Precedent as One of the Channels of Creativity

Posted on Updated on

Case Study: Tadao Ando on Japanese Pavilion for Seville World Exhibition 1992

precedent-1.jpg

 

Peradaban masa lalu telah mewariskan banyak sekali karya arsitektur yang memiliki tingkat estetika dan kandungan makna yang tinggi. Karya-karya arsitektur di masa lalu itu tentu saja bukan sekedar pelengkap bagi kekayaan sejarah peradaban dunia. Dalam konteks kiwari, karya-karya arsitektur di masa lalu itu dapat dijadikan sebagai preseden atau contoh yang dijadikan teladan, bagi perancangan obyek-obyek arsitektur di masa kini dan masa depan.

Para arsitek dapat mengambil manfaat yang besar dari pengetahuan mereka akan karya-karya arsitektur terdahulu. Karya arsitektur masa lalu merupakan bahan referensi yang sangat kaya untuk mengembangkan kemampuan para arsitek dalam merancang. Karenanya, preseden-preseden arsitektur yang ada telah dimanfaatkan oleh banyak arsitek dunia sebagai salah satu jalan untuk mengeksplorasi rancangan mereka.

Dalam usaha mempelajari preseden arsitektur yang telah ada, seorang arsitek harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam usaha peniruan bentuk semata. Untuk menghasilkan sebuah karya arsitektur dengan cara ini, seorang arsitek harus mempelajari sebuah preseden secara menyeluruh. Ia harus memiliki pengetahuan akan anatomi bangunan, struktur dan konstruksi, tata ruang, nilai-nilai yang dikandung, kondisi sosial budaya masyarakat, hingga sejarah yang melatarbelakangi keberadaan sebuah preseden. Hal ini dikarenakan, di dalam sebuah preseden selalu terkandung makna-makna tertentu. Makna-makna ini tidak dapat diterapkan begitu saja pada karya arsitektur baru, hanya dengan meniru bentuk fisik semata dari presedennya. Preseden pada dasarnya tidak berfungsi sebagai ”pemberi contoh bentuk” belaka. Prinsip-prinsip dan esensi yang terdapat di dalam preseden harus dapat dikembangkan oleh si arsitek. Dengan begitu, ia akan memperoleh sebuah rancangan baru yang dapat dengan tepat menerapkan prinsip dan esensi itu, sesuai dengan konteks waktu dan tempatnya masing-masing.

Dalam kajian tentang preseden sebagai salah satu saluran kreativitas ini, penulis mengupas salah satu karya arsitek Jepang, Tadao Ando, yaitu Japanese Pavilion for Seville World Exhibition of 1992. Sebagai obyek arsitektur yang menjadi representasi dari kebudayaan Jepang di dunia internasional, bangunan paviliun ini dirancang dengan studi dan pengetahuan yang mendalam mengenai arsitektur tradisional Jepang. Tadao Ando mengeksplorasi potensi-potensi arsitektur tradisional Jepang sebagai preseden bagi Japanese Pavilion ini. Walaupun begitu, bentuk-bentuk arsitektur tradisional Jepang tidak diterapkan mentah-mentah pada karya arsitekturnya ini. Sebaliknya, terdapat proses kreatif dalam mengolah prinsip-prinsip dasar dan citra yang dikandung oleh preseden. Prinsip dasar dan citra itu diolah kembali oleh Ando, sesuai dengan konteks waktu, tempat dan fungsi. Terdapat pula loncatan-loncatan kreativitas dalam pengolahan bentuk, sehingga karya arsitektur yang dihasilkan tidak menjadi peniruan semata dari bentuk-bentuk fisik yang telah ada pada presedennya. Sebagai arsitek yang benar-benar mengalami dan memahami esensi dan prinsip arsitektur tradisional Jepang, Ando dapat dengan tepat menerjemahkan prinsip dan esensi itu ke dalam bentuk-bentuk baru, tanpa menghilangkan nilai dan makna aslinya.

