Konteks Arsitektural Konsep Seni Islam al-Faruqi

Posted on Updated on

 

Yulia Eka Putrie

Jurusan Arsitektur

Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri (UIN) Malang

e-mail: yuliaeka_p@yahoo.com

 

Abstrak

Konsep seni Islam yang dicetuskan oleh Ismail Raji al-Faruqi di dalam buku “Atlas Budaya Islam”, merupakan salah satu konsep yang sangat komprehensif mengenai estetika dan seni berdasarkan pandangan hidup (worldview) Islam. Konsep seni Islam al-Faruqi ini melingkupi berbagai bidang seni, seperti seni sastra, kaligrafi, ornamentasi, seni ruang dan seni suara. Karenanya, konsep ini diharapkan dapat pula digunakan di dalam bidang keilmuan arsitektur, khususnya arsitektur Islam. Walaupun al-Faruqi menempatkan arsitektur sebagai salah satu bagian di dalam seni ruang, namun terdapat beberapa karakteristik arsitektur yang berbeda dengan seni ruang yang dimaksudkan al-Faruqi. Karena itu, dibutuhkan kajian lebih lanjut untuk menempatkan konsep ini dalam konteks pemikiran arsitektur. Hal ini dilakukan agar konsep seni Islam ini dapat ‘dibaca’ dengan kosakata keilmuan arsitektur. Lebih jauh, konsep ini dapat pula dijadikan salah satu alternatif parameter untuk menilai dimensi estetis dari obyek-obyek arsitektur yang dirancang dengan kerangka pikir keislaman.  Dengan demikian,  konsep seni Islam al-Faruqi benar-benar dapat memperkaya khasanah keilmuan arsitektur, khususnya dalam dimensi estetis arsitektur Islam sebagai pengejawantahan dari worldview Islam.

 

Kata kunci: seni Islam, arsitektur, al-Faruqi

 

 

Pendahuluan

Kajian ini berangkat dari sebuah konsep mengenai seni Islam yang dicetuskan oleh Ismail Raji al-Faruqi. Di dalam bukunya, “Atlas Budaya Islam”, al-Faruqi menyatakan bahwa terdapat enam karakteristik estetis seni Islam, yaitu abstraksi, struktur modular, kombinasi suksesif, repetisi, dinamisme dan kerumitan. Keluasan dan kedalaman dari konsep ini merupakan salah satu buah dari studi panjang al-Faruqi selama karir akademiknya. Kedalaman konsep ini terlihat dari jangkauan pembahasannya, mulai dari tataran operasional, teoretis, hingga tataran filosofis dari seni Islam. Sementara itu, keluasan konsep ini tampak dari kemampuan al-Faruqi ini  menarik benang merah dari berbagai bidang seni, seperti seni sastra, kaligrafi, ornamentasi, seni ruang dan seni suara.

Di dalam buku ini pula, al-Faruqi menempatkan arsitektur sebagai salah satu bagian di dalam seni ruang. Walaupun demikian, ternyata terdapat perbedaan mendasar antara ruang lingkup seni ruang yang dimaksudkan al-Faruqi dengan arsitektur yang secara umum dipahami di dalam bidang keilmuan ini. Karena itulah, penempatan konsep seni Islam al-Faruqi pada konteks pemikiran arsitektur diperlukan. Kajian ini dilakukan agar masing-masing prinsip dalam karakteristik estetis seni Islam ini dapat ’dibaca’ dengan kosakata keilmuan arsitektur. Dengan demikian, keenam karakteristik estetis seni Islam dapat dijadikan salah satu parameter untuk menilai obyek-obyek arsitektur Islam, terutama dimensi estetisnya. Untuk itu, konsep seni Islam al-Faruqi akan disandingkan dengan konsep-konsep arsitektural yang berkaitan dengan keenam karakteristik di atas. Sebelumnya, dipaparkan terlebih dahulu secara umum mengenai ruang lingkup konsep seni Islam al-Faruqi dan kesejajarannya dengan teori-teori arsitektur yang lain.

