Month: March 2009

Merenungkan Kembali Makna Kreativitas dalam Arsitektur

Posted on Updated on

kreativitas-41Bagi para perancang, aktivitas merenung tentu bukan hal yang asing lagi. Nyatalah bahwa setiap karya yang hadir di dunia merupakan buah perenungan di dunia ide si perancang. Dunia perenungan dan makna memang bukan hanya milik para filsuf dan ahli hikmah semata. Banyak arsitek yang menjadi begitu dikenal di masa lalu dan saat ini dikarenakan kedalaman pemikiran dan kekuatan konsepnya. Kegiatan perenungan memiliki arti yang sangat penting bagi keberhasilan sebuah proses perancangan.

Demikian pula halnya dengan kreativitas. Bagi arsitek, kreativitas merupakan sesuatu yang sama pentingnya dengan perancangan itu sendiri. Setiap karya yang hadir di dunia tentulah merupakan buah kreativitas perancangnya. Namun, apakah setiap perancang telah memaknai dengan benar kata kreativitas itu? Apakah ia telah menempatkan kreativitas pada posisi yang sepatutnya di dalam aktivitas perancangannya? Ataukah ia justru menjadi orang pertama yang keliru dalam memahami dan menerapkan makna kreativitas itu?

Read the rest of this entry »

Membaca Konsep Arsitektur Vitruvius dalam Al-Qur’an

Posted on Updated on

cover buku membacaTradisi membaca telah dimulai dalam Islam sejak kemunculan pertamanya, jauh sebelum pakar-pakar psikologi dan linguistik menemukan manfaat yang besar dalam kegiatan ini. Perilaku keilmuan seseorang ditunjukkan oleh setidak-tidaknya satu indikator, yaitu kebiasaan membaca. Lebih jauh, di dalam Islam tradisi membaca ini meliputi bukan hanya pembacaan terhadap buku dan karya tulis, namun juga pembacaan terhadap alam semesta dan segala isinya. Alam semesta seperti halnya kitab suci Al-Qur’an al-Karim, adalah ayat-ayat Allah SWT yang terbentang untuk dibaca, dijadikan pelajaran dan digali hikmahnya oleh manusia-manusia yang berpikir (ulul albab). Harun Yahya dalam bukunya ‘Keajaiban pada Laba-laba’, menyatakan bahwa bagi orang yang berpikir, setiap bagian alam merupakan tanda, atau dengan kata lain sebuah kunci bagi pintu kebenaran.

Read the rest of this entry »

Asal Usul Filsafat Yunani

Posted on Updated on

Dalam salah satu sesi sekolah filsafat untuk para dosen beberapa waktu yang lalu, terdapat pembicaraan yang berkisar tentang sejarah lahirnya filsafat di Yunani. Dibicarakan pula asal usul terjadinya kategorisasi ilmu yang berkembang saat ini. Namun tulisan kali ini hanya menggambarkan satu fokus kecil yang menarik perhatian saya, yaitu pada kepercayaan kita yang amat sangat bahwa filsafat berakar dari peradaban Yunani. Kemarin sempat tercetus kalimat, “Setiap peradaban memiliki kebijaksanaan dan pemikiran sendiri, namun Yunani merupakan peradaban yang banyak menuliskan hasil pemikirannya, sehingga saat ini filsafat yang berkembang adalah filsafat yang berasal dari bangsa Yunani”. Is it true? Does philosophy really take its roots from Greek? Before Greek, is the world really empty of empirical thoughts? Well, let’s see then ^_^

Read the rest of this entry »

Why I Respect Them More…

Posted on Updated on

Salah satu perbedaan mendasar antara ilmuwan Barat dan ilmuwan Muslim terletak pada pandangan mereka terhadap penghargaan atas diri dan karyanya. Adanya pengakuan terhadap hak atas kekayaan intelektual seseorang di dunia Barat seringkali mewujud dalam besarnya nominal yang harus dikeluarkan oleh setiap pihak yang ingin memanfaatkan hasil penemuan atau penelitiannya. Jurnal-jurnal dijual dengan harga mahal, lisensi penemuan dibayar dengan harga yang melangit, begitu pula dengan hak paten atas suatu produk. Penerbit yang ingin mempublikasikan suatu buku harus memperoleh ijin penerbitan atau penerjemahan dengan biaya yang tidak sedikit, akibatnya harga buku pun melangit.

Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pola pikir materialistis yang telah menyatu dengan peradabannya. Selain itu, paham individualisme tampaknya juga memiliki peran penting dalam pembentukan persepsi internal dalam diri ilmuwan Barat. Kecerdasan dan luasnya pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang dimiliki secara mutlak dan karenanya harus diakui oleh orang lain. Hal ini pula yang menyebabkan para ilmuwan Barat seringkali sama terkenalnya dengan penemuan yang dihasilkannya. Orang awam bahkan lebih mengenal Einstein tanpa harus memahami teori relativitas yang dicetuskannya. Kenyataan ini tentunya bukan semata-mata kesalahan para ilmuwan itu sendiri, tetapi lebih merupakan akibat kumulatif dari pola pikir kolektif masyarakat Barat yang memang mengagungkan potensi-potensi individu dan menilai segala sesuatu berdasarkan materi.

Read the rest of this entry »

Picturing Architecture (1)

Posted on Updated on

Children are smiling freely in their-size architecture
Children are smiling freely in their-size architecture
Timber and bamboo house in Bara'an Village, Kasembon Malang
Timber and bamboo house in Bara'an Village, Kasembon Malang

Kedudukan Estetika dalam Arsitektur Islam

Posted on Updated on

Arsitektur dan segala pembahasan tentangnya seringkali –jika tak dapat dikatakan selalu– berkaitan erat dengan keindahan. Keindahan merupakan bagian tak terpisahkan dari arsitektur, terlepas dari berbagai standar tentang keindahan itu sendiri. Keterkaitan yang kuat antara arsitektur dan keindahan inilah yang tampaknya membuat banyak literatur tentang arsitektur di dunia Islam memasukkan arsitektur sebagai bagian dari seni, yaitu “seni ruang” dalam bahasa Ismail Raji al-Faruqi atau “seni plastis” menurut istilah Seyyed Hossein Nasr.

Seperti telah kita ketahui, keindahan merupakan bagian dari kemampuan estetis (rasa) dalam diri manusia dan merupakan bagian terpenting dalam bidang kajian seni. Keindahan tampaknya memiliki arti khusus pula di dunia Islam. Dalam arsitektur yang berkembang berdasarkan nilai-nilai Islam, yang dalam penelitian ini disebut sebagai arsitektur islami, nilai penting keindahan tampak mulai dari level filosofis hingga pada level operasional. Pada level filosofis, di dalam salah satu hadits dinyatakan bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan. Hadits ini banyak dijadikan dasar bagi pengembangan keindahan dalam arsitektur Islam.

Read the rest of this entry »

Konteks Arsitektural Konsep Seni Islam al-Faruqi

Posted on Updated on

 

Yulia Eka Putrie

Jurusan Arsitektur

Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri (UIN) Malang

e-mail: yuliaeka_p@yahoo.com

 

Abstrak

Konsep seni Islam yang dicetuskan oleh Ismail Raji al-Faruqi di dalam buku “Atlas Budaya Islam”, merupakan salah satu konsep yang sangat komprehensif mengenai estetika dan seni berdasarkan pandangan hidup (worldview) Islam. Konsep seni Islam al-Faruqi ini melingkupi berbagai bidang seni, seperti seni sastra, kaligrafi, ornamentasi, seni ruang dan seni suara. Karenanya, konsep ini diharapkan dapat pula digunakan di dalam bidang keilmuan arsitektur, khususnya arsitektur Islam. Walaupun al-Faruqi menempatkan arsitektur sebagai salah satu bagian di dalam seni ruang, namun terdapat beberapa karakteristik arsitektur yang berbeda dengan seni ruang yang dimaksudkan al-Faruqi. Karena itu, dibutuhkan kajian lebih lanjut untuk menempatkan konsep ini dalam konteks pemikiran arsitektur. Hal ini dilakukan agar konsep seni Islam ini dapat ‘dibaca’ dengan kosakata keilmuan arsitektur. Lebih jauh, konsep ini dapat pula dijadikan salah satu alternatif parameter untuk menilai dimensi estetis dari obyek-obyek arsitektur yang dirancang dengan kerangka pikir keislaman.  Dengan demikian,  konsep seni Islam al-Faruqi benar-benar dapat memperkaya khasanah keilmuan arsitektur, khususnya dalam dimensi estetis arsitektur Islam sebagai pengejawantahan dari worldview Islam.

