Merenungkan Kembali Makna Kreativitas dalam Arsitektur

Posted on Updated on

kreativitas-41Bagi para perancang, aktivitas merenung tentu bukan hal yang asing lagi. Nyatalah bahwa setiap karya yang hadir di dunia merupakan buah perenungan di dunia ide si perancang. Dunia perenungan dan makna memang bukan hanya milik para filsuf dan ahli hikmah semata. Banyak arsitek yang menjadi begitu dikenal di masa lalu dan saat ini dikarenakan kedalaman pemikiran dan kekuatan konsepnya. Kegiatan perenungan memiliki arti yang sangat penting bagi keberhasilan sebuah proses perancangan.

Demikian pula halnya dengan kreativitas. Bagi arsitek, kreativitas merupakan sesuatu yang sama pentingnya dengan perancangan itu sendiri. Setiap karya yang hadir di dunia tentulah merupakan buah kreativitas perancangnya. Namun, apakah setiap perancang telah memaknai dengan benar kata kreativitas itu? Apakah ia telah menempatkan kreativitas pada posisi yang sepatutnya di dalam aktivitas perancangannya? Ataukah ia justru menjadi orang pertama yang keliru dalam memahami dan menerapkan makna kreativitas itu?

Untuk itu, di dalam kajian ini pembaca akan diajak untuk merenungkan kembali makna dari kreativitas, terutama di dalam arsitektur. Terdapat dua hal pokok yang akan dibahas di sini. Pertama-tama, kajian ini akan memaparkan mengenai kreativitas dalam dunia arsitektur secara umum. Setelah itu, pembahasan akan difokuskan pada kreativitas dari sudut tinjau arsitektur Islam, sebagai sebuah contoh kasus penerapan kreativitas dalam berarsitektur.

Arsitek, Kreativitas dan Pengolahan Bentuk
Kata kreativitas tentu bukan sesuatu yang asing lagi bagi orang-orang yang berkecimpung di bidang perancangan, salah satunya arsitektur. Pameo “perancangan tanpa kreativitas ibarat sayur tanpa garam” misalnya, adalah kata-kata yang acapkali terdengar di dunia pendidikan arsitektur untuk menekankan pentingnya hal ini. Karenanya, kata kreativitas seringkali menjadi pemacu semangat dalam proses merancang, namun tidak jarang pula ia terasa bagai momok bagi para pemula dan mahasiswa perancangan. Hal ini dikarenakan mereka merasakan adanya tuntutan yang besar untuk membuktikan kreativitas lewat hasil rancangan mereka.

Kreativitas di dalam arsitektur seringkali diwujudkan dalam pengolahan bentuk fisik bangunan yang aneh dan menarik perhatian. Semakin aneh dan menarik perhatian bentuk yang dihasilkan, semakin kreatiflah si arsitek itu dianggap oleh diri dan lingkungannya. Hal serupa terjadi pula di kalangan mahasiswa arsitektur dan dunia pendidikan arsitektur pada umumnya. Bentuk yang berbeda dan mencolok kerap kali mengundang decak kagum dan perhatian, baik dari sesama mahasiswa maupun dari para dosen. Predikat kreatif lalu dianggap telah pantas disematkan pada mahasiswa yang bersangkutan.

Pemaknaan kreativitas sebagai kemampuan pengolahan bentuk semata, seperti dijelaskan di atas, sebenarnya merupakan sebuah pandangan yang memaknai kreativitas secara sempit. Kerangka pikir ini akhirnya mengarahkan para arsitek untuk berlomba-lomba mencari bentuk-bentuk baru yang rumit, menarik perhatian dan mencengangkan. Sebaliknya, mereka tampaknya tidak terlalu peduli apakah bentuk-bentuk yang baru itu memiliki makna yang dipahami oleh masyarakat ataukah tidak. Padahal, masyarakatlah yang sehari-hari akan berinteraksi dengan bangunan yang mereka rancang. Sebaliknya, sang arsitek mungkin hanya satu dua kali (atau mungkin tidak pernah lagi) mengunjungi bangunan yang dirancangnya. Dengan demikian, ia tentu tidak akan pernah menyadari dampak apa yang ditimbulkan oleh bangunan yang dirancangnya kepada orang lain. Apakah masyarakat memperoleh dampak yang positif, atau malah negatif? Mereka tidak pernah tahu. Maka, kreativitas bisa jadi bukanlah sebutan yang tepat bagi sebuah tindakan penonjolan bentuk fisik sebuah obyek arsitektur, terlebih jika hal itu dibingkai pula oleh ketidakpedulian si arsitek akan dampak tindakannya di kemudian hari.