 

Seni Ruang dan Arsitektur dalam Konsep al-Faruqi

Arsitektur, menurut al-Faruqi, termasuk salah satu bagian dari seni ruang. Al-Faruqi merumuskan seni ruang ke dalam beberapa kategori berdasarkan ruang lingkupnya masing-masing. Kategori pertama adalah bangun tiga dimensi atau seni patung, yaitu seni yang menghasilkan bentuk-bentuk pejal yang memiliki tiga dimensi. Kategori kedua adalah seni yang memainkan peran ”ekstraornamentasi”. Karya ini dirancang untuk dipandang dari eksteriornya saja dan tidak memiliki ruang yang dapat dimasuki. Kategori ini selanjutnya disebut sebagai ”unit isi”, dengan benda-benda yang berdiri sendiri atau separuh menempel sebagai obyeknya, misalnya kran air, pelengkung (arch), jembatan dan terowongan air (al-Faruqi, 1999: 156). Kategori ketiga dari seni ruang adalah karya seni yang menambahkan ruang-ruang interior kepada dimensi-dimensi horisontal dan vertikal, sehingga memberikan kesan kedalaman, volume dan massa. Menurut al-Faruqi, seni inilah yang biasa disebut dengan seni ”arsitektural” (al-Faruqi, 1999: 157). Sementara itu, kategori keempat dari seni ruang adalah seni lansekap, termasuk di dalamnya karya-karya hortikultura dan aquakultura. Kategori seni ruang yang terakhir adalah ”desain perkotaan dan pedesaan”, yang melingkupi hubungan antara satu bangunan dengan bangunan lainnya, juga antara bangunan dengan ruang terbuka di sekelilingnya dan dengan kampung, desa, lingkungan atau kota yang ditempati oleh bangunan itu (al-Faruqi, 1999: 159). Kategori pertama, yaitu seni patung, karena penggunaan ekspresi naturalistiknya, merupakan kategori seni ruang yang hampir tidak ditemui di dalam seni ruang Islam. Karenanya, al-Faruqi hanya menyertakan empat kategori selanjutnya di dalam ruang lingkup seni ruang yang lebih khusus, yaitu seni ruang Islam.

Dari pengertian di atas, dapat kita simpulkan bahwa apa yang membedakan arsitektur dengan seni patung dan seni ”unit isi” adalah kualitas spasialnya. Sementara itu, ketiga kategori terakhir, yaitu seni ”arsitektural”, lansekap dan ”desain perkotaan dan pedesaan” ternyata dapat diparalelkan dengan ruang lingkup arsitektur itu sendiri secara umum. Hal ini dinyatakan oleh Christian Norberg-Schultz di dalam bukunya, Meaning in Western Architecture, yang mengungkapkan ruang lingkup arsitektur sebagai berikut (Norberg-Schultz, 1975: 5):

“Architecture is a concrete phenomenon. It comprises landscapes and settlements, building and characterizing articulation…”

Lebih jauh, dari sudut pandang ilmu arsitektur, dapat disimpulkan bahwa ’seni ruang’ merupakan salah satu aspek yang terdapat di dalam ruang lingkup kajiannya. Hal ini didasarkan pada penggunaan istilah ‘seni’ yang menunjukkan adanya titik berat pada faktor keindahan atau estetika. Vitruvius di dalam bukunya, The Ten Books on Architecture, bahkan memasukkan pengetahuan akan keindahan sebagai salah satu dari tiga pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang arsitek, selain pengetahuan akan kegunaan dan kekokohan (Morgan, 1960: 17). Hal ini mempertegas signifikansi keindahan sebagai salah satu dimensi pokok di dalam arsitektur.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa istilah ‘seni ruang’ dalam konsep al-Faruqi mempertegas ruang lingkup kajian ini. Istilah ‘seni ruang’ menunjukkan batasan ruang lingkup kajian pada dimensi estetis yang terdapat di dalam arsitektur Islam.

 

Kesejajaran Konsep Seni Islam al-Faruqi dengan Konsep-Konsep Arsitektural Lainnya

Karena karakteristik-karakteristik estetis ini dibahas oleh al-Faruqi dalam ruang lingkup seni yang masih sangat luas, maka keenamnya masih harus diuji kesejajarannya dengan konsep-konsep arsitektural lainnya. Dengan begitu, dapat diperoleh kesimpulan bahwa konsep seni Islam al-Faruqi bersifat arsitektural dan dapat dijadikan parameter bagi penilaian terhadap obyek arsitektur Islam.

