He was so alive when he died…

Posted on

Hari ini, entah kenapa, tiba-tiba saja saya teringat kepada seorang teman yang tiga tahun lalu berpulang ke rahmatullah. Usianya masih sangat muda ketika itu, 28 tahun. Mengingatnya setiap kali selalu memaksa saya tenggelam dalam renungan tentang hidup dan kehidupan, sekaligus tentang mati dan kematian.

Mas Ary adalah panggilan akrab saya kepadanya. Saya memang telah menganggapnya kakak sejak pertemuan pertama kami tiga setengah tahun lalu. Ya, hanya tiga setengah tahun yang lalu, setengah tahun sebelum kepergiannya untuk selamanya. Saya memang hanya sempat mengenalnya enam bulan sebelum ia meninggal dunia.

Sore itu, saya tengah bersiap-siap pulang dari stan pameran perumahan WIKA yang saya jaga, ketika Pak Dhani memperkenalkan saya pada Mas Ary. Saya baru saja kembali ke Balikpapan karena mendapat tawaran sejumlah desain rumah tinggal dan interior dari Pak Dhani ketika itu. Saat itu, saya belum memiliki bayangan karir seperti apa yang akan saya lakoni di kota kelahiran saya itu, apakah menjadi freelance-designer atau ikut bekerja di salah satu perusahaan. Saya juga belum memiliki seorang pun teman di bidang yang sama. Karenanya, diperkenalkan kepada Mas Ary yang juga seorang arsitek benar-benar suatu anugerah bagi saya.

Dengan cepat saya akrab dengan Mas Ary dan keluarganya. Mba Endah, istrinya, ternyata juga lulusan Universitas Brawijaya Malang. Kloplah sudah cerita-cerita kami tentang bakso Dempo yang top abiss, kantin teknik yang selalu berasap, alun-alun bundar dengan pasangan-pasangan ABGnya, sampai mitos tentang hantu muka rata di kampus kami itu ^_^. Pasangan ini juga telah dikaruniai seorang bayi perempuan, Nisa namanya. Saya sayaaang sekali sama Nisa, salah satu alasannya adalah karena tanggal dan bulan lahir kami yang sama. I’m her birth-aunty then ^_^.

Mas Ary adalah seorang yang sangat mencintai dan menghargai keluarganya. Banyak nasehat yang diberikannya kepada saya. Salah satunya yang paling saya ingat adalah, “Keluarga itu bukan beban bagi saya. Mereka berdua adalah amanah, sekaligus anugerah yang sangat besar. Saya bekerja demi mereka, tapi mereka bukan beban. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan saya, kesedihan mereka kesedihan saya juga… Kamu harus ingat kalau nanti sudah berkeluarga. Ada kalanya susah, sedih, tetapi mereka sama sekali bukan beban.”

Selain teman ngobrol yang asik, Mas Ary juga teman kerja yang baik. Ia memiliki banyak proyek yang kami kerjakan bersama-sama sebagai satu tim. Saya belajar banyak darinya, mulai dari cara menawarkan jasa perancangan, menghadapi klien, bernegosiasi dan sebagainya. Dalam enam bulan itu, memang tidak semua dari proyek-proyek itu berhasil, namun ia selalu menghadapi segala masalah dengan keoptimisan yang tinggi. Ia selalu punya –plan B, plan C, etc.– Singkatnya, he was so alive when he died

Penyakit ginjal yang ternyata telah kronis itulah yang menjadi ihwal kepergiannya. Hanya dalam tiga minggu terakhir, seluruh rentetan kejadian itu berlangsung begitu cepat. Ketika saya menengoknya di rumah seminggu sebelum kepergiannya, ia tampak cukup sehat dan menolak dibawa ke rumah sakit. Ia hendak merayakan ulang tahun Nisa yang pertama di rumah saat itu. Rupanya itu adalah ulang tahun pertama sekaligus terakhir Nisa bersama ayah tercintanya. Esoknya, Mas Ary dibawa ke rumah sakit dan meninggal beberapa hari setelahnya di sana. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…

Merenungkannya akhir-akhir ini, saya terbawa ke dalam satu pengertian bahwa selama kita hidup di jalan yang diridhoi Allah, bukan di jalan yang dimurkai-Nya, cukuplah hidup itu sendiri sebenarnya merupakan nikmat-Nya yang besar. Hidup, tarikan nafas, detak jantung, betapa seluruhnya adalah rahmat yang tidak dapat dan jarang sekali kita hitung, nikmat yang jarang sekali kita syukuri. Hidup adalah kesempatan, hidup adalah masa karya. Setelah itu, tak ada lagi kesempatan, tak ada lagi karya, yang tersisa hanya pertanggungjawaban. Dalam hidup yang semacam ini, hanya ada sedikit ruang untuk kelemahan hati…

Kita toh tidak pernah tahu kapan akan dipanggil oleh Allah, kapan nikmat kehidupan ini akan berganti dengan panggilan kematian. Setiap detik yang Allah karuniakan ini rasanya terlalu sia-sia jika kita habiskan dengan merutuki apa yang tidak kita dapatkan dan mencemaskan apa yang belum kita peroleh.

Kita menginginkan sesuatu dan merasa kecewa ketika sesuatu itu tidak kita peroleh. Kita menginginkan sesuatu dan merasa cemas sesuatu itu tidak akan kita dapatkan. Padahal, keinginan seringkali berbeda dengan kebutuhan. Sesuatu yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan. Kita hanya tahu apa yang kita inginkan, tetapi Allah sesungguhnya maha tahu apa yang benar-benar kita butuhkan. Dan semua itu tidak akan tertukar. Apa yang kita butuhkan selalu dipenuhi-Nya, bahkan sebelum kita meminta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s