TINJAUAN UMUM ARSITEKTUR TRADISIONAL JEPANG

Prinsip-prinsip dasar yang dapat ditemui pada sebagian besar obyek arsitektur tradisional Jepang adalah keseimbangan, kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Ketiga prinsip dasar ini berasal dari sistem kepercayaan (beliefs) asli masyarakat Jepang, yaitu Shinto. Selain itu, berkembang pula agama Budha yang lebih menekankan pada siklus kehidupan manusia menuju kesucian. Prinsip-prinsip yang terdapat di dalam kedua sistem kepercayaan ini membawa pengaruh yang besar kepada kebudayaan dan arsitektur tradisional Jepang.

 Arsitektur Jepang juga mendapat pengaruh yang cukup besar dari arsitektur kuil yang telah berkembang di China. Pengaruh ini terutama tampak jelas pada arsitektur rumah tinggal dan istana kerajaan pada abad VIII (Egenter, 2006). Salah satu pengaruh yang diperoleh dari arsitektur China adalah penggunaan struktur kolom-balok tradisional dengan kayu sebagai bahan konstruksi utama. Walaupun demikian, arsitektur Jepang juga memperlihatkan perbedaan-perbedaan dengan arsitektur China dalam banyak aspek penting. Perancangan rumah tinggal di China didasarkan pada pertimbangan terhadap strata sosial ekonomi keluarga yang mendiaminya. Sebaliknya, arsitektur rumah tinggal di Jepang lebih banyak dipengaruhi oleh prinsip-prinsip kedekatan dengan alam. Perbedaan prinsip dasar ini menghasilkan perbedaan pula pada citra arsitektur yang ditampilkan. Secara garis besar, arsitektur China menunjukkan kemewahan dan kerumitan desain, sedangkan arsitektur Jepang lebih menonjolkan kesederhanaan dan kesatuan hubungan dengan alam.

 Ketiga prinsip arsitektur Jepang –keseimbangan, kesederhanaan dan kedekatan dengan alam- diterapkan dalam setiap aspek perancangan arsitektur Jepang secara terpadu. Keseimbangan dan kesederhanaan merupakan dua prinsip yang sangat erat berkaitan dengan prinsip kedekatan dengan alam. Pertimbangan-pertimbangan keseimbangan dan kesederhanaan yang nampak dalam setiap obyek arsitektur, selalu didasarkan pada pertimbangan akan kelangsungan lingkungan hidup yang melingkupinya. Salah satu contohnya adalah penggunaan material alam, yaitu kayu, jerami dan bambu, baik sebagai bahan struktur maupun bahan selubung bangunan.

Lebih jauh, hubungan dengan alam juga terlihat pada adanya hubungan yang mengalir antara ruang dalam dan ruang luar. Hubungan ini dihasilkan melalui bukaan-bukaan yang lebar pada dindingnya, juga oleh material dinding yang hanya berupa lembaran kertas yang disebut ”washi” dan partisi geser semi transparan, disebut ”shoji”. Aliran pemandangan yang masuk ke ruang dalam ini menghasilkan interaksi yang intensif antara manusia dengan alam, walaupun mereka sedang berada di dalam ruangan. Tidak seperti arsitektur Barat yang memandang dunia manusia dan lingkungan alam sebagai dua hal yang terpisah, masyarakat tradisional Jepang memandang keduanya sebagai sebuah kesatuan (Heneghan, 1996).

Selain itu, terdapat sebuah teknik untuk menghadirkan pemandangan dari alam ke dalam ruangan, atau ke dalam halaman rumah tinggal mereka. Teknik ini disebut ”shakkei” atau ”meminjam pemandangan”. Pemandangan alam di luar dibingkai dan dijadikan latar belakang yang dapat menambah nilai estetis taman di halaman rumah. Dengan demikian, pemandangan bukit dan pepohonan yang semula tidak memiliki hubungan apa-apa dengan taman, kemudian memiliki arti yang lebih dari semata-mata ruang negatif (Gunadi, 1983).