Jika dilihat sepintas, maka karakteristik estetis seni Islam di atas memiliki kemiripan dengan karakteristik arsitektur Klasik yang berkembang sebelum revolusi industri. Kemiripan ini terletak pada nilai ornamentasi yang sangat penting di dalam arsitektur klasik dan seni ruang Islam. Hal ini tidak sejalan dengan paham arsitektur Modern yang menganggap ornamentasi sebagai sesuatu yang tidak berguna, bahkan sebuah kejahatan (Gombrich, 1984: 59). Salah satu ungkapan yang sangat terkenal dalam aliran arsitektur ini adalah “ornament is crime”, yang melukiskan penolakan tokoh-tokohnya terhadap ornamentasi. Karenanya, arsitektur modern sangat menghindari berbagai bentuk ornamentasi.

Walaupun begitu, jika diteliti secara mendalam, maka akan diperoleh kesimpulan bahwa karakteristik ornamentasi yang terdapat pada kedua aliran arsitektur ini sangat berbeda dalam prinsip-prinsipnya. Salah satu perbedaan yang sangat mencolok adalah penggunaan figur-figur manusia dan hewan yang mendapat porsi yang dominan dan digambarkan secara naturalistik di dalam arsitektur Klasik. Sebaliknya, penggunaan figur-figur ini sangat dihindari dalam ornamentasi arsitektur Islam. ”This decoration avoided figural sculpture and classical detailing, the two staples of external architectural ornament in the West.” (Hillenbrand, 1994: 8). Selain itu, di dalam arsitektur Klasik selalu terdapat satu klimaks di titik tertentu pada ornamentasinya. Di dalam seni Islam, tidak diperoleh klimaks hanya di satu titik tertentu, dikarenakan kuatnya repetisi dan modulasinya (al-Faruqi, 2003: 199-200). Perbedaan-perbedaan pada level bentuk arsitektural ini tampaknya disebabkan karena terdapat perbedaan yang signifikan di dalam level filosofisnya. Kesamaan pada level filosofis yang dapat ditemui, hanyalah bahwa kedua aliran arsitektur ini dijiwai oleh nilai-nilai religius. Sementara itu, perbedaan keduanya terletak pada adanya perbedaan kandungan nilai-nilai religius yang diterapkan ke dalam bentuk-bentuk arsitektural. Walaupun demikian, dibandingkan dengan teori-teori arsitektur Modern, tampaknya konsep al-Faruqi mengenai seni Islam ini lebih dapat disejajarkan dengan teori-teori arsitektur Klasik yang sama-sama memiliki perhatian yang besar terhadap ornamentasi sebagai salah satu pembentuk estetika suatu obyek arsitektur.

Selanjutnya, konsep seni Islam al-Faruqi dapat pula diparalelkan dengan konsep-konsep perancangan di dalam arsitektur Posmodern, antara lain konsep representasi, konsep kompleksitas dan ambiguitas, penghargaan terhadap memori dan sejarah, serta pemanfaatan ornamen dan dekorasi. Menurut Hollier dengan konsep representasinya, apa yang disebut sebagai arsitektur pada dasarnya hanyalah general locus atau framework dari representasi (Hollier dalam Hays dalam Ikhwanuddin, 2005: 86). Arsitektur dapat merepresentasikan sebuah agama, kekuatan politik, peristiwa dan lain-lain. Arsitektur selalu merepresentasikan sesuatu yang lain di luar “dirinya”, yang membedakannya dengan bangunan yang lain (Ikhwanuddin, 2005: 86). Dalam pengertian ini, terdapat kesamaan antara konsep al-Faruqi dan konsep representasi Hollier, yaitu kesepakatan bahwa arsitektur merepresentasikan sesuatu yang lain. Seni Islam di dalam konsep al-Faruqi bukan hadir untuk merepresentasikan dirinya sendiri, melainkan sebagai representasi dari worldview Islam. Karenanya, ornamentasi dan modulasi di dalam seluruh cabang seni Islam bahkan dihadirkan untuk menyamarkan material yang merupakan simbol dari keduniawian dan menggiring perhatian ke arah pola infinitif yang merupakan simbol dari makna-makna transenden itu.