kreativitas-3Tidak jarang pula terjadi, arsitek bahkan tidak menyadari apakah kreativitas yang ia miliki dan ia wujudkan dalam bentuk-bentuk yang aneh itu merupakan cerminan dari idealisme-nya sebagai arsitek, ataukah justru hanya bayangan buram dari egoisme-nya yang ingin diakui, dikenal dan dihargai. Idealisme hadir sebagai wujud pertanggungjawaban dari latar belakang pendidikan yang dimilikinya. Sebaliknya, egoisme justru lebih merupakan gambaran ketidakterdidikan yang tersembunyi di balik gelar-gelar akademisnya. Salah satu contoh kearifan di masa lalu tampaknya dapat diangkat di sini untuk menunjukkan bahwa kreativitas yang dimiliki si arsitek tidak selalu harus diukur dengan seberapa terkenalnya mereka di masyarakat. Adalah sebuah kenyataan yang menarik untuk dicermati, bahwa perkembangan pesat arsitektur Islam di awal peradaban Islam tidak diikuti dengan penyebutan banyak nama sebagai arsitek dari bangunan-bangunan istana dan masjid-masjid kuno di Asia Tengah dan Eropa Selatan. Sebagian besar mereka tampaknya mencukupkan diri berada di balik layar dan membiarkan masyarakat menilai kualitas bangunan yang mereka rancang. Fenomena yang berbeda tampak saat ini, di mana kebanyakan arsitek berlomba-lomba untuk dikenal tanpa pernah dapat menghasilkan karya yang pantas disebut sebagai arsitektur; “arsitek tanpa arsitektur”.

Di dunia yang majemuk ini, tampaknya para arsitek harus dapat menarik garis tegas untuk memisahkan “egoisme” mereka dengan “idealisme” dalam berarsitektur, terutama untuk hal-hal yang dianggap membenturkan kreativitas (baca: pengolahan bentuk) dengan realitas di masyarakat. Ada kalanya arsitek perlu belajar untuk lebih banyak mendengar, merasakan, berempati dan mengakui bahwa sebagai manusia, mereka juga memiliki kekurangan. Dengan demikian, mereka tidak akan memaksakan, dengan alasan “kreativitas”, untuk menghadirkan bentuk-bentuk arsitektural yang bisa jadi hanya baik di mata mereka sendiri, bukan di mata masyarakat banyak. Kreativitas harus dikembalikan pada kedudukannya yang tepat dan diberikan makna yang sesuai, bukannya sebagai kemampuan pengolahan bentuk-bentuk fisik semata.

Kreativitas vs Batasan (vs: Istilah yang Tepat?)
Implikasi lain dari pola pikir di atas –menganggap kreativitas sebagai kemampuan pengolahan bentuk semata–, adalah adanya kecenderungan untuk memaknai batasan-batasan yang ada di dalam arsitektur sebagai sesuatu yang negatif bagi kreativitas. “Kenapa harus ada begitu banyak batasan? Bukankah kita akhirnya tidak bisa kreatif dalam mengeluarkan ide-ide kita?”, demikian pertanyaan yang kerap dilontarkan para mahasiswa, menanggapi banyaknya batasan di dalam perancangan. ”Bukankah sebagai calon arsitek kita harus kreatif? Jika dibatas-batasi, bagaimana kita bisa menghasilkan karya yang bagus?”.