 

precedent-2-rumah-jepang.jpg

Berkaitan dengan citra bangunan yang dihasilkan dari pertimbangan-pertimbangan atas faktor iklim, geografis dan sebagainya, arsitektur Jepang memiliki karakteristik yang juga dimiliki oleh sebagian besar arsitektur di wilayah kepulauan (arsitektur nusantara). Pada arsitektur nusantara, ekspresi bentuk (formal expression) bangunan terletak pada pengolahan atap sebagai kepala bangunan. Masing-masing daerah memiliki bentuk atap yang berbeda dan menjadi identitas arsitektur itu sendiri. Hal ini juga dapat dilihat pada arsitektur Jepang. Citra yang terbentuk pada arsitektur Jepang adalah sebuah arsitektur yang didominasi oleh atap sebagai kepala bangunan. Bentuk atap dengan kemiringan yang besar, selain berfungsi untuk menghindari penumpukan salju dan mengalirkan air hujan, ternyata telah pula menjadi salah satu ciri khusus arsitekturnya.

Lebih lanjut, salah satu karakteristik yang dapat pula ditemui pada arsitektur Jepang adalah adanya suatu bentuk arsitektur gerbang kayu yang unik. Gerbang yang terdapat di pintu masuk wilayah kuil disebut sebagai ”torii”. Gerbang ini berfungsi sebagai penanda adanya batas luar dan dalam, publik dan privat, serta duniawi dan ukhrawi. Walaupun desainnya sangat sederhana, skala gerbang yang monumental melambangkan kewibawaan dan kebesaran.

precedent-3-torii.jpg

Ciri khas lain pada arsitektur Jepang adalah penggunaan elemen tangga sebagai pembatas antara dua wilayah yang memiliki perbedaan makna. Hal ini banyak ditemui pada arsitektur istana dan kuilnya. Keberadaan tangga, selain disebabkan topografi wilayah yang berkontur, juga disebabkan penataan massa yang menempatkan bangunan-bangunan yang suci di bagian topografi yang teratas.

Senada dengan desain gerbang, tangga-tangga pada kuil juga menampakkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Salah satunya contohnya adalah penggunaan bahan-bahan yang berasal dari alam. Hal ini menunjukkan, bahwa prinsip-prinsip dasar perancangan arsitektur tradisional Jepang melebur ke dalam setiap elemen arsitekturalnya. Kesatuan ini melahirkan citra yang utuh, sehingga dapat dikenali sejak pertama kali seseorang melihat dan mengapresiasinya. Prinsip-prinsip ini pulalah yang benar-benar dipahami dan diterapkan oleh Tadao Ando dalam perancangan paviliun yang mewakili citra kebudayaan bangsa Jepang di mata internasional ini. 

TADAO ANDO DAN PANDANGANNYA TERHADAP ARSITEKTUR TRADISIONAL JEPANG

Sebagai seorang arsitek Jepang yang menghabiskan masa remajanya untuk mengamati dan mengapresiasi karya seni tukang kayu, serta mempelajari karya-karya arsitektur Jepang dengan melihat dan mengalaminya sendiri, Tadao Ando memiliki pemahaman yang mendalam mengenai prinsip-prinsip dasar arsitektur tradisional Jepang. Ia memiliki kepedulian yang besar terhadap interaksi yang terjadi antara manusia dengan lingkungannya. Baginya, arsitektur merupakan perantara yang menghubungkan manusia dengan manusia lainnya dan manusia dengan lingkungan alamnya. Alam bukanlah sekedar pelengkap dalam desainnya, bukan pula elemen dekoratif, melainkan merupakan sebuah komponen utama (Heneghan, 1996: 13-15). Prinsip Ando ini lahir dari interaksi yang panjang dengan tradisi dan kebudayaan Jepang.