Sementara itu, konsep kompleksitas dan ambiguitas, dalam pengertiannya yang paling sederhana, dapat disejajarkan dengan konsep kerumitan dan dinamisme di dalam konsep seni Islam Al-Faruqi. Penerapan konsep ambiguitas yang dapat ditemui pada sebagian obyek arsitektur Islam, misalnya adalah adanya kesan ”pertentangan” antara tampilan eksterior dan interior bangunan. Bagian eksterior bangunan dirancang secara sederhana dan warna-warna alami, sedangkan bagian interior dirancang dengan tingkat kerumitan yang tinggi dan penggunaan ornamentasi dan dekorasi yang kaya warna. Kenyataan ini menampakkan pertentangan atau ambiguitas arsitektur Islam jika dilihat pada tataran wujud semata. Padahal, hal tersebut sebenarnya mengandung kesatuan pada tataran filosofis, yaitu nilai seorang muslim di mata Tuhannya terletak pada kualitas ketakwaan yang ada di dalam dirinya. Jika kompleksitas di dalam arsitektur Posmodern merupakan perlawanan terhadap simplisitas (Ikhwanuddin, 2005: 90), maka di dalam arsitektur Islam, kompleksitas dan simplisitas digunakan bersamaan untuk mendukung satu makna tertentu yang sesuai dengan worldview Islam.

Mengenai pandangan terhadap sejarah dan memori, konsep arsitektur Posmodern dan konsep seni Islam al-Faruqi memiliki kesamaan dalam penghargaan terhadap hal ini. Kesamaan ini dikarenakan keduanya melihat sejarah sebagai gudang perbendaharaan bentuk yang kaya dan bernilai tinggi. Hal ini tidak sejalan dengan paham modernisme di dalam arsitektur. Penyebab dari ditolaknya simbol dan bahasa dekoratif di dalam arsitektur modern, di antaranya adalah karena arsitektur modern menolak tradisi dan sejarah masa lalu (Kurokawa dalam Ikhwanuddin, 2005: 89). Karakteristik dinamisme dalam konsep seni Islam al-Faruqi menunjukkan bahwa waktu merupakan faktor yang penting di dalam seluruh seni Islam, termasuk seni ruang.  Islam menghargai sejarah sebagai pelajaran bagi generasi selanjutnya. Karenanya, di dalam arsitektur Islam tidak dikenal bentuk-bentuk yang ”ketinggalan zaman” atau usang. Seluruhnya dihargai karena kandungan maknanya yang mengarahkan manusia untuk mengingat tauhid. Sesuai dengan nilai-nilai Islam yang diyakini berlaku sepanjang masa, prinsip-prinsip arsitektur Islam merupakan konsep yang dapat diterapkan di setiap masa dan zaman.

Seperti arsitektur Klasik, kesejajaran konsep al-Faruqi dengan konsep-konsep arsitektur Posmodern dapat pula ditemukan dalam pandangan terhadap penggunaan ornamen dan dekorasi. Seperti arsitektur Islam, arsitektur Posmodern juga menerima kehadiran ornamen dan dekorasi. Hal ini disepakati oleh Jencks, Klotz, Kurokawa dan Venturi (Ikhwanuddin, 2005: 94). Walaupun begitu, sebagian metode untuk menghasilkan ornamen dan dekorasi, yaitu metode desain pleasure dan enjoyment, menjadikan tujuan dihasilkannya ornamen dan dekorasi di dalam sebuah arsitektur Posmodern hanya sebagai ”permainan” tanpa keharusan untuk dikaitkan dengan fungsi-fungsi tertentu (Ikhwanuddin, 2005: 94). Sebaliknya, di dalam arsitektur Islam, setiap bentuk yang hadir harus memiliki makna dan mengandung nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ornamentasi bukanlah sesuatu yang ditambahkan secara superfisial pada suatu karya yang telah selesai, untuk sekedar menghias karya ini tanpa ada artinya. Ia juga bukan sarana untuk memuaskan selera orang-orang yang mencari kenikmatan semata (al-Faruqi, 2003: 412). Dalam hal ini, tampak bahwa kehadiran bentuk-bentuk fisik yang serupa ternyata dapat menjadi tidak sejalan pada tataran filosofisnya.

Dari uraian panjang di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep seni Islam al-Faruqi memiliki kesetaraan dengan konsep-konsep arsitektural lainnya, walaupun kesetaraan ini bukan berarti keduanya selalu mengandung kesesuaian. Pada tataran operasional, teoretis dan tataran filosofis, terdapat kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan antara konsep al-Faruqi dengan konsep-konsep lainnya di dalam arsitektur.

