Bagaimana Islam Menyikapi Takhayul dalam Proses Berarsitektur (Sebuah Bahan Renungan bagi Masyarakat Muslim)

Posted on

Salah satu prinsip yang sangat penting dalam proses berarsitektur di dalam Islam, adalah meniadakan kepercayaan-kepercayaan yang tidak berdasar dalam setiap proses perencanaan, pembangunan maupun pemanfaatan setiap bangunan. Salah satu jenis bangunan yang seringkali dikaitkan dengan berbagai kepercayaan ini adalah bangunan rumah tinggal. Sayangnya, prinsip dasar yang penting ini seringkali malah dilupakan dan dilanggar sendiri oleh sebagian masyarakat muslim. Karenanya, penulis menujukan tulisan ini bagi masyarakat muslim, termasuk praktisi dan akademisi muslim. Di dalam artikel ini penulis akan berusaha memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan dasar pemikiran dari larangan mendasarkan diri pada kepercayaan yang salah, dan dampak-dampak yang bisa jadi ditimbulkan dari diyakininya kepercayaan-kepercayaan yang tidak ada dasarnya di dalam agama itu oleh masyarakat muslim.


Di dalam al-Qur’an, Allah swt memberikan peringatan akan terlarangnya berpegang kepada kepercayaan-kepercayaan yang tidak berdasar (takhayul) di dalam hunian kita. “…Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. al-Baqarah [2]: 189). Di dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat ini turun disebabkan oleh kebiasaan orang Jahiliyyah yang sepulangnya menunaikan ihram di Baitullah memasuki rumahnya dari pintu belakang. Pendapat lainnya menyebutkan bahwa pada masa sebelumnya, jika seseorang beri’tikaf, ia tidak memasuki tempat tinggalnya melalui pintu depan (Bin Ishaq Alu Syaikh, 2008a: 363). Terdapat kepercayaan orang-orang Arab di masa Jahiliyah yang masih berlangsung di masa Nabi saw, untuk masuk dari bagian belakang rumah mereka setelah menunaikan ibadah haji. Kepercayaan mereka di masa itu membawa implikasi pada bentukan arsitektur hunian mereka. Selalu terdapat pintu khusus atau semacam lubang di bagian belakang rumah mereka sebagai tempat untuk masuk setelah menunaikan ibadah haji.

Ayat di atas berisi penolakan terhadap segala kepercayaan yang tidak berdasar (takhayul) di dalam kehidupan kita, termasuk dalam kegiatan berhuni. Di dalam ayat ini, Allah swt memperingatkan mereka dan kita semua untuk tidak mendasarkan diri kepada hal-hal semacam itu dan menganggapnya sebagai kebaikan, atau menjadikannya sebagai salah satu jalan untuk meraih kebaikan.

Di masa kini, kepercayaan-kepercayaan yang tidak berdasar ini mengambil bermacam bentuk di dalam hampir sebagian besar proses berhuni kita. Salah satu contohnya adalah kepercayaan yang banyak mengandung doktrin-doktrin tentang berbagai aspek arsitektural sebuah bangunan, yaitu Feng Shui. Feng Shui adalah paham yang menyatakan bahwa hidup manusia dipengaruhi oleh chi, atau energi kosmik yang melingkupi manusia, dengan lima elemen dasar yang dihubungkan dengan warna-warna tertentu sebagai simbolnya. Di negeri asalnya, oleh sebagian besar penganutnya Feng Shui diterapkan pada sebagian besar perancangan arsitektur, mulai dari rumah hingga penataan kota. Selain Feng Shui, sebenarnya masih banyak lagi kepercayaan-kepercayaan yang turut berkembang di masyarakat muslim saat ini.

