Menjadi Penduduk “Ramah Lingkungan”

Posted on Updated on

ramah-1.jpg

 Pada saat-saat tertentu, ketika kita berjalan kaki di daerah permukiman padat di kota-kota besar, kita akan menyadari bahwa bayang-bayang yang menaungi jalan yang kita lalui bukanlah berasal dari rimbunnya pepohonan. Bayangan itu terbentuk oleh dinding-dinding bangunan yang merapat sedemikian rupa, sehingga menaungi sebagian besar badan jalan.

 Kenyataan di atas adalah salah satu contoh sederhana, betapa disadari atau tidak, degradasi kualitas lingkungan telah terjadi dan berdampak pada perubahan suasana kota. Jika secara sepintas kita merasakan peningkatan suhu kota kita atau air yang banyak tergenang di jalan raya ketika hujan turun, maka sesungguhnya telah terjadi perubahan besar pada lingkungan alam yang mewadahi kota kita.

 Perubahan yang terjadi, berupa penurunan kualitas lingkungan, sejatinya jauh lebih besar daripada yang secara sepintas lalu kita sadari. Lingkungan alam merupakan wadah manusia mengembangkan lingkungan binaannya. Lingkungan alam ini memperoleh dampak negatif dari usaha manusia membangun dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dampak negatif ini pada akhirnya kembali lagi kepada manusia dalam bentuk penurunan kualitas kesehatan dan masalah kependudukan lainnya.

 Apa yang bisa kita lakukan?”

Sampai di sini, bisa jadi akan muncul satu pertanyaan besar di benak kita masing-masing. “Lalu apa yang bisa kita lakukan?” Kita bukanlah pemegang kekuasaan yang dapat mengambil keputusan penting dalam pengembangan kota dan infrastrukturnya. Kita bukan pula seorang ahli lingkungan yang dapat memperhitungkan berapa besar dampak negatif dari setiap sampah plastik yang tak dapat diuraikan atau detergen yang mengalir bersama air sungai. Jika kita hanyalah salah satu dari penduduk biasa yang tinggal di suatu kota, apa yang kemudian dapat kita lakukan?

Sebenarnya kita yang ’hanya’ penduduk biasa ini pun dapat melakukan sesuatu yang lebih daripada yang kita pikirkan selama ini. Ada beberapa hal ‘kecil’ namun penting, yang dapat kita lakukan. Seperti kata A’a Gym, mulailah dari lingkungan sendiri, mulailah dari hal-hal yang sederhana, dan mulailah saat ini juga. Mulailah saat ini di lingkungan kita sendiri, dengan menjadi penduduk yang ’ramah lingkungan’. Artinya, kita berusaha memberikan sesedikit mungkin dampak negatif terhadap lingkungan kita, misalnya dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat, menghemat penggunaan detergen, dan hal-hal kecil lainnya. Selanjutnya, sedikit demi sedikit kita dapat mulai mengadakan perbaikan-perbaikan sederhana untuk meningkatkan mutu lingkungan sekitar kita.

 Lingkungan dalam ’kekuasaan’

ramah-02.jpg

 

Tidak banyak disadari, ada sebuah lingkungan kecil yang berada dalam ‘kekuasaan’ kita, yang di dalamnya kita dapat menerapkan ‘kebijakan-kebijakan’ kita sendiri. Lingkungan kecil itu adalah rumah tinggal kita sendiri. Di dalamnya, kita memiliki kemampuan untuk melakukan perbaikan-perbaikan kecil yang berpengaruh besar pada kualitas lingkungan dan kualitas hidup kita sekeluarga.

Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah menyadari seberapa dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh keberadaan rumah kita. Masih adakah lahan hijau yang tersisa untuk memenuhi kebutuhan oksigen kita sendiri? Dalam bukunya Imelda Akmal memaparkan, bahwa menurut ilmu konservasi setiap orang membutuhkan minimal 1,2 m2 rumput di atas tanah untuk kebutuhan oksigen. Hal ini berarti, jika ada lima orang anggota keluarga, kita membutuhkan minimal 6 m2 area hijau, atau setara dengan halaman berukuran 3m x 2m. Sudahkah halaman rumah kita memenuhi kebutuhan oksigen kita sendiri?