 

Kata kunci: seni Islam, arsitektur, al-Faruqi

 

 

Pendahuluan

Kajian ini berangkat dari sebuah konsep mengenai seni Islam yang dicetuskan oleh Ismail Raji al-Faruqi. Di dalam bukunya, “Atlas Budaya Islam”, al-Faruqi menyatakan bahwa terdapat enam karakteristik estetis seni Islam, yaitu abstraksi, struktur modular, kombinasi suksesif, repetisi, dinamisme dan kerumitan. Keluasan dan kedalaman dari konsep ini merupakan salah satu buah dari studi panjang al-Faruqi selama karir akademiknya. Kedalaman konsep ini terlihat dari jangkauan pembahasannya, mulai dari tataran operasional, teoretis, hingga tataran filosofis dari seni Islam. Sementara itu, keluasan konsep ini tampak dari kemampuan al-Faruqi ini  menarik benang merah dari berbagai bidang seni, seperti seni sastra, kaligrafi, ornamentasi, seni ruang dan seni suara.

Di dalam buku ini pula, al-Faruqi menempatkan arsitektur sebagai salah satu bagian di dalam seni ruang. Walaupun demikian, ternyata terdapat perbedaan mendasar antara ruang lingkup seni ruang yang dimaksudkan al-Faruqi dengan arsitektur yang secara umum dipahami di dalam bidang keilmuan ini. Karena itulah, penempatan konsep seni Islam al-Faruqi pada konteks pemikiran arsitektur diperlukan. Kajian ini dilakukan agar masing-masing prinsip dalam karakteristik estetis seni Islam ini dapat ’dibaca’ dengan kosakata keilmuan arsitektur. Dengan demikian, keenam karakteristik estetis seni Islam dapat dijadikan salah satu parameter untuk menilai obyek-obyek arsitektur Islam, terutama dimensi estetisnya. Untuk itu, konsep seni Islam al-Faruqi akan disandingkan dengan konsep-konsep arsitektural yang berkaitan dengan keenam karakteristik di atas. Sebelumnya, dipaparkan terlebih dahulu secara umum mengenai ruang lingkup konsep seni Islam al-Faruqi dan kesejajarannya dengan teori-teori arsitektur yang lain.

 

Seni Ruang dan Arsitektur dalam Konsep al-Faruqi

Arsitektur, menurut al-Faruqi, termasuk salah satu bagian dari seni ruang. Al-Faruqi merumuskan seni ruang ke dalam beberapa kategori berdasarkan ruang lingkupnya masing-masing. Kategori pertama adalah bangun tiga dimensi atau seni patung, yaitu seni yang menghasilkan bentuk-bentuk pejal yang memiliki tiga dimensi. Kategori kedua adalah seni yang memainkan peran ”ekstraornamentasi”. Karya ini dirancang untuk dipandang dari eksteriornya saja dan tidak memiliki ruang yang dapat dimasuki. Kategori ini selanjutnya disebut sebagai ”unit isi”, dengan benda-benda yang berdiri sendiri atau separuh menempel sebagai obyeknya, misalnya kran air, pelengkung (arch), jembatan dan terowongan air (al-Faruqi, 1999: 156). Kategori ketiga dari seni ruang adalah karya seni yang menambahkan ruang-ruang interior kepada dimensi-dimensi horisontal dan vertikal, sehingga memberikan kesan kedalaman, volume dan massa. Menurut al-Faruqi, seni inilah yang biasa disebut dengan seni ”arsitektural” (al-Faruqi, 1999: 157). Sementara itu, kategori keempat dari seni ruang adalah seni lansekap, termasuk di dalamnya karya-karya hortikultura dan aquakultura. Kategori seni ruang yang terakhir adalah ”desain perkotaan dan pedesaan”, yang melingkupi hubungan antara satu bangunan dengan bangunan lainnya, juga antara bangunan dengan ruang terbuka di sekelilingnya dan dengan kampung, desa, lingkungan atau kota yang ditempati oleh bangunan itu (al-Faruqi, 1999: 159). Kategori pertama, yaitu seni patung, karena penggunaan ekspresi naturalistiknya, merupakan kategori seni ruang yang hampir tidak ditemui di dalam seni ruang Islam. Karenanya, al-Faruqi hanya menyertakan empat kategori selanjutnya di dalam ruang lingkup seni ruang yang lebih khusus, yaitu seni ruang Islam.

