Dosen-dosen Fakultas Kehidupan

Posted on Updated on

Di kampus saya dulu, salah satu perguruan tinggi negeri di Malang, saya memiliki beberapa dosen yang sangat banyak mengajarkan makna hidup kepada para mahasiswa di sana. Mereka adalah dosen-dosen lintas jurusan yang dikenal oleh banyak mahasiswa, walau tidak banyak yang mengetahui nama mereka, termasuk saya sendiri. Saya hanya mengenal hati mereka, hati yang menyentuh hati saya dan membuatnya terenyuh setiap kali mengenang mereka…

Salah satu dari mereka kerap kali saya temui di lokasi PKN saya di pembangunan gedung kampus kedokteran. Tidak jarang juga saya bertemu dengannya di samping gedung kampus saya sendiri. Beliau seringkali duduk di pinggir jalan sambil tersenyum setiap kali saya menyapa beliau. Bagi banyak orang, beliau mungkin hanya salah seorang dari banyak pengemis yang berkeliaran di kampus ini, tetapi beliau mengajarkan kepada saya lebih banyak daripada yang saya kira.

Saya seringkali hanya menyapa beliau dan duduk di samping tongkat yang beliau gunakan untuk menyangga salah satu kakinya yang lumpuh. Jarang sekali saya dapat memberikan sesuatu kepada beliau, karena uang bulanan saya seringkali terkuras untuk kertas gambar, pensil warna dan rapido. Ketika saya duduk di samping beliau itulah, biasanya beliau mengajarkan saya beberapa doa. Suara beliau yang sangat pelan dan terbata-bata membuat saya tidak pernah dapat mengerti doa apa yang beliau bacakan. Saya biasanya hanya mendengarkan dengan takzim dan kemudian tergagap-gagap ketika beliau menyuruh saya mengulangi doa yang beliau contohkan. Beliau juga selalu mendoakan saya agar cepat lulus kuliah. Bahkan setelah saya lulus pun, doa itu tetap beliau ulangi jika bertemu saya. Mata bapak tua itu begitu berbinar-binar ketika memanjatkan doanya, juga ketika mengajarkan kepada saya doa yang beliau ketahui. Saya ingat sekali senyum dan binar mata beliau. Di sana ada semangat untuk membagi semua yang beliau punya kepada orang lain. Mengapa mereka yang memiliki begitu sedikit mampu memberi begitu banyak?

Bapak tua yang saya ceritakan ini selalu berjalan tertatih-tatih mengelilingi kampus yang begitu besar dengan tas selempang kecil yang selalu tampak menggelembung. Saya selalu penasaran, mengapa beliau tidak pernah meninggalkan tas itu barang sejenak, walaupun beliau sering kerepotan membawanya, dikarenakan kelumpuhan yang beliau derita. Rasa penasaran itu kemudian terjawab di musholla kampus kedokteran tempat PKN saya. Ternyata isi tas itu adalah sebuah kopiah hitam, selembar baju koko yang telah lusuh, dan sehelai sarung yang juga telah lusuh. Dengan semua kesederhanaan itulah beliau menghadap Rabb-nya lima kali sehari, tepat pada waktunya. Pemandangan yang saya lihat saat itu tidak dapat saya lukiskan dengan kata apapun, begitu takzimnya saya melihat beliau mengeluarkan isi tasnya setelah berwudhu, mengenakannya melapisi pakaian sehari-harinya, lalu bergegas mengikuti shalat berjamaah di musholla itu. Wajah tua yang legam karena matahari itu tampak begitu bersih dan tenang karena hasrat bertemu Penciptanya. Saya cuma bisa tergugu waktu itu, mengingat betapa seringnya saya shalat dengan pakaian seadanya yang tidak saya yakini kebersihannya dan betapa jauhnya saya dari kebiasaan melaksanakan shalat tepat waktu seperti bapak tua itu. Mengapa saya yang memiliki begitu banyak tidak mampu memberikan yang begitu baik?

Sama seperti bapak tua di atas, ada lagi seorang dosen saya di fakultas kehidupan yang saya masuki. Beliau adalah seorang bapak penjual sendal jepit yang memiliki hanya sedikit persediaan dagangan, karena terbatasnya modal beliau. Dari jam 8.30 pagi sampai jam 5.00 sore beliau dengan istiqomah berdagang di jalan kecil di samping kampus, bahkan pada hari minggu sekalipun. Allahu Rabb, di usia yang telah demikian senja beliau harus berjuang demikian keras. Beliau berangkat dan pulang hanya dengan berjalan kaki dari kampung beliau di bantaran kali Brantas, dengan ransel yang berisi payung dan perlengkapan shalat. Setiap kali saya menghampiri beliau, beliau selalu sedang asyik membaca kitab kecil berisi doa-doa dan surah Yaasin di samping dagangannya. Bibir beliau tidak pernah alpa menyebutkan asma Allah, ingatan beliau tidak pernah lalai dari mengingat Allah, sebuah sikap yang jarang sekali saya bawa ketika sedang bekerja. Ketika saya masih kuliah dulu, setiap makan siang di kantin KPRI, saya akan selalu menemukan beliau sedang khusyuk bersimpuh di dalam musholla kecil di depan kantin itu. Selalu tepat waktu, beliau menutup dagangannya dengan selembar plastik dan menahannya dengan batu begitu mendengar adzan dzuhur, sementara saya memilih untuk menunda shalat setelah berlama-lama makan dan ngobrol dengan teman-teman saya. Di tengah keterbatasan-keterbatasan beliau, saya melihat kesabaran yang sangat tinggi dalam melaksanakan shalat lima waktu. Sabar ini pula yang beliau bawa di luar shalat. Beliau dengan sabar mencarikan sendal jepit yang cocok bagi calon pembelinya, dan dengan sabar pula tersenyum ketika orang itu tidak jadi membeli sendal jepitnya. Kesabaran itu menjadi mulia karena ia merupakan tanda kesetiaan beliau menanti rahmat-Nya. Sabar dan shalat, dua kata yang sering beriringan di dalam Al-Qur’an, saya temukan beriringan pula dalam diri seorang bapak penjual sendal jepit. Sementara itu, saya dengan masalah-masalah kecil saya masih saja tidak dapat bersabar dalam shalat dan selalu menuntut doa saya terkabul dalam sekejap. Mengapa saya yang telah memperoleh begitu banyak masih saja menuntut begitu banyak?

Di samping kedua bapak itu, masih banyak lagi dosen-dosen fakultas kehidupan universitas ini yang kadangkala tampil sebagai tukang parkir, tukang sapu, penjaga kampus dan penjaga warung. Mereka seringkali tidak dikenal dan mungkin tidak ingin terkenal. Walaupun begitu, hati mereka dikenal dan mendapat tempat di hati orang lain, siapa dan apa pun pekerjaan mereka. Dari mereka saya belajar bahwa kita tidak dapat menyentuh hati orang lain dengan hanya dengan kepintaran, kecantikan atau kemampuan kita. Hanya yang berasal dari hatilah yang dapat menyentuh hati. Itulah mengapa mereka yang tidak saya kenal, mereka yang begitu jauh dari saya, masih terasa begitu dekat di hati saya sampai saat ini. Sementara itu, hati saya masih saja bertanya, mengapa ia belum dapat menyentuh hati orang lain seperti mereka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s