Padahal, batasan tidak bermakna negatif dalam kreativitas dan seni. Batasan justru kita butuhkan untuk menguji kreativitas berbuat dan berkarya di dalam koridor tertentu. “Creativity is how we manage things in constraints”, demikian kata Prof. Sandi A. Siregar, di salah satu workshop mengenai perancangan arsitektur. Apakah batasan merupakan wujud pengekangan kreativitas? Tentu saja tidak. Seseorang dianggap kreatif hanya jika ia mampu berbuat sesuatu di dalam batasan yang ada. Jika ia mampu berbuat sesuatu dengan kebebasan yang mutlak, maka tidak ada kreativitas di dalamnya, hal itu merupakan hal yang biasa saja. Bayangkanlah sebuah pertandingan sepakbola yang tidak dibatasi oleh peraturan yang mengikat, wasit yang adil dan lawan main yang seimbang. Gol yang dihasilkan dari pertandingan semacam itu akan terasa hambar dan tidak ada artinya. Pemain yang berhasil menerobos gawang lawan pun tidak akan dianggap hebat. Lain halnya jika ia mampu membuat gol di tengah pertandingan yang dibatasi oleh waktu yang sempit, peraturan yang mengikat dan pengawasan wasit yang ketat, serta dengan lawan main yang seimbang.

Dengan demikian, kreativitas ternyata bukanlah sesuatu yang harus selalu terbentur oleh batasan yang ada. Kreativitas justru hadir di tempat-tempat di mana batasan itu ada, bukan untuk menerobosnya, melainkan untuk mengolah secara optimal segala sesuatu yang ada di dalam batasan itu menjadi lebih berdaya guna. Terdapat banyak contoh di dunia perancangan arsitektur mengenai penerapan dari pemahaman ini. Salah satu contoh yang agaknya dapat menggambarkan pemahaman ini dengan jelas adalah penerapannya dalam arsitektur Islam berikut ini.

Kreativitas dan Batasan dalam Arsitektur Islam: Sebuah Studi Kasus
Arsitektur Islam tidak mengenal kebebasan yang mutlak di dalam setiap aspeknya, baik aspek keilmuan, teknologi, maupun aspek keseniannya. Terdapat beberapa batasan, terutama dalam berkesenian, yang bersumber dari ketentuan syariat di dalam Islam. Bertolak belakang dengan semboyan “l’art pour l’art” atau “seni untuk seni” yang mengisyaratkan adanya kebebasan yang mutlak dalam berkesenian, aspek estetika di dalam arsitektur Islam menerima adanya batasan-batasan tertentu dalam berkarya dan menafikan kebebasan mutlak semacam itu.

Secara umum, pandangan di atas juga mengisyaratkan, bahwa seperti halnya seni yang tidak bebas nilai, begitu pula halnya ilmu. Sebagai contoh, dalam pandangan ilmu tidak ada yang salah jika seorang peneliti hendak meneliti aktivitas manusia di dalam kamar mandi. Ilmu ini tentu saja bermanfaat untuk merancang kamar mandi yang sesuai dengan aktivitas manusia di dalamnya. Sebaliknya, dari sudut pandang etika, jika kita meneliti dengan cara memasang kamera tersembunyi (karena pasti akan sangat sulit menemukan sampel penelitian yang dengan sukarela mempertontonkan aktivitasnya itu di depan kamera, bukan?), tentu saja hal ini tidak dapat dibenarkan. Walaupun demikian, adanya batasan-batasan etika ini tidak lantas membuat tujuan dari penelitian itu tidak dapat dicapai sama sekali. Dalam hal ini, batasan etika justru berfungsi memacu akal untuk mengeksplorasi cara dan kemungkinan yang lebih baik dalam melakukan penelitian, misalnya dengan simulasi komputer berdasarkan data-data ergonomi dan hasil wawancara dengan sampel penelitian. Di sinilah batasan menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan dari kreativitas. Kreativitas, dengan demikian, merupakan kemampuan manusia untuk tetap dapat berbuat sesuatu di tengah batasan, dengan tidak melanggar batasan-batasan itu.

Dalam khasanah arsitektur Islam, terdapat sebuah batasan di dalam seni untuk tidak menggambarkan figur manusia atau hewan secara natural. Batasan ini, terlepas dari berbagai perbedaan pendapat tentangnya, ternyata menjadi peluang yang sangat besar di tangan para seniman dan arsitek muslim di masa awal perkembangan peradaban Islam. Bukannya merasa terkekang lalu menyerah begitu saja, mereka malah menjadikan batasan itu sebagai tantangan tersendiri untuk membuktikan seberapa besar kemampuan mereka untuk berkarya di dalam koridor itu. Eksplorasi kreativitas yang mereka lakukan secara intensif di dalam koridor nilai-nilai Islam, ternyata menghasilkan suatu ragam seni dekorasi tersendiri yang sangat unik dan estetik. Sejarah pun kemudian mengukir karya peradaban mereka dengan tinta emas. Di beberapa belahan dunia, seperti di Spanyol, Mesir, Iran, dan Turki, obyek-obyek arsitektur dari masa ini dilestarikan sebagai bagian dari peradaban yang bernilai tinggi.