Pada tataran bentuk fisiknya, bisa jadi kita akan menemukan bahwa sebagian doktrin dari kepercayaan-kepercayaan semacam ini dapat dirasionalisasi, atau memiliki alasan yang cukup rasional. Doktrin tidak diperbolehkannya meletakkan dua pintu berhadapan secara langsung, misalnya, dapat dirasionalisasi sebagai salah satu cara mencegah aliran angin yang terlalu kencang. Walaupun demikian, harus kita sadari bahwa bentuk-bentuk fisik itu hanyalah sebuah konsekuensi dari konsep-konsep yang ada pada tataran pemikiran. Pada tataran pemikiran, penyebab dari munculnya doktrin-doktrin itu adalah kepercayaan bahwa bentuk-bentuk fisik itu dapat mendatangkan rejeki, menghindarkan penghuninya dari penyakit dan kerugian, menghindarkan kemalangan, mencegah persaingan, memanjangkan umur, dan semacamnya. Hal yang harus dicermati adalah, kita tidak dapat menerima begitu saja berbagai aspek pada tataran fisik dari sebuah kepercayaan dengan melepaskan diri sepenuhnya dari tataran pemikiran yang melatarbelakangi kehadiran bentuk fisik itu. Tentu bukan tanpa sebab Nabi Muhammad saw melarang kita mengikuti penampilan dan kebiasaan orang kafir. Beliau saw juga menyatakan, “Barangsiapa menyerupai (meniru) tingkah laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka.” (HR. Abu Dawud). Tingkah laku adalah penampakan fisik yang tampak sebagai konsekuensi dari pola pikir dan cara pandang. Salah satu hikmah hadits ini adalah, adanya kenyataan bahwa setiap peniruan bentuk fisik akan berdampak sedikit demi sedikit pada peniruan cara pikir dan pola pandang yang ada. Untuk itu pula Nabi saw telah bersabda, “Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya. Para sahabat lantas bertanya, “Siapa ‘mereka’ yang baginda maksudkan itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Bukhari).

Lebih jauh, sebenarnya terdapat banyak pula aspek yang irrasional (irrasional berbeda dengan suprarasional) dari doktrin-doktrin di dalam kepercayaan-kepercayaan semacam itu, jika dibandingkan jumlahnya dengan aspek-aspek yang rasional atau yang dapat dicerna akal sehat. Jika kita hanya menerima aspek-aspek yang rasional saja dari suatu kepercayaan, maka hal itu tidak dapat kita nisbatkan pada paham atau kepercayaan yang bersangkutan, karena tanpa paham itu pun, ilmu sains bangunan atau ilmu arsitektur yang ada sebenarnya telah cukup untuk dapat menghasilkan sebuah rancangan yang berkualitas dalam tolak ukur rasio. Sebuah paham mengandung aspek pemikiran sekaligus aspek perbuatan (dalam hal ini aspek bentukan fisik) yang tidak terpisahkan. Kita tidak dapat menisbatkan suatu doktrin bentuk fisik kepada paham tertentu, misalnya Feng Shui, jika kita hanya membenarkan bentuk fisik itu tanpa menyetujui alasan kehadiran bentuk fisik yang bersangkutan.

Selain salah satu contoh di atas, masih banyak lagi contoh-contoh kepercayaan atau takhayul lain yang hidup dan berkembang di sekeliling kita. Karenanya, sebagai seorang muslim, adalah lebih baik bagi kita untuk menjaga diri dengan tidak mendasarkan pertimbangan-pertimbangan menyangkut hunian kita pada kepercayaan-kepercayaan yang tidak berdasar atau memiliki dasar yang salah dan tidak sesuai dengan akidah tauhid, baik dalam tataran bentuk fisiknya, maupun dalam tataran pemikirannya. Terlebih lagi jika kita mengadopsi kepercayaan-kepercayaan itu sesuai dengan tujuan yang ada pada tataran pemikirannya, misalnya untuk memudahkan rejeki atau menyembuhkan penyakit. Hal-hal semacam ini berpotensi besar merusak akidah kita dan menjerumuskan diri kita ke dalam kesyirikan. Dampak yang merusak ini seringkali tidak disadari, namun lambat laun menjadi sugesti di dalam diri kita. Kita lalu bergantung kepada hal-hal yang sebenarnya tidak dapat mendatangkan keselamatan, manfaat maupun mudharat kepada diri kita, dan malah melepaskan diri dari ketergantungan kepada Allah semata. Jika demikian adanya, maka sesungguhnya kita tengah menghadapi bencana terbesar dalam kehidupan sebelum dan sesudah kematian kita. Di dalam al-Qur’an, Allah swt telah memperingatkan kita tentang hal ini, “Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(-Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. at-Taubah [9]: 109). Di dalam ayat ini terdapat perumpamaan orang-orang yang berpegang kepada selain Allah swt sebagai orang-orang yang mendirikan bangunan di tepi jurang yang runtuh. Pekerjaannya sia-sia, tidak berdasar, bahkan mendapatkan murka Allah swt. Semoga Allah swt menghindarkan kita semua dari kerugian dan kebinasaan semacam ini.