 

Penutup

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep seni Islam al-Faruqi memiliki kesejajaran dengan konsep-konsep arsitektur lainnya. Konsep ini juga dapat diletakkan pada konteks arsitektural, sehingga dapat dibaca dengan kosakata keilmuan arsitektur. Dalam kerangka pikir keilmuan arsitektur, konsep seni Islam al-Faruqi dapat didefinisikan sebagai konsep karakteristik estetis arsitektur Islam. Dengan demikian, keberadaannya dapat memperkaya khasanah keilmuan arsitektur Islam, terutama dalam dimensi estetis dari arsitektur Islam itu sendiri. Tentu saja, dimensi estetis ini tidak dapat berdiri sendiri. Dimensi estetis di dalam arsitektur Islam harus menyatu dengan dimensi-dimensi lainnya, terutama dimensi kebenaran dan kebaikan, seperti halnya dalam pandangan Islam, keindahan itu sendiri bukanlah semata-mata keindahan pada tataran fisik, melainkan merupakan manifestasi dari nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.

 

Bibliography

Al-Faruqi, Ismail Raji. 1999. Seni Tauhid: Esensi dan Ekspresi Estetika Islam, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta.

Al-Faruqi, Ismail R. & Al-Faruqi, Lois Lamya 2003. Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, Penerbit Mizan, Bandung.

Gombrich, E.H. 1984. The Sense of Order, A Study in the Psychology of Decorative Art, Cornell University Press, New York.

Hillenbrand, Robert. 1994. Islamic Architecture: Form, Function and Meaning, Columbia University Press, New York.

Ikhwanuddin. 2005. Menggali Pemikiran Posmodernisme dalam Arsitektur. UGM Press, Yogyakarta.

Morgan, Morris Hicky. 1960. Vitruvius the Ten Books on Architecture, Dover Publication, New York.

11 thoughts on “Konteks Arsitektural Konsep Seni Islam al-Faruqi

    gizmi said:
    March 29, 2009 at 2:03 pm

    bu yulia saya mau berguru.penerapan karakteristik arsitektur islam apakah lebih cenderung pada letak geografis dan unsur lokal?menurut pandangan saya setelah membaca konsep al faruqi,ajaran filosofis pada konsep al faruqi lebih pada dasar permasalahan pada unsur lokalitas letak geografisnya,sedangkan parameter keislaman harusnya meluas pada segala aspek.apakah parameter karakteristik estetis islam itu bisa mengintegrasikan dengan unsur lokal tanpa kehilangan nilai dari lokalitasnya.sebelumnya terima kasih bu.