Lebih jauh, perkembangan pemikiran Ando mengenai prinsip ini sampai pula pada kesimpulan, bahwa seiring dengan berubahnya peradaban dan kebudayaan, terjadi pula perubahan di lingkungan alam. Karenanya, pada masa sekarang, hubungan antara manusia dan lingkungan alamnya juga mau tidak mau ikut berubah. Dalam berarsitektur, tujuan Ando bukanlah untuk berinteraksi dengan alam seperti apa adanya, melainkan lebih kepada mencoba mengubah makna lingkungan alam melalui arsitektur. Menurutnya, material-material arsitektur tidak terbatas pada kayu atau beton yang memiliki bentuk-bentuk terukur. Lebih dari itu, cahaya dan angin termasuk pula di dalamnya dan turut berpengaruh pada perasaan manusia. (Heneghan, 1996: 15). Karya-karyanya merupakan perpaduan antara massa-massa dan bidang-bidang yang sederhana dengan permainan cahaya dan elemen-elemen alam. Kesederhanaan bentuk arsitektural menurutnya merupakan salah satu pendekatan pada prinsip kesatuan dengan alam di atas. Kesederhanaan bentuk ini memungkinkan hubungan arsitektur dengan alam terjadi melalui transformasi yang dihasilkan oleh pengolahan cahaya dan bayangan, serta kombinasi dinding dan bukaan. Karenanya, alam benar-benar meresap dalam bentukan-bentukan arsitekturalnya dan membentuk dialog yang kontinu dengan manusia di dalamnya.

Dalam jurnalnya yang berjudul Tadao Ando’s Architecture in the Light of Japanese Aesthetics, Erzen menyatakan bahwa arsitektur Tadao Ando menyatukan kualitas-kualitas estetika tradisional dengan cara yang benar-benar baru dan mengagumkan, dan menuntun pada filosofi tempat dan waktu (philosophy of time and place) dan filosofi keberadaan (philosophy of being). Lebih jauh, ia mempertahankan kualitas-kualitas yang dianggap penting dalam arsitektur Jepang, dari sudut pandang nostalgia yang terbatas. Kualitas-kualitas itu menjadi penting disebabkan kemampuan Ando untuk menghadirkan kualitas archetypal universal yang dapat dirasakan dan dimengerti setiap orang (Erzen, 2004: 3).

Pengembangan konsep hubungan manusia dengan alam inilah yang menyebabkan karya-karya Ando yang mendapat inspirasi dari kebudayaan dan arsitektur tradisional Jepang tidak serta merta mengadopsi bentuk-bentuk yang telah ada sebelumnya. Bentuk, prinsip dan nilai yang dikandung oleh preseden bagi Ando berfungsi sebagai salah satu bahan baku yang harus dikembangkan sesuai dengan konteks tempat dan waktu. Japanese Pavilion for Expo ’92 di Seville, Spanyol merupakan salah satu gambaran dari perhatian Ando yang besar terhadap tradisi dan kebudayaan Jepang dan bagaimana pemahaman atasnya dapat dieksplorasi dan dikembangkan menjadi sebuah desain yang sesuai dengan perkembangan jaman tanpa kehilangan nilai dan makna aslinya.

 PENGEMBANGAN CITRA ARSITEKTURAL PRESEDEN PADA OBYEK STUDI KASUS

Sebagai representasi kebudayaan dan tradisi bangsa Jepang, Japanese Pavilion for Expo ’92 dirancang agar para pengamat dapat dengan mudah mengenali dan mengapresiasi obyek arsitektural ini berdasarkan pengalaman visualnya masing-masing tentang arsitektur Jepang. Pertimbangan mengenai beragamnya referensi pengamat tentang arsitektur Jepang membawa Ando untuk mengambil bentuk-bentuk paling sederhana yang dapat merepsentasikan arsitektur Jepang secara tepat. Walaupun begitu, bentuk ini tidak diterapkan mentah-mentah pada bangunan, melainkan melalui suatu proses kreatif yang dipengaruhi pula oleh pandangan Ando terhadap prinsip-prinsip dasar arsitektur Jepang.

Seperti telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, ekspresi bentuk (formal expression) arsitektur Jepang didominasi oleh bentukan-bentukan atap yang khas. Kemiringan yang curam pada atap-atap rumah tinggal tradisional di pedesaan di Jepang menghasilkan ekspresi bentuk arsitektur secara keseluruhan yang didominasi oleh atap. Ekspresi bentuk ini ditangkap dan dikembangkan oleh Ando menjadi representasi bentuk arsitektur Jepang pada paviliun ini. Dapat kita lihat bahwa bentuk bangunan secara keseluruhan merupakan dinding yang melengkung dan menjulang ke atas. Bentukan dinding ini melahirkan citra atap arsitektur tradisional Jepang. Bentuk atap jerami yang sederhana ditransformasikan pada dinding dengan pengembangan dalam perletakan, sistem konstruksi dan penggunaan material yang berbeda, namun tetap merepresentasikan citra atap khas arsitektur tradisional Jepang. Di sini dapat kita amati adanya loncatan kreativitas arsitek dalam mengembangkan preseden menjadi bentuk-bentuk arsitektural baru dengan citra yang tetap mewakili preseden itu sendiri.

