnya dapat mengirimkan sebuah sms belasungkawa kepadanya. Rasanya hati saya ikut menangis membayangkan kesedihan dan kegalauannya. Ia tidak berada di sisi ayahnya ketika beliau sakit dan meninggal, ia tengah menghadapi banyak tugas perkuliahan ketika berita itu sampai kepadanya, ia harus bergegas menempuh perjalanan jauh dengan perasaan yang tidak menentu, ia harus menerima kenyataan bahwa tumpuan hidup keluarganya kini telah berpulang, dan banyak lagi kesedihan yang mungkin sampai saat ini belum pernah saya rasakan. Perasaan ini selalu menimpa saya setiap kali ada mahasiswa saya yang kehilangan orang tua mereka. Saya takut membayangkan mereka menjalani beratnya masa remaja mereka tanpa dukungan dan perlindungan orang tua. Saya juga takut sekali membayangkan jika mereka terpaksa hengkang dari ruang kuliah mereka, tempat dimana mereka menebar banyak sekali benih harapan. Berat rasanya membayangkan beban yang akan mereka pikul setelahnya. “Allahu Rabb they’re so young, please help them…”

Ketika beberapa hari setelahnya Icha mengirim sms meminta dispensasi pengunduran jadwal pengumpulan tugas, saya pun hanya mampu menjawab singkat mengiyakan permintaannya. Saya tidak memiliki kekuatan cukup untuk menanyakan keadaannya saat itu. Begitu pula ketika akhirnya ia mengumpulkan tugas langsung kepada saya dan saya harus mengujinya secara lisan, tidak satu kalimat pun yang menanyakan keadaannya sanggup saya lontarkan kepadanya. Saya hanya mengujinya tanpa mampu memandang matanya, saya takut sekali menemukan berkas-berkas kesedihan di sana… Saya mendengarnya menangis ketika ditanyai oleh teman saya sehari sebelumnya, dan saya tak sanggup menyebabkannya menangis lagi hari itu (Seems like I don’t care, do I Cha? What kind of lecturer I am, couldn’t give enough to help you…).

Beberapa hari kemudian, barulah saya memberanikan diri mengirimkan sms untuk membantu menguatkan hatinya (I wasn’t even sure whether it is the right or, on the contrary, wrong decision). Ketika hampir menyerah memikirkan kalimat apa yang paling sesuai untuknya, saya tersadar bahwa tiada kalimat yang lebih indah dan lebih memberi hikmah daripada untaian ayat al-Qur’an al-Karim. Kalimat-kalimat di dalamnya selalu memberi ketenangan kepada orang-orang yang membutuhkan ketenangan, memberi hikmah kepada orang-orang yang membutuhkan hikmah, memberi pencerahan kepada orang-orang yang membutuhkan pencerahan: “…dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rizkikan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34-35). May Allah gets you stronger and keeps you in His rahmaan and rahiim, my dear student ^_^ Wants you to know that this “silly maam” do care about you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s