kreativitas-2Salah satu dari ragam seni dekorasi yang khas ini adalah struktur arabesque. Struktur ini merupakan sebuah pola infinitif (tanpa batas awal dan akhir) pada sebuah bidang permukaan, yang memiliki tingkat kerumitan dan keindahan yang sangat tinggi. Berbagai satuan modul terkecil jalin-menjalin membentuk modul-modul lain yang lebih besar. Garis-garis lengkung kait-mengkait dengan garis-garis lurus, membingkai motif-motif geometris, sulur-sulur tanaman dan tulisan kaligrafi di dalamnya dengan tingkat presisi dan ketelitian yang sangat menakjubkan untuk sebuah produk yang dihasilkan di masa-masa sebelum industrialisasi merebak. Garis-garis itu mengaliri seluruh bidang dan menuntun mata pengamatnya untuk bergerak tanpa henti dari satu titik ke titik yang lain, dari satu modul ke modul lain yang lebih besar, dari satu kesatuan permukaan yang besar ke detil-detil terkecil di setiap sudutnya. Kesan mengalir begitu kuat terbentuk oleh perulangan-perulangan setiap satuan terkecil hingga terbesarnya. Uniknya, kuatnya irama perulangan ini mampu menghasilkan keselarasan yang tinggi, tanpa memberi kesempatan bagi kesan monoton untuk ambil bagian di dalamnya. Kesan monoton yang mungkin muncul itu telah teredam dengan sendirinya oleh kesibukan mata kita menelusuri sikuen-sikuen visual yang disuguhkan oleh setiap detil terkecilnya. Sikuen-sikuen visual yang terbentuk oleh kombinasi berbagai modul ini seolah menantang pengamatnya untuk menemukan batas awal dan akhirnya, sesuatu yang tidak akan ditemukannya.

kreativitas-1Contoh lain dari hasil menakjubkan kreativitas para arsitek dan seniman muslim di masa lalu yang tetap berada di dalam batasan nilai-nilai Islam, adalah struktur muqarnas. Muqarnas, atau kubah stalaktit, merupakan salah satu bentuk terindah dari seni dekorasi yang dikembangkan di masa itu. Lebih dari itu, muqarnas merupakan pencapaian tertinggi dari para arsitek di masa itu yang masih sangat dihargai dunia hingga saat ini. Kemampuan mereka untuk menghasilkan sebuah bentuk dekorasi yang tiga dimensional merupakan sebuah langkah besar yang belum terpikirkan oleh seniman dan arsitek manapun di masa itu. Wujud dekorasi yang meruang ini membawa setiap orang yang melihatnya untuk tidak semata-mata menjadi subyek yang terpisah dari obyek, melainkan untuk masuk, berada di dalamnya dan menjadi bagian darinya. Tidak sekedar mengamati, namun mengalaminya. Mengalami perasaan tercekam yang mungkin hadir sebab kerumitan dan ketinggiannya, dan sebaliknya, mengalami perasaan takjub akibat keteraturan yang tampak perlahan di balik segala kerumitannya. Teori chaos dan fractal yang bertolak belakang seolah-olah berdampingan dengan akur di dalam struktur ini.

Tidak hanya itu, pantulan dan bauran cahaya yang menerobos dari jendela-jendela kecil di sekeliling muqarnas turut pula menambah dramatis efek kedalaman pada relung-relung kecil dan besar yang saling bertumpuk membentuk muqarnas. Warna keemasan dari setiap relung muqarnas dipertegas dengan sinar matahari di waktu siang dan cahaya bulan di waktu malam, menghasilkan kesan pergerakan dan menggambarkan perjalanannya melampaui berbagai rentang zaman.