Selain itu, ekspresi bentuk arsitektur tradisional Jepang ini juga diperoleh dari diterapkannya teknik ”shakkei” atau ”meminjam pemandangan” pada bangunan. Paviliun ini dirancang dengan lubang besar di tengah-tengahnya, membagi bangunan menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh jalur sirkulasi utama yang membentang dari luar bangunan. Lubang dengan ukuran monumental yang dibingkai dengan dinding dan atap bangunan ini menyuguhkan pemandangan yang terbentang jauh di balik paviliun ini. Penerapan teknik ”shakkei” pada bangunan ini sekaligus berfungsi sebagai penyeimbang dari kesan massif yang dihasilkan oleh dinding yang ditutupi oleh lapisan-lapisan papan. Perletakannya di tengah-tengah bangunan memperkuat kesan keseimbangan yang dibentuk oleh bidang-bidang dinding di kedua sisinya. Dengan demikian, penerapan teknik ”shakkei” pada obyek arsitektural ini tidak semata-mata mengadopsi tradisi arsitektural, melainkan berdasarkan pada pertimbangan fungsi dan estetika secara keseluruhan.

precedent-4-shakkei.jpg

Jika kita amati lebih jauh, pada bangunan ini terpancar pula citra kewibawaan bangsa Jepang yang biasanya dapat kita lihat pada arsitektur istana dan bentengnya. Kesan ini diangkat oleh Ando dalam desainnya untuk menunjukkan kedudukan Jepang sebagai salah satu negara maju di dunia internasional. Citra kewibawaan ini ditampilkan melalui dimensi bangunan yang monumental dan desainnya yang semi-simetris. Selain itu, terdapat pula elemen tangga dan ”torii” pada arsitektur kuil Jepang yang biasa digunakan untuk memunculkan kesan suci, penting dan besar.

Pada paviliun ini, Ando mentransformasi tangga menjadi sebuah jembatan-tangga melengkung dengan ukuran yang monumental. Esensi yang ditangkap oleh Ando adalah kesan kewibawaan yang muncul sebenarnya disebabkan oleh adanya perbedaan elevasi. Perbedaan elevasilah yang menyebabkan manusia memandang sesuatu lebih tinggi, suci dan berwibawa. Lebih jauh, jembatan kayu ini juga merupakan simbol peralihan dari era tradisional menjadi era modern dalam peradaban Jepang, tanpa meninggalkan nilai-nilai positif yang dimilikinya.

 Tidak seperti sebagian besar karya Ando yang lain, material yang digunakan pada bangunan ini didominasi oleh penggunaan kayu, baik sebagai bahan struktur maupun sebagai bahan selubung bangunan. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh pertimbangan akan struktur bangunan tradisional Jepang, yaitu struktur kolom dan balok, yang berasal dari karakteristik material pembentuknya, yaitu kayu (Norman, 1995: 62). Selain itu, bahan kayu merepresentasikan kedekatan dengan alam, karena bahan ini merupakan bahan yang berasal dari alam dan hanya mengalami sedikit perubahan dari karakter aslinya. Kayu bagi bangsa Jepang lebih dari sekedar material bangunan. Kayu memiliki nilai yang tinggi, terutama dalam hubungannya dengan alam dan dengan warna dan tekstur yang dimilikinya (Charleson, 2006: 1). Walaupun kayu bukanlah material favorit Ando dalam karya-karyanya, namun pengetahuan dan pemahamannya akan material ini yang diperoleh dari interaksi intensifnya dengan para pengrajin kayu tradisional Jepang membuatnya mampu menerapkan material ini secara tepat pada bangunan ini.