Dari pengertian di atas, dapat kita simpulkan bahwa apa yang membedakan arsitektur dengan seni patung dan seni ”unit isi” adalah kualitas spasialnya. Sementara itu, ketiga kategori terakhir, yaitu seni ”arsitektural”, lansekap dan ”desain perkotaan dan pedesaan” ternyata dapat diparalelkan dengan ruang lingkup arsitektur itu sendiri secara umum. Hal ini dinyatakan oleh Christian Norberg-Schultz di dalam bukunya, Meaning in Western Architecture, yang mengungkapkan ruang lingkup arsitektur sebagai berikut (Norberg-Schultz, 1975: 5):

“Architecture is a concrete phenomenon. It comprises landscapes and settlements, building and characterizing articulation…”

Lebih jauh, dari sudut pandang ilmu arsitektur, dapat disimpulkan bahwa ’seni ruang’ merupakan salah satu aspek yang terdapat di dalam ruang lingkup kajiannya. Hal ini didasarkan pada penggunaan istilah ‘seni’ yang menunjukkan adanya titik berat pada faktor keindahan atau estetika. Vitruvius di dalam bukunya, The Ten Books on Architecture, bahkan memasukkan pengetahuan akan keindahan sebagai salah satu dari tiga pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang arsitek, selain pengetahuan akan kegunaan dan kekokohan (Morgan, 1960: 17). Hal ini mempertegas signifikansi keindahan sebagai salah satu dimensi pokok di dalam arsitektur.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa istilah ‘seni ruang’ dalam konsep al-Faruqi mempertegas ruang lingkup kajian ini. Istilah ‘seni ruang’ menunjukkan batasan ruang lingkup kajian pada dimensi estetis yang terdapat di dalam arsitektur Islam.

 

Kesejajaran Konsep Seni Islam al-Faruqi dengan Konsep-Konsep Arsitektural Lainnya

Karena karakteristik-karakteristik estetis ini dibahas oleh al-Faruqi dalam ruang lingkup seni yang masih sangat luas, maka keenamnya masih harus diuji kesejajarannya dengan konsep-konsep arsitektural lainnya. Dengan begitu, dapat diperoleh kesimpulan bahwa konsep seni Islam al-Faruqi bersifat arsitektural dan dapat dijadikan parameter bagi penilaian terhadap obyek arsitektur Islam.

Jika dilihat sepintas, maka karakteristik estetis seni Islam di atas memiliki kemiripan dengan karakteristik arsitektur Klasik yang berkembang sebelum revolusi industri. Kemiripan ini terletak pada nilai ornamentasi yang sangat penting di dalam arsitektur klasik dan seni ruang Islam. Hal ini tidak sejalan dengan paham arsitektur Modern yang menganggap ornamentasi sebagai sesuatu yang tidak berguna, bahkan sebuah kejahatan (Gombrich, 1984: 59). Salah satu ungkapan yang sangat terkenal dalam aliran arsitektur ini adalah “ornament is crime”, yang melukiskan penolakan tokoh-tokohnya terhadap ornamentasi. Karenanya, arsitektur modern sangat menghindari berbagai bentuk ornamentasi.

Walaupun begitu, jika diteliti secara mendalam, maka akan diperoleh kesimpulan bahwa karakteristik ornamentasi yang terdapat pada kedua aliran arsitektur ini sangat berbeda dalam prinsip-prinsipnya. Salah satu perbedaan yang sangat mencolok adalah penggunaan figur-figur manusia dan hewan yang mendapat porsi yang dominan dan digambarkan secara naturalistik di dalam arsitektur Klasik. Sebaliknya, penggunaan figur-figur ini sangat dihindari dalam ornamentasi arsitektur Islam. ”This decoration avoided figural sculpture and classical detailing, the two staples of external architectural ornament in the West.” (Hillenbrand, 1994: 8). Selain itu, di dalam arsitektur Klasik selalu terdapat satu klimaks di titik tertentu pada ornamentasinya. Di dalam seni Islam, tidak diperoleh klimaks hanya di satu titik tertentu, dikarenakan kuatnya repetisi dan modulasinya (al-Faruqi, 2003: 199-200). Perbedaan-perbedaan pada level bentuk arsitektural ini tampaknya disebabkan karena terdapat perbedaan yang signifikan di dalam level filosofisnya. Kesamaan pada level filosofis yang dapat ditemui, hanyalah bahwa kedua aliran arsitektur ini dijiwai oleh nilai-nilai religius. Sementara itu, perbedaan keduanya terletak pada adanya perbedaan kandungan nilai-nilai religius yang diterapkan ke dalam bentuk-bentuk arsitektural. Walaupun demikian, dibandingkan dengan teori-teori arsitektur Modern, tampaknya konsep al-Faruqi mengenai seni Islam ini lebih dapat disejajarkan dengan teori-teori arsitektur Klasik yang sama-sama memiliki perhatian yang besar terhadap ornamentasi sebagai salah satu pembentuk estetika suatu obyek arsitektur.