Perulangan-perulangan satuan terkecil yang kita temui pada struktur arabesque, kita temui pula pada struktur ini. Perulangan-perulangan itu bahkan tampak lebih masif pada struktur muqarnas yang tiga dimensional. Kontinuitas yang kuat itu membawa mata terus berkelana hingga kita sampai pada hanya satu titik tertinggi di puncaknya, untuk kemudian turun kembali dan menyadari akan ketiadaan awalan dan akhirannya. Transformasi bidang dua dimensional menjadi bentuk tiga dimensional yang tampil samar-samar melalui jalinan modul yang dijejerkan pada struktur arabesque, tampil pula dengan lebih nyata dalam struktur muqarnas melalui modul-modul yang ditumpukkan satu sama lain. Apresiasi yang setinggi-tingginya tampaknya harus kita haturkan pada kepiawaian mereka mentransformasi bidang dua dimensional menjadi tiga dimensional, pada keberhasilan mereka memadukan kesederhanaan dan kompleksitas di dalam satu rancangan sekaligus, dan pada pencapaian mereka dalam penggunaan teknik-teknik perulangan yang inovatif di masanya. Agaknya dapat pula kita simpulkan bahwa ekplorasi kreativitas yang dilakukan oleh para seniman dan arsitek muslim di masa lalu telah jauh berhasil “melampaui” batasan yang ada. Dari karya-karya mereka itu, kita akan menyadari bahwa mereka tidak lagi disibukkan pada apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan, melainkan pada bagaimana cara terbaik untuk melakukan apa yang dapat mereka lakukan.

Penutup
Penyempitan makna kreativitas sebagai kemampuan pengolahan bentuk semata, sebagaimana yang dipahami oleh banyak arsitek dan mahasiswa arsitektur, ternyata berimbas buruk pada gambaran tentang kedudukan kreativitas itu sendiri di dalam perancangan. Selain itu, kerangka pikir ini juga telah mengakibatkan ditempelkannya imej negatif terhadap batasan sebagai sesuatu yang mengekang kreativitas. Dari uraian di atas, agaknya dapat kita sadari bahwa ternyata batasan dan kreativitas ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Tidak ada kreativitas tanpa batasan, karena kehadiran batasan itulah yang membuat kreativitas mendapatkan tempatnya pula di dalam dunia perancangan.

Jika kita tengok lebih dalam, maka akan tampak jelas bahwa batasan-batasan yang ada di dalam arsitektur ternyata tidak sekedar bermanfaat dalam memacu kreativitas para seniman dan arsitek. Batasan-batasan itu ternyata juga memantapkan posisinya sebagai faktor yang membedakan antara sebuah aliran arsitektur dengan aliran arsitektur lainnya. Sebagai contoh, batasan-batasan dalam arsitektur Islam di atas merupakan faktor yang membuatnya berbeda dengan aliran arsitektur lainnya, sebut saja aliran arsitektur klasik yang berkembang dalam kurun waktu yang kurang lebih semasa dengannya. Salah satu contohnya, adalah keunikan teknik-teknik dekorasi yang mentransformasi bidang-bidang dua dimensional menjadi elemen dekoratif yang meruang. Selain itu, kuatnya perulangan dan kontinuitas pada arsitektur Islam menjadikannya berbeda dengan ornamentasi pada arsitektur klasik yang selalu memiliki klimaks di titik tertentu. Pada tingkat tertentu, terlihat nyata bagi kita, bahwa justru dikarenakan batasan-batasan itulah saat ini kita dapat menyaksikan kekayaan khasanah arsitektur di tempat-tempat dan waktu-waktu yang berbeda.

Demikianlah sebagian gambaran tentang kreativitas dan batasan di dalam dunia perancangan, khususnya arsitektur. Keduanya ternyata tidak sedang bertarung untuk memenangkan diri masing-masing, melainkan sedang bahu-membahu untuk memberikan yang terbaik untuk diolah lebih lanjut oleh para arsitek, menjadi karya-karya yang pantas diberi acungan jempol; tidak hanya disebabkan pengolahan bentuk yang aneh dan menarik perhatian, namun dikarenakan karya arsitektur itu berhasil mengatasi tantangan tanpa menerobos koridor-koridor batasan yang ada.