precedent-5-kayu.jpg

Pertimbangan lain dalam penggunaan material kayu dalam bangunan ini bisa jadi dikarenakan kesederhanaan dan kenetralan citra yang ditampilkannya sebagai permukaan dan sebagai bahan struktur, suatu sifat yang juga terdapat pada beton yang sering digunakan Ando. Kesederhanaan dan kenetralan ini memungkinkan Ando menampilkan permainan cahaya dan bayangan, serta kombinasi gelap dan terang, seperti karya-karya Ando lainnya. Cara ini menurutnya, merupakan suatu jalan bagi manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan alam yang melingkupi arsitektur. Manusia diajak untuk ikut merasakan perubahan-perubahan yang terjadi di alam dari waktu ke waktu, walaupun sedang berada di dalam ruang. Eksplorasi yang dilakukan Ando terhadap cahaya pada setiap karyanya, sesungguhnya merupakan pengembangan dari konsep unity atau kesatuan yang terdapat pada arsitektur tradisional Jepang. Telah diterangkan sebelumnya, bahwa berbeda dengan cara pandang Barat yang memandang entitas manusia dan alam sebagai dua hal yang terpisah, kebudayaan Jepang memandang manusia dan alam bukan sebagai dua hal yang terpisah, melainkan selalu berada dalam hubungan yang saling membutuhkan. Perubahan yang terjadi pada salah satunya akan menyebabkan pula perubahan pada yang lainnya. Hal ini pula yang menurut Ando menyebabkan hubungan antara keduanya menjadi dinamis.

precedent-6-cahaya.jpg

 

Dari penjelasan panjang di atas dapat kita simpulkan bahwa kreativitas Ando turut bermain dalam mengembangkan prinsip-prinsip yang dimiliki oleh presedennya, untuk kemudian menghasilkan suatu kualitas baru dalam desainnya. Sesuai dengan tujuan perancangan paviliun ini, Ando berhasil menunjukkan kepada masyarakat internasional estetika tradisional Jepang dengan cara yang baru, sesuai dengan konteks waktu dan tempat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Antoniades, Anthony C. 1990. Poetics of Architecture, Theory of Design. New York: Van Nostrand Reinhold

Charleson, Andrew. 2006. Developments in Japanese Timber Architecture dalam Issue 4 Volume 6 11 NZ TIMBER DESIGN JOURNAL. http://www.timberdesign.org.nz/files/DevelopmentsInJapaneseTimber.PDF diakses tanggal 22 Oktober 2006.

Crowe, Norman. 1995. Nature and the Idea of a Man-Made World. Cambridge: The MIT Press

Egenter, Nold. 2006. The Japanese House. Or, Why the Western Architect Has Difficulties to Understand It. http://home.worldcom.ch/negenter/410JapHouseTxE1.html diakses tanggal 26 Oktober 2006.

Erzen, Jale Nejdet. 2004. Tadao Ando’s Architecture in the Light of Japanese Aesthetics dalam METU JFA 2004/1-2. http://www.jfa.arch.metu.edu.tr/archieve/0258-5316/2004/city21/sayi_1-2/67-80.pdf diakses tanggal 22 Oktober 2006

Frampton, Kenneth. 1995. Thoughts on Tadao Ando dalam Proceedings At Award Ceremony At Versailles 1995. http://www.pritzkerprize.com/andocere.htm diakses tanggal 22 Oktober 2006.

Gunadi, Sugeng. 1983. Merancang Ruang Luar terjemahan dari Exterior Design in Architecture oleh Yoshinobu Ashihara. Surabaya: PT. Dian Surya

Heneghan, Tom. 1996. Architecture and Ethics dalam Tadao Ando, The Colours of Light. London: Phaidon Press Limited

http://en.wikipedia.org/wiki/Japanese_architecture diakses tanggal 26 Oktober 2006.

http://encyclopedia.farlex.com/Ando%2c+Tadao diakses tanggal 22 Oktober 2006.

Microsoft. 2005. Japanese Architecture. Microsoft® Encarta® Reference Library Premium 2005. ©1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s