Bagi para arsitek ataupun calon arsitek muslim, sikap yang tepat terhadap hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab kita kepada Allah swt. Jangan pernah menganggap profesionalitas adalah memisahkan profesi dari keyakinan dan agama kita, karena hal itu akan menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang terbelah. Bagi masyarakat non-muslim, adalah wajib bagi kita untuk menghargai dan menghormati kepercayaan yang mereka anut. Namun demikian, bagi masyarakat muslim, adalah tanggung jawab kita untuk ikut serta mendidik mereka (sekali lagi: masyarakat muslim) dan meluruskan pemahaman mereka tentang hal ini. Tentu saja hal ini harus dilakukan dengan cara-cara yang terbaik dan dengan kata-kata yang menyentuh kesadaran, bukannya membuat sebagian masyarakat muslim malah menjadi semakin antipati terhadap ketentuan Allah swt ini. Nabi Muhammad saw telah memperingatkan kita untuk berkata baik atau diam. Karenanya, jika telah mencoba dengan cara-cara terbaik untuk memberikan pemahaman namun tidak juga diperoleh kesadaran, maka ingatlah bahwa kewajiban kita hanyalah menyampaikan, bukan memaksakan. Jalan terbaik setelahnya adalah meninggalkan keadaan itu sebagai bentuk penolakan kita terhadap keyakinan mereka yang keliru, dengan tetap menunjukkan sikap yang baik dan menghargai mereka. Namun begitu, rasa menghargai dan menghormati itu tidaklah harus diwujudkan dengan meniru atau mengikuti keyakinan mereka yang sebenarnya bertentangan dengan koridor yang telah ada di dalam agama. Jangan pernah merasa takut akan kehilangan rejeki yang halal, karena rejeki berasal dari Allah swt. Tidak akan berkurang rejeki kita karena kita meninggalkan pekerjaan yang dilarang Allah swt, dan tidak akan bertambah rejeki kita karena kita melakukan pekerjaan yang dilarang tersebut. Wallahu a’lamu bish shawab, dan Allah-lah pemilik segala pengetahuan…

6 thoughts on “Bagaimana Islam Menyikapi Takhayul dalam Proses Berarsitektur (Sebuah Bahan Renungan bagi Masyarakat Muslim)

    rendra said:
    October 14, 2009 at 2:22 pm

    assalamu’alaikum..,
    bu..,kalau menerangkan di kelas mohon dikasih waktu sendiri untuk mencatat biar kita bisa lebih paham dan perhatian terhadap materi yang anda beri,thanks a lot…,
    rendra,mahasiswa semester 1 uin maliki malang kelas B

    Yulia Eka Putrie responded:
    October 16, 2009 at 11:26 am

    waalaikumsalam, usul yang bagus, makasih masukannya ya…
    berhubung waktu sangat terbatas, sebaiknya yang kalian catat hanya poin2 yang kalian anggap penting saja, tidak usah semuanya… kalau menginginkan bahan perkuliahan, kalian bisa download di link: https://yuliaonarchitecture.wordpress.com/lecture-materials-2/
    di sana ada slide bahan ajar saya yang lengkap🙂

    Ifta Suwedi said:
    May 21, 2010 at 6:31 am

    Terlebih dahulu salam kenal dari saya…
    Saya sangat tertarik dengan tulisan anda ini, terutama kalimat “Jangan pernah menganggap profesionalitas adalah memisahkan profesi dari keyakinan dan agama kita, karena hal itu akan menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang terbelah”. Sering terjadi dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, bahwa hal2 yang berbau klenik lebih diikuti dari pada apa yang sudah terpampang jelas dalam Kitab suci dan sunah… dan atas nama profesionalitas kadang sebagian dari kita mengikuti alur-alur dari kepercayaan tersebut (kilen) dalam proses men-design.
    Memang terkesan sulit untuk menghindar kalau kita dihadapkan dengan situasi seperti itu, tapi seperti apa yang sudah anda tulis di atas, apa salahnya kita coba karena kita berpijak/berlandaskan pada sesuatu yang memiliki kebenaran yang hakiki, perkara rezeki itu urusan sang Khaliq, tinggal kita sebagai makhluk berusaha bagaimanacaranya untuk menjemput rezeki tersebut.
    Sukses buat tulisan-tulisannya…

    Yulia Eka Putrie responded:
    May 21, 2010 at 11:57 am

    Salam kenal juga mas Ifta,

    Terima kasih atas apresiasi mas Ifta..
    Betul sekali mas, memang sangat sulit untuk berusaha menghindari hal semacam itu, apalagi dengan kondisi masyarakat kita yang sangat menyenangi hal-hal mistis🙂 tapi memang di sanalah letak tanggung jawab kita sebagai arsitek muslim untuk mencari rejeki dengan jalan yang halal dan diridhai Allah. Insya Allah, jika kita ada di jalan Allah dalam mencari rejeki, Dialah yang akan membukakan pintu rejeki yang jauh lebih baik untuk kita. Sukses selalu untuk mas Ifta, senang berkenalan dengan anda🙂

    Hade said:
    November 5, 2010 at 4:42 pm

    Assalam.