Selanjutnya, konsep seni Islam al-Faruqi dapat pula diparalelkan dengan konsep-konsep perancangan di dalam arsitektur Posmodern, antara lain konsep representasi, konsep kompleksitas dan ambiguitas, penghargaan terhadap memori dan sejarah, serta pemanfaatan ornamen dan dekorasi. Menurut Hollier dengan konsep representasinya, apa yang disebut sebagai arsitektur pada dasarnya hanyalah general locus atau framework dari representasi (Hollier dalam Hays dalam Ikhwanuddin, 2005: 86). Arsitektur dapat merepresentasikan sebuah agama, kekuatan politik, peristiwa dan lain-lain. Arsitektur selalu merepresentasikan sesuatu yang lain di luar “dirinya”, yang membedakannya dengan bangunan yang lain (Ikhwanuddin, 2005: 86). Dalam pengertian ini, terdapat kesamaan antara konsep al-Faruqi dan konsep representasi Hollier, yaitu kesepakatan bahwa arsitektur merepresentasikan sesuatu yang lain. Seni Islam di dalam konsep al-Faruqi bukan hadir untuk merepresentasikan dirinya sendiri, melainkan sebagai representasi dari worldview Islam. Karenanya, ornamentasi dan modulasi di dalam seluruh cabang seni Islam bahkan dihadirkan untuk menyamarkan material yang merupakan simbol dari keduniawian dan menggiring perhatian ke arah pola infinitif yang merupakan simbol dari makna-makna transenden itu.

Sementara itu, konsep kompleksitas dan ambiguitas, dalam pengertiannya yang paling sederhana, dapat disejajarkan dengan konsep kerumitan dan dinamisme di dalam konsep seni Islam Al-Faruqi. Penerapan konsep ambiguitas yang dapat ditemui pada sebagian obyek arsitektur Islam, misalnya adalah adanya kesan ”pertentangan” antara tampilan eksterior dan interior bangunan. Bagian eksterior bangunan dirancang secara sederhana dan warna-warna alami, sedangkan bagian interior dirancang dengan tingkat kerumitan yang tinggi dan penggunaan ornamentasi dan dekorasi yang kaya warna. Kenyataan ini menampakkan pertentangan atau ambiguitas arsitektur Islam jika dilihat pada tataran wujud semata. Padahal, hal tersebut sebenarnya mengandung kesatuan pada tataran filosofis, yaitu nilai seorang muslim di mata Tuhannya terletak pada kualitas ketakwaan yang ada di dalam dirinya. Jika kompleksitas di dalam arsitektur Posmodern merupakan perlawanan terhadap simplisitas (Ikhwanuddin, 2005: 90), maka di dalam arsitektur Islam, kompleksitas dan simplisitas digunakan bersamaan untuk mendukung satu makna tertentu yang sesuai dengan worldview Islam.

Mengenai pandangan terhadap sejarah dan memori, konsep arsitektur Posmodern dan konsep seni Islam al-Faruqi memiliki kesamaan dalam penghargaan terhadap hal ini. Kesamaan ini dikarenakan keduanya melihat sejarah sebagai gudang perbendaharaan bentuk yang kaya dan bernilai tinggi. Hal ini tidak sejalan dengan paham modernisme di dalam arsitektur. Penyebab dari ditolaknya simbol dan bahasa dekoratif di dalam arsitektur modern, di antaranya adalah karena arsitektur modern menolak tradisi dan sejarah masa lalu (Kurokawa dalam Ikhwanuddin, 2005: 89). Karakteristik dinamisme dalam konsep seni Islam al-Faruqi menunjukkan bahwa waktu merupakan faktor yang penting di dalam seluruh seni Islam, termasuk seni ruang.  Islam menghargai sejarah sebagai pelajaran bagi generasi selanjutnya. Karenanya, di dalam arsitektur Islam tidak dikenal bentuk-bentuk yang ”ketinggalan zaman” atau usang. Seluruhnya dihargai karena kandungan maknanya yang mengarahkan manusia untuk mengingat tauhid. Sesuai dengan nilai-nilai Islam yang diyakini berlaku sepanjang masa, prinsip-prinsip arsitektur Islam merupakan konsep yang dapat diterapkan di setiap masa dan zaman.

