Why I Respect Them More…

Posted on Updated on

Salah satu perbedaan mendasar antara ilmuwan Barat dan ilmuwan Muslim terletak pada pandangan mereka terhadap penghargaan atas diri dan karyanya. Adanya pengakuan terhadap hak atas kekayaan intelektual seseorang di dunia Barat seringkali mewujud dalam besarnya nominal yang harus dikeluarkan oleh setiap pihak yang ingin memanfaatkan hasil penemuan atau penelitiannya. Jurnal-jurnal dijual dengan harga mahal, lisensi penemuan dibayar dengan harga yang melangit, begitu pula dengan hak paten atas suatu produk. Penerbit yang ingin mempublikasikan suatu buku harus memperoleh ijin penerbitan atau penerjemahan dengan biaya yang tidak sedikit, akibatnya harga buku pun melangit.

Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pola pikir materialistis yang telah menyatu dengan peradabannya. Selain itu, paham individualisme tampaknya juga memiliki peran penting dalam pembentukan persepsi internal dalam diri ilmuwan Barat. Kecerdasan dan luasnya pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang dimiliki secara mutlak dan karenanya harus diakui oleh orang lain. Hal ini pula yang menyebabkan para ilmuwan Barat seringkali sama terkenalnya dengan penemuan yang dihasilkannya. Orang awam bahkan lebih mengenal Einstein tanpa harus memahami teori relativitas yang dicetuskannya. Kenyataan ini tentunya bukan semata-mata kesalahan para ilmuwan itu sendiri, tetapi lebih merupakan akibat kumulatif dari pola pikir kolektif masyarakat Barat yang memang mengagungkan potensi-potensi individu dan menilai segala sesuatu berdasarkan materi.

Sikap yang sangat bertolak belakang dengan kenyataan di atas dapat kita lihat pada diri ilmuwan-ilmuwan muslim di masa lalu. Kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam segala bidang di masa itu hanya diikuti oleh sedikit penyebutan ilmuwan muslim sebagai penemu. Hal ini pun baru banyak disadari di abad-abad terakhir ini, setelah penelitian intensif mengenai karya-karya mereka mengungkapkan bahwa merekalah sebenarnya the founding fathers dari banyak teori ekonomi, kedokteran, fisika dan sebagainya yang diklaim sebagai penemuan ilmuwan Barat. Padahal, etos belajar dan mencari ilmu yang dimiliki masyarakat muslim saat itu menyebabkan sebagian besar dari mereka pantas mendapat sebutan ilmuwan. Sikap tawadhu’ yang bersumber dari ajaran Islamlah yang membuat mereka tidak menonjolkan dirinya sendiri sebagai orang yang berilmu. Imam Syafi’i mengucapkan sebuah kalimat yang menjadi saksi akan sikap tawadhu ini, “Saya ingin sekali manusia mengetahui ilmu ini, dan tidak menisbahkannya sedikit pun kepada saya selama-lamanya,” Beliau lantas memberi alasan, “Agar aku diberi pahala karenanya, dan mereka tidak memuji aku.” Segala pengetahuan mereka yakini berasal dari Allah dan hanya milik Allah.

“…Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]:32).

Pengetahuan yang ada pada diri kita sesungguhnya sangat terbatas pada apa yang diijinkan oleh Allah untuk kita ketahui dan kita miliki. Karenanya, tidak pantas seorang ilmuwan muslim menonjolkan dan menyombongkan kemampuan, yang bila Allah kehendaki dapat sirna dalam sekejap, misalnya saja lewat hilangnya ingatan atau sebab-sebab lain yang tak pernah kita kira sebelumnya. Hak atas kekayaan intelektual itu sesungguhnya hanya milik Allah semata.

Sikap ini pun mewujud dalam hasil-hasil keilmuan mereka, berupa ribuan kitab yang diterjemahkan dan disebarluaskan tanpa harus membayar lisensi sedikitpun kepada sang pengarang. Tradisi keilmuan ini terus dilanjutkan hingga saat ini. Untuk menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku laris dari Timur Tengah misalnya, sebuah penerbit di Indonesia hanya perlu memohon ijin tanpa harus mengurus hak paten dari pengarang atau penerbit buku aslinya. Bayaran yang diberikan lebih berupa bagi hasil dari keuntungan, yang besarnya seringkali lebih ‘ditentukan’ oleh rasa terima kasih dan etika penerbit yang merasa diuntungkan dari penjualan buku-buku terjemahan itu.

Tidak jarang para penulis itu tidak bersedia dibayar sepeser pun. Mereka malah berterima kasih atas usaha penerjemahan dan penerbitan hasil karyanya. Mereka merasa sangat beruntung, karena ilmu itu dapat diperoleh lebih banyak orang dan karenanya lebih banyak menuai manfaat. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi saw yang menjanjikan kebaikan yang jauh lebih besar kepada orang-orang yang menjadi jalan bagi orang lain untuk mendapatkan petunjuk.

Penghormatan masyarakat muslim di masa lalu kepada para ilmuwannya tidak semata-mata dinyatakan melalui nominal-nominal tertentu. Lebih jauh, apa yang kita kenal saat ini sebagai etika mengkutip pernyataan atau teori dari orang lain, yaitu dengan selalu menyebutkan sumber aslinya, sebenarnya merupakan cerminan dari penghargaan ini. Kebiasaan ini mulai berkembang sebagai salah satu tradisi keilmuan ketika metode takhrij hadits Nabi saw mensyaratkan sanad perawi disebutkan secara lengkap untuk mencegah terambilnya hadits-hadits dhaif atau palsu dari pihak-pihak yang tidak memiliki kompetensi. Pada masa-masa sebelumnya, etika kutip-mengkutip ini belum dikenal dalam tradisi keilmuan. Hal ini tampak pada banyaknya hasil karya filsuf Yunani Kuno yang saat ini baru diketahui ternyata diambil dari doktrin-doktrin Mesir Kuno tanpa menyebutkan sumber aslinya, seperti doktrin air Thales, udara Anaximes, api Pythagoras, Heraclitus, Democritus dan Plato.

Karena itu, bagi ilmuwan-ilmuwan muslim saat ini, terdapat dua pilihan jalan yang dapat ditempuh dalam menyikapi keilmuannya. Keduanya menjanjikan keuntungan masing-masing dan memiliki konsekuensi masing-masing. Sesungguhnya, uswatun hasanah (contoh yang baik) itu telah terbentang di depan mata kita lewat akhlaq, sikap dan perilaku para pendahulu kita.

”Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa [42]: 20).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s