    Dalam islam ada banyak landasan teori baik dari hadist riwayat maupun dr kitab sucinya sendiri, sebagai acuan konsep perencanaan arsitektur islam. Sayangnya arsitektur islampun banyak yang salah kaprah, justru, arsitektur2 kepercayaan (tradisional) lebih mencerminkan keislamian secara filosofisnya; lebih ramah, tidak berlebih2, dan penuh pertimbangan, serta unity dg lingkungan. Saya jadi penasaran, islam seperti apakah dan seperti apakah islam? Padahal F.L. Wright seseorang yang non islam, tapi karyanya sangat islami. Beliau sangat jelas akan perannya sebagai the steward of the earth (khalifatul fil ardh), berbeda dengan arsitek2 (terutama di Indonesia) yang membangun masjid dengan literatur yang salah. Dalam anggapannya bahwa masjid adalah sesuatu yang megah, monumental, mahal, memperkosa/memaksakan kehendak pada lingkungan, dan egois dg memangkas space alam kemudian lupa membayar kembali area hijau yang mereka hilangkan. Sementara dalam arsitektur tradisional yang berdasar dari konsep kepercayaan begitu sangat menghormati alam, kesederhanaan, unity dg lingkungan, dan lebih memahami bahwa manusia hidup berasal dari alam, dan hal itu sebenarnya adalah base utama dari kepribadian seorang islam; rahmatan lil alamin. “Hanya”, memang, terlepas dari benar atau salah mereka berfikir tentang selain islam, tapi setidaknya mereka berfikir tentang islam yang tidak mereka ketahui. Coba ya, islam lebih sedikit fleksibel untuk mengarahkan buah fikir nenek moyang kita yang sangat istimewa, bukan dengan menentangnya apalagi menghilangkannya. Karena adanya islam untuk menyempurnakan yang terdahulu, bukan untuk menghapuskannya.

    Terimakasih;
    Wassalam

    Yulia Eka Putrie responded:
    December 1, 2010 at 2:29 am

    Waalaikumsalam mas Hade, mohon maaf terlambat membaca dan membalas komennya. Terima kasih telah mengunjungi blog saya🙂

    Pertama, saya setuju sekali dengan pendapat mas Hade tentang karya arsitektur muslim yang seringkali kurang atau tidak islami, karena itu kita tidak bisa mengatakan karya itu sebagai arsitektur islami atau arsitektur islam. saya juga menulis beberapa artikel berkaitan dengan hal itu, misalnya https://yuliaonarchitecture.wordpress.com/2009/08/07/gambaran-surga-dan-arsitektur-bumi/ dan https://yuliaonarchitecture.wordpress.com/2009/01/03/grand-masjids-architecture-and-political-intention-within/ disana saya mengkritisi tentang bangunan masjid yang justru tidak islami karena bermegah-megahan dan dirancang tanpa pertimbangan akan kebutuhan masyarakat sekitarnya sebagai pengguna utama masjid itu.

    Kedua, tentang arsitektur tradisional. Benar sekali mas Hade, bahwa masyarakat tradisional begitu menghargai alam dan nilai menghargai alam tersebut sesungguhnya ada pula di dalam Islam. Saya tidak pernah mengatakan bahwa tradisi harus ditinggalkan atau dihapuskan. Hal ini dikarenakan, di dalam Islam, hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan duniawi (muamalah), termasuk di dalamnya tradisi dan budaya, sesungguhnya mendapat tempat yang sangat luas. Terdapat kaidah di dalam ilmu Usl Fiqh yang menyatakan bahwa hukum asal muamalah adalah mubah (boleh) selama tidak terdapat larangan di dalam Islam. Hal ini menunjukkan bahwa lokalitas, kesetempatan, tradisi dan budaya mendapatkan tempat yang sangat luas di dalam Islam. Selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum yang ada di dalam Islam, tradisi ini sangat dianjurkan untuk tetap dipertahankan dan dikembangkan. Hal yang perlu saya luruskan di dalam tulisan saya ini adalah mengenai tradisi yang bertentangan dengan Islam, karena didasarkan kepercayaan2 yang syirik. Nah, itulah yang saya bahas disini. Jadi, saya tidak bermaksud menentang seluruh bagian tradisi atau kebudayaan, karena sangat banyak dari tradisi dan kebudayaan nenek moyang kita yang baik, unggul, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan ketentuan-ketentuan di dalam Islam.

    Demikian, semoga dapat dipahami🙂 terimakasih, wassalam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s