Seperti arsitektur Klasik, kesejajaran konsep al-Faruqi dengan konsep-konsep arsitektur Posmodern dapat pula ditemukan dalam pandangan terhadap penggunaan ornamen dan dekorasi. Seperti arsitektur Islam, arsitektur Posmodern juga menerima kehadiran ornamen dan dekorasi. Hal ini disepakati oleh Jencks, Klotz, Kurokawa dan Venturi (Ikhwanuddin, 2005: 94). Walaupun begitu, sebagian metode untuk menghasilkan ornamen dan dekorasi, yaitu metode desain pleasure dan enjoyment, menjadikan tujuan dihasilkannya ornamen dan dekorasi di dalam sebuah arsitektur Posmodern hanya sebagai ”permainan” tanpa keharusan untuk dikaitkan dengan fungsi-fungsi tertentu (Ikhwanuddin, 2005: 94). Sebaliknya, di dalam arsitektur Islam, setiap bentuk yang hadir harus memiliki makna dan mengandung nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Ornamentasi bukanlah sesuatu yang ditambahkan secara superfisial pada suatu karya yang telah selesai, untuk sekedar menghias karya ini tanpa ada artinya. Ia juga bukan sarana untuk memuaskan selera orang-orang yang mencari kenikmatan semata (al-Faruqi, 2003: 412). Dalam hal ini, tampak bahwa kehadiran bentuk-bentuk fisik yang serupa ternyata dapat menjadi tidak sejalan pada tataran filosofisnya.

Dari uraian panjang di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep seni Islam al-Faruqi memiliki kesetaraan dengan konsep-konsep arsitektural lainnya, walaupun kesetaraan ini bukan berarti keduanya selalu mengandung kesesuaian. Pada tataran operasional, teoretis dan tataran filosofis, terdapat kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan antara konsep al-Faruqi dengan konsep-konsep lainnya di dalam arsitektur.

 

Penutup

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep seni Islam al-Faruqi memiliki kesejajaran dengan konsep-konsep arsitektur lainnya. Konsep ini juga dapat diletakkan pada konteks arsitektural, sehingga dapat dibaca dengan kosakata keilmuan arsitektur. Dalam kerangka pikir keilmuan arsitektur, konsep seni Islam al-Faruqi dapat didefinisikan sebagai konsep karakteristik estetis arsitektur Islam. Dengan demikian, keberadaannya dapat memperkaya khasanah keilmuan arsitektur Islam, terutama dalam dimensi estetis dari arsitektur Islam itu sendiri. Tentu saja, dimensi estetis ini tidak dapat berdiri sendiri. Dimensi estetis di dalam arsitektur Islam harus menyatu dengan dimensi-dimensi lainnya, terutama dimensi kebenaran dan kebaikan, seperti halnya dalam pandangan Islam, keindahan itu sendiri bukanlah semata-mata keindahan pada tataran fisik, melainkan merupakan manifestasi dari nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.

 

Bibliography

Al-Faruqi, Ismail Raji. 1999. Seni Tauhid: Esensi dan Ekspresi Estetika Islam, Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta.

Al-Faruqi, Ismail R. & Al-Faruqi, Lois Lamya 2003. Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, Penerbit Mizan, Bandung.

Gombrich, E.H. 1984. The Sense of Order, A Study in the Psychology of Decorative Art, Cornell University Press, New York.

Hillenbrand, Robert. 1994. Islamic Architecture: Form, Function and Meaning, Columbia University Press, New York.

Ikhwanuddin. 2005. Menggali Pemikiran Posmodernisme dalam Arsitektur. UGM Press, Yogyakarta.

Morgan, Morris Hicky. 1960. Vitruvius the Ten Books on Architecture, Dover Publication, New York.