    Yulia Eka Putrie responded:
    March 30, 2009 at 6:59 am

    hehe, boleh, asal jangan berguru pencak silat ya😀
    pertanyaannya bagus nih… saya kurang lebihnya setuju dengan pendapat gizmi.
    Pertama, konsep yang diungkapkan al-Faruqi tentang karakteristik estetis seni Islam itu didasarkan pada pengamatan dan penelitian mendalam beliau tentang obyek-obyek arsitektur Islam yang telah ada. Artinya, konsep itu bisa saja diterapkan, atau bisa juga tidak diterapkan pada obyek-obyek arsitektur Islam yang akan dirancang di masa mendatang. Bisa saja ada konsep-konsep lain yang juga dapat disebut sebagai karakteristik seni Islam selain konsep al-Faruqi. Konsep al-Faruqi adalah salah satu konsep karateristik estetis seni Islam yang ada saat ini.
    Kedua, konsep ini berbicara tentang karakteristik estetis, jadi aspek yang banyak dibicarakan adalah aspek keindahan. Walaupun demikian, di dalam arsitektur Islam, konsep keindahan ini tetap harus sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran dan kebaikan yang bersumber dari nilai Islam itu sendiri. Keindahan tidak boleh bertentangan dengan kedua prinsip itu, karena tanpa kebenaran dan kebaikan, tidak ada keindahan di dalam arsitektur Islam. Karena luasnya lingkup kajian, Al-Faruqi membatasi tulisannya pada karakteristik2 yang terlihat dan dapat diamati. Walaupun begitu, di dalam buku itu tetap saja akan kita temukan pembahasan mengenai keterkaitan antara nilai keindahan dengan prinsip kebenaran dan kebaikan itu.
    Ketiga, benar bahwa parameter keislaman itu harus universal. Maka, universalitas arsitektur Islam terletak pada nilai-nilainya. Sementara itu, lokalitas bentuk diterima di bawah payung universalitas nilai itu. Artinya, bagaimana pun ragam bentuknya, ia tidak dapat melampaui atau berada di luar koridor nilai itu tadi. Bentuk-bentuk yang tidak sesuai dengan nilai akan tertolak oleh arsitektur Islam. Sebaliknya, selama bentuk itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, ia akan diterima dengan tangan terbuka. Dalam konteks al-Faruqi, di dalam buku itu ia menyatakan, “Arsitektur yang berkembang di dunia Islam juga merupakan ungkapan dari worldview Islam dan pandangan tauhid itu. Arsitektur islam, walaupun tidak hadir dalam keseragaman bentuk yang kaku dan lebih merupakan penyesuaian dengan karakter arsitektur lokal di daerah yang dimasukinya, memiliki keterkaitan-keterkaitan yang menyediakan dasar bagi kesatuan estetis di dunia Islam, tanpa harus menekan atau melarang keragaman regional.” Nah, berdasarkan pendapat inilah, beliau meneliti, keterkaitan-keterkaitan apakah yang menjadi dasar, sehingga dapat disebut sebagai ‘karakteristik’ yang membedakan arsitektur Islam dengan aliran arsitektur lainnya. Jadi, konsep itu murni merupakan hasil penelitian beliau terhadap bentuk-bentuk arsitektur yang telah ada. Mengenai kesesuaian lebih lanjut bentuk-bentuk itu dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan di dalam Islam, kemungkinan harus ada penelitian lebih lanjut dengan parameter nilai Islam yang universal, seperti yang saya sebutkan di atas🙂
    Anyway, bagi saya buah pikiran al-Faruqi itu merupakan salah satu warisan intelektual yang sangat berharga dan mencerahkan. Walaupun begitu, kekaguman kepada ilmuwan atau ulama menurut Islam, tentu tidak boleh berujung pada taqlid dan pujian berlebihan. Gerbang untuk mengembangkan keilmuan arsitektur Islam masih terbuka sangat luas menunggu kita. Saya yakin, al-Faruqi pun tidak beranggapan bahwa hasil penelitian beliau itu telah final dan mengikat. Seperti sikap para ilmuwan muslim yang seharusnya: mereka akan menyandarkan ilmu yang mereka miliki hanya kepada Allah, Allahu a’lamu bish shawab… Begitu juga kita yang harus meneladani sikap-sikap mereka dalam berkeilmuan.
    Mudah-mudahan berkenan dengan balasan ini ya, kalau ada yang masih mengganjal di hati silakan nge-reply lagi, hehe😀

    gizmi said:
    March 30, 2009 at 6:01 pm

    assalammualiakum
    bu yulia terima kasih banyak atas pelajaran yang diberikan.perhatian ibu sangat berharga
    bu saya lagi design sebuah taman wisata religi yang fungsi utamanya sebagai peningkatan spiritual dan kedua edukasi dengan tema regional
    peningkatan spiitualnya terhadap muslim
    regionalnya sebuah kawasan situs percandian
    referensi keislaman apa yang harus saya butuhkan
    menilik corak arsitektur percandian yang begitu banyak ornamen yang infinit yang tidak menonjolakn bhan dasar tapi sarat dengan analogi dan metafor tapi dalm analogi dan metafor itu mempunyai sejarah yang berharga untuk diambil hikmahnya memngingat parameter keislaman yang begitu luas.pengkajian suatu budaya dalm keislaman bila bersumber dari al quran pembahasannya akan luas tapi bila saya mengambil 1 ayat atau lebih kecenderungan pembatasan terhadap suatu karya tanpa menilik ayat ayat yang lain membuat perencanaan yang tidak universal dalam pandangan islam.
    ibu yulia yang baik kurang lebihnya saya minta maaf karena menganggu aktifitas ibu.terima kasih