15 thoughts on “Merenungkan Kembali Makna Kreativitas dalam Arsitektur

    kamal said:
    March 30, 2009 at 1:21 am

    excellente, makin sip aja tulisannya…salut euy

    Yulia Eka Putrie responded:
    March 30, 2009 at 6:18 am

    trimakasih pak! blog pak kamal juga makin ramai aja sepertinya😀

    Fauzing said:
    April 18, 2009 at 10:53 am

    semoga karya-karya dari wujud kreatifitas arsitektur dalam sebuah perancangan tidak keluar dari nilai alam. Sejauh yang saya ketahui semakin tinggi kreatifitas yang dinampakkan dalam arsitektur, hanya berbuah pada kerusakan alam dan mempercepat arus pembunuhan kretifitas tuhan yang berada di bumi. Tidakkah karya arsitektur memikirkan itu, tidakkah mahasiswa saintek memahami itu, dan semoga kita bukan bagian dari penghancur alam semesta.

    Yulia Eka Putrie responded:
    April 21, 2009 at 5:41 am

    Amin ya Rabb al-alamiin. terima kasih atas comment sdr. Fauzing di atas. Tulisan saya ini sebenarnya hendak menegaskan bahwa kreativitas bukanlah sekedar “kemampuan pengolahan bentuk” semata. Selama ini kreativitas memang cenderung dimaknai secara sempit, karena itu sdr. Fauzing juga berpendapat bahwa semakin tinggi kreativitas arsitektur, semakin rusak alam dan ciptaan Tuhan lainnya. Saya perlu mengklarifikasi bahwa kreativitas tidak berbanding lurus dengan kerusakan, jika kreativitas dimaknai secara benar. Bagaimanapun, kami yang belajar di dunia besar keilmuan arsitektur harus berusaha menentang arus besar kerusakan dunia atas nama “kreativitas” ini. Secara mendasar, berarsitektur bukanlah sesuatu yang diharamkan, karena nabi berarsitektur, shahabat berarsitektur, manusia memiliki fitrah berarsitektur. Nilai-nilai dan koridorlah yang tak boleh diabaikan dalam berarsitektur itu. Jika arsitektur tetap di dalam koridor yang ditentukan Allah, ia tak akan jadi penghancur, melainkan salah satu jejak tugas kekhalifahan manusia di muka bumi.

    mabiology said:
    April 29, 2009 at 7:15 pm

    Memang benar nabi berarsitektur.. Tuhan juga berarsitektur, dengan planet, matahari, dan semesta jagad raya… tiada bandingnya. kreatifitas yang benar-benar tersusun sedemikian rapi dan teratur. Namun kecenderungan penyempitan nilai manusia dalam pemahaman tersebut yang mendorong sebuah pemikiran dalam bidang keilmuan menjadi arti kerusakan. Tanpa adanya pemahaman akan nilai-nilai alam buah Arsitektur Tuhan, maka manusia cenderung untuk menghalalkan segala cara.
    Hutan yang begitu luas, habis oleh bangunan-bangunan. Air sebagai sumber kehidupan, telah menjadi lorong-lorong limbah. Udara tercemar asap pabrik dari bangunan yang tidak bertanggungjawab. bagaimana anda mempertanggungjawabkan semua itu?
    Saya sangat sedih jika, nilai dalam arsitektur itu terkotak-kotak. Menurut saya Arsitektur merupakan sebuah nilai perwujudan alamiah dari sebuah kreatifitas dalam mendekatkan manusia kepada Tuhannya, memahami alam semesta tanpa batas.

    Yulia Eka Putrie responded:
    April 30, 2009 at 5:01 am

    Anda benar. Sekali lagi, saya kutip penjelasan saya di comment sebelumnya: Nilai-nilai dan koridorlah yang tak boleh diabaikan dalam berarsitektur itu. Jika arsitektur tetap di dalam koridor yang ditentukan Allah, ia tak akan jadi penghancur, melainkan salah satu jejak tugas kekhalifahan manusia di muka bumi. (aren’t you reading?).

    Pertanyaan anda: “Bagaimana anda mempertanggungjawabkan semua itu?” We’re working on it, kami sedang berusaha untuk menjadikan arsitektur lebih sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kami selalu mengkajinya di dalam kurikulum arsitektur UIN Malang. Doakan usaha kami dalam keilmuan ini dapat menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah pemilik segala pengetahuan.

