Sebuah jarum dalam ingatan..

Posted on

Sore itu, seorang anak kecil tampak mengendap-endap keluar dari pintu samping sebuah rumah. Pintu itu menghubungkan rumah kayu yang berusia lebih dari 60 tahun itu dengan sebuah gang kecil di sebelahnya, tempat orang-orang lalu-lalang dengan ramainya. Anak kecil yang berumur sekitar lima tahun itu kemudian perlahan-lahan menancapkan sebuah jarum yang dicurinya dari kotak jahit neneknya. Jarum yang masih berkilat itu ditancapkannya tepat di tengah jalan, dengan tujuan agar terinjak oleh orang-orang yang lewat di sana. Gang itu memang tidak menggunakan perkerasan apa pun, sehingga jarum itu dengan mudah menancap, dengan bagian matanya yang tajam menghadap ke langit.

Setelah itu, si anak pun dengan gembiranya berniat kembali ke dalam rumah, tempat neneknya menyediakan teh hangat dan pisang goreng untuknya. Sebelumnya, ia memetik rumput-rumput yang tumbuh di tepi rumah untuk dijadikan bahan permainannya. Namun kegembiraannya tidak berlangsung lama, karena sedetik kemudian ia menyadari telah menjadi korban dari keisengannya sendiri. Jarum yang sedianya diperuntukkan bagi orang lain, kini dengan manis telah menancap di telapak kakinya yang mungil, dan iapun menangis tersedu-sedu. Dengan perasaan cemas bercampur bingung, si nenek datang dan mencabut jarum itu. Beliau bertambah bingung ketika mengenali jarum itu sebagai miliknya yang baru saja “hilang” dari tempatnya. Si cucu yang iseng dan “jahat” ini tidak berani mengaku bahwa ia sendirilah yang telah mengambil dan menancapkan jarum itu di sana.

Kalau saat ini saya memikirkan apa yang sebenarnya dipikirkan anak kecil itu pada saat melakukan kejahatannya, saya tidak akan mampu menemukan “kemarahan” atau “kebencian”nya pada orang-orang yang lewat di gang samping rumahnya, walau terkadang mereka ribut sekali dan mengganggu tidur siang si anak kecil. Ia mungkin benar-benar hanya iseng atau usil (dengan dosis kelewat tinggi ^_^) saat itu. Karenanya, saya sebenarnya malu mengakui bahwa dia adalah saya sendiri. Tetapi anak kecil itu memang saya sendiri, dan kejadian itu adalah satu dari sedikit kejadian masa kecil yang masih begitu membekas di hati saya…

Ketika kisah kenakalan ini saya ceritakan pada seorang teman, sesungguhnya celetukannya-lah yang membuat saya sadar betapa berharganya pengalaman ini memberi pelajaran kepada saya. Ia berkata, “Berarti Allah masih sayang sama kamu, Lia… Kamu ditegur langsung dengan cara itu,” Subhanallah, sebuah teguran tegas yang amat lembut dan kasih di masa kecil itu baru saya sadari lama setelahnya…

Mengingat kejadian itu rasanya seperti membaca surah At-Takasuur yang menggambarkan keMahaLembutan dan keMahaSabaran Allah dalam menegur hambanya, tiga kali berturut-turut dengan bahasa yang mencontohkan ketinggian etika, “Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim…” Di dalam surah ini, ketegasan-Nya terasa benar berpadu dengan kelembutan, dan teguran-Nya benar-benar dikarenakan kasih sayang-Nya pada hamba-Nya. Dan keharuan pun kembali melingkupi hati setiap kali kenangan tentang jarum cinta di telapak kaki itu muncul dalam ingatan…

2 thoughts on “Sebuah jarum dalam ingatan..

    arsitek kampung said:
    December 27, 2011 at 8:43 am

    usil juga bu.Yulia ketika masih kecil…hehehehe

    Yulia Eka Putrie responded:
    January 3, 2012 at 10:17 pm

    hehehe iya ya Rif… ga boleh dicontoh!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s