    Yulia Eka Putrie responded:
    March 31, 2009 at 5:38 am

    Waalaikumsalam, sami-sami, terima kasih juga atas pertanyaannya yang memeras otak, hehe, jadi terpacu untuk belajar lebih banyak lagi nih.
    Dalam perancangan taman wisata religi gizmi berarti ada dua isu utama, yaitu Islam dan budaya. Di dalam Islam, budaya memiliki tiga posisi. (1) Budaya yang dijadikan syariat, misalnya budaya jabat tangan dari Syam atau Yaman (saya lupa…) yang dijadikan syariat berdasarkan sunnah Nabi saw., tentu saja untuk sesama jenis atau mahramnya; (2) Budaya yang tidak bertentangan dengan syariat. Budaya sejenis ini dapat dipertahankan dan dikembangkan; (3) Budaya yang bertentangan atau tidak sesuai dengan syariat. Budaya semacam ini tertolak di dalam Islam.
    Nah, dari dasar di atas, gizmi dapat melakukan penilaian, mana dari budaya di situs percandian itu yang tidak bertentangan dengan syariat, dan mana yang bertentangan dengan syariat. Istilahnya, kita melakukan pemilihan dan pemilahan, mana yang sesuai untuk obyek wisata religi ini. Karena obyek ini diperuntukkan bagi muslim, maka nilai yang menjadi kriteria adalah nilai-nilai Islam.
    Belajar berbasiskan obyek atau hikmah dari obyek yang udah ada boleh-boleh saja. Hanya, harus berhati-hati jangan sampai melakukan pembenaran atau justifikasi hikmah atas setiap bentuk atau obyek yang udah ada itu. Karena itu, harus kembali lagi ke nilai-nilai Islam yang mendasar, sehingga kebenaran dan kebaikan dari konsep atau hasil rancangan itu betul-betul substansial, tidak sekedar simbolisme semata. Gizmi bisa memilih nilai-nilai mana yang sesuai untuk konteks obyek wisata religi, misalnya prinsip mendahulukan untuk mencegah mudharat yang lebih besar daripada maslahat yang kecil, prinsip-prinsip interaksi sosial di dalam Islam, prinsip-prinsip publik privat di dalam Islam, dan lain-lain. Coba cari referensi yang kuat tentang prinsip-prinsip ini dari tulisan-tulisan para pakar arsitektur Islam, seperti Prof. M. Tajuddin M. Rasdi, Prof. Spahic Omer, dan lain-lain.

    gizmi said:
    March 31, 2009 at 8:12 am

    bu terima kasih.uda boleh memeras otak ibu hehehe.maaf bu ya.ibu baik layaknya seperti ibu saya.terimakasih semoga diberi balasan sama allah.wassalam

    farur said:
    April 3, 2009 at 3:35 pm

    assalamualaikum…
    eghem…tidak akan ada ucapan yang manis pabila tak ada artikel yang manis. takkan ada proses yang higienis yang membuatku semakin teriris berjuang dan berproses dalam artikel-artikel from bu yulia yang manis…thanks bu yulia eka putrie…

    vicky said:
    April 3, 2009 at 5:11 pm

    al-faruqi tu siapa???
    trus bidang yang dikuasainya meliputi saja???
    apakah kita sebagai orang awam dapat menemukan konsep baru dalam dunia arsitektur??

    vicky said:
    April 3, 2009 at 5:12 pm

    thks b4

    Yulia Eka Putrie responded:
    April 4, 2009 at 3:13 am

    waalaikumsalam, terimakasih atas pantunnya yang manis, mudah-mudahan Allah mengaruniakan kepada kita semua kemampuan dan kemauan untuk terus berjuang di jalanNya, amiin…

    Yulia Eka Putrie responded:
    April 4, 2009 at 6:00 am

    🙂 nice questions indeed…
    Ismail Raji al-Faruqi adalah salah satu akademisi muslim terbaik yang menelurkan salah satu konsep islamisasi dalam bidang keilmuan. Beliau juga memiliki pemahaman yang mendalam tentang Islam, worldviewnya beserta hasil-hasil peradaban yang berasal dari worldview itu. Ada banyak keterangan tentang hasil-hasil karya al-Faruqi di internet. Vicky bisa memanfaatkan serch engine seperti google untuk mengenali profil al-Faruqi dan karya-karyanya.

    Orang awam bisa saja menemukan konsep baru dalam dunia arsitektur. Kemungkinan-kemungkinan seperti itu tidak pernah tertutup dalam dunia keilmuan. Namun, ada hal-hal yang harus tetap diperhitungkan dalam menilai setiap konsep baru, di antaranya adalah otoritas keilmuan. Jadi setiap orang bisa menelurkan konsep arsitektur dan orang lain juga bisa menerima ataupun menolaknya bila ia tidak memiliki otoritas keilmuan itu. Mudah-mudahan berkenan atas jawaban ini ya, terima kasih atas pertanyaannya…🙂

    lukman hakim said:
    March 7, 2011 at 4:33 am

    izin menyimak,ikut belajar, dan izin share

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s