    Pertanyaan saya: “Bagaimana anda mempertanggungjawabkan semua itu?” Bukankah anda juga memiliki rumah tinggal? Bagaimana cara anda berarsitektur? Ataukah anda memilih untuk tidak berarsitektur sama sekali? Sudahkah ada cukup pepohonan untuk mengganti oksigen yang terserap setiap hari? Sudahkah menyisakan lahan terbuka minimal 30% untuk resapan air hujan? Sudahkah rumah anda menjadi rumah hemat energi agar tidak ikut serta dalam global warming? Usaha-usaha ringan inilah yang harus kita lakukan terlebih dahulu sebelum dapat memprotes kerusakan lingkungan global. Seperti kata Aa Gym, mulai dari saat ini, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari diri sendiri.🙂 Bagaimanapun, terima kasih karena comment anda, saya tahu, merupakan bagian dari keprihatinan anda dan kita semua tentang kerusakan di bumi akibat tangan-tangan manusia di segala bidang.

    mabiology said:
    April 30, 2009 at 5:52 pm

    sebelumnya saya ucapkan selamat. semoga anaknya ibu yang berada di kandungan kelak menjadi anak yang luar biasa seperti ibunya.

    sampai saat ini saya belum punya tempat tinggal, jadi saya ggak bisa comment tentang tempat tinggal. langit adalah atap rumah saya, alam adalah jiwa saya.

    tapi terima kasih atas semua. fauzing

    Fajar said:
    May 2, 2009 at 3:57 am

    Maaf, saya tertarik dengan konsep arsitektur islam, dan mungkin akan saya gunakan dalam mendesain rumah-perumahan di tugas akhir saya. Ada beberapa pertanyaan yang saya blum tau :
    1. arsitektur tetap di dalam koridor yang ditentukan Allah, dalam mendesain rumah dengan konsep islami itu yang seperti ap ya…?
    2. Kemudian yang membedakan ma konsep2 rumah yang laen itu ap?
    Mohon bantuannya, (shanaou_private@yahoo.co.id)
    Terima kasih

    Yulia Eka Putrie responded:
    May 2, 2009 at 5:26 am

    Insya Allah akan saya kirimkan attachment ke e-mail anda paper Assoc. Prof. Spahic Omer yang berjudul “the Holy Qur’an on Housing”. Mudah-mudahan paper ini bermanfaat dalam perancangan tugas akhir sdr. Fajar.

    yuswan f said:
    May 19, 2009 at 9:02 am

    asw bu saya dapat tugas pemukiman. terkait aspek islami menurut prof Spahic Omer yang berjudul “the Holy Qur’an on Housing” dengan kelayakan pemukiman dan saya mengambil tema kampung improvment progame. bisa minta datanya? sebelumnya terima kasih wass

    Yulia Eka Putrie responded:
    May 20, 2009 at 6:43 am

    wassalam, kalau tulisan Prof. Omer sepertinya sdh diberi bu Nunik ya? kalau data KIP saya tidak punya, coba tanya pak Agung atau bu Erna. Atau bisa hubungi lab. permukiman ITS…

    nisrina said:
    October 25, 2009 at 4:45 am

    kreatif banget ya coba klo aku bisa bikin kayak gitu juga;d

    Yulia Eka Putrie responded:
    October 25, 2009 at 9:36 am

    🙂 saya yakin kita2 sebenernya juga bisa kreatif seperti mereka, kuncinya hanya menyikapi batasan secara positif, tul ngga?

    anwar said:
    August 22, 2012 at 5:53 pm

    ass…
    salut dengan tulisan ibu…
    sy seorang alumni mahasiswa teknik sipil,,,
    didunia kerja tiba2 jatuh cinta sm dunia arsitektur…
    ditambah setelah baca artikel ini,,,
    maaf sy mw nanya…bisa ngga ya basic seperti sy belajar arsitektur…

    Yulia Eka Putrie responded:
    September 3, 2012 at 4:55 am

    waalaikumsalam,
    hehehe terima kasih mas anwar🙂 tentu bisa… di dalam diri setiap manusia itu aslinya udah ada kemampuan mendesain atau merancang… manusia juga memiliki rasa keindahan… contohnya yang paling sederhana aja misalnya kalo mau jalan, pasti kita merencanakan baju apa yang mau kita pakai, matching sama celana apa, sepatu atau sendal, topi, dsb😀 itu juga salah satu kemampuan yang diperlukan di dalam arsitektur.. dan yang namanya belajar kan minal mahdi ilal lahdi, dari lahir sampai liang kubur, ga ada kata terlambat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s