Selanjutnya, sudah memadaikah penghawaan di dalam ruang-ruang yang kita tinggali, sehingga kita dapat menghemat penggunaan mesin AC? Penghawaan yang baik adalah ketika udara di dalam ruang dapat mengalir dengan lancar dari satu sisi ke sisi lain yang berseberangan. Sistem penghawaan semacam ini lazim disebut sebagai penghawaan silang. Pada kedua sisi dinding yang saling berhadapan di dalam suatu ruang terdapat bukaan, baik berupa jendela maupun kisi-kisi, yang langsung berhubungan dengan udara luar. Karenanya, keberadaan area terbuka sangat penting di rumah kita. Sedapat mungkin kita tidak membangun sebuah full-house yang tidak menyisakan sejengkal pun untuk lahan hijau. Dampak negatifnya akan langsung terasa oleh diri sendiri dan keluarga kita selama mendiaminya. Jika kebutuhan akan ruang-ruang tambahan dirasakan sangat mendesak, menambah lantai bangunan menjadi dua lantai dapat dijadikan alternatif yang lebih baik dibandingkan menutup seluruh lahan yang kita miliki dengan bangunan. Pada awalnya mungkin akan terasa lebih mahal, namun manfaat yang dirasakan jauh lebih besar dari jumlah nominal berapa pun. Dari segi ekonomi bangunan, tentu saja hematnya biaya operasional untuk ruang-ruang itu nantinya akan sangat terasa dengan adanya pencahayaan dan penghawaan alami itu.

 

ramah-03.jpgLalu, bagaimana dengan pencahayaan alami dalam ruang? Apakah sudah memadai, ataukah kita harus terus-menerus menyalakan lampu pada siang hari untuk meneranginya? Pencahayaan alami juga dibutuhkan, agar kuman-kuman penyakit dan kelembaban yang berlebihan di dalam ruang dapat dikurangi. Sekali lagi, penyelesaian terbaik yang dapat ditawarkan adalah dengan menyisakan lahan terbuka hijau tempat masuknya cahaya difus matahari dari jendela.

 Hal yang tidak kalah penting, masih tersisakah lahan hijau untuk resapan air hujan, atau seluruh bagian halaman yang terbuka itu pun telah kita tutupi dengan semen? Air hujan yang meresap ke tanah sangat kita butuhkan, karena dapat kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Salah satu penyelesaian sederhana yang dapat kita gunakan adalah dengan menyediakan sumur resapan untuk menampung rembesan air dari talang atau dari saluran air kotor kita. Bagian bawah sumur ini tidak disemen, agar air dapat meresap ke dalam tanah.

Dari contoh-contoh permasalahan di atas, dapat kita simpulkan beberapa masalah pokok yang sering didapati pada tiap rumah tinggal. Yang pertama adalah tidak adanya area terbuka hijau untuk kebutuhan oksigen, pencahayaan dan penghawaan alami. Permasalahan kedua, sering terjadi area terbuka yang tersisa pun ditutupi pula dengan perkerasan berbahan semen, sehingga air tidak dapat meresap dan suhu rumah tinggal menjadi lebih panas. Permasalahan selanjutnya adalah borosnya energi yang kita habiskan untuk mengatasi masalah-masalah di atas, seperti energi listrik untuk AC dan lampu yang menyala sepanjang hari.

 

ramah-04.jpgPermasalahan-permasalahan di atas terjadi di sekeliling kita dan terasa langsung dampaknya oleh kita. Walaupun demikian, kita memiliki ‘kekuasaan’ penuh untuk mengubahnya dan mengadakan perbaikan di dalam rumah tinggal kita sendiri. Pada akhirnya, peningkatan kualitas hidup yang kita harapkan akan dapat kita peroleh di tempat kita menghabiskan sebagian besar waktu yang berharga bersama keluarga. Perubahan yang diharapkan terjadi, setidaknya di rumah kita sendiri…

 

 

7 thoughts on “Menjadi Penduduk “Ramah Lingkungan”

    muis said:
    February 16, 2008 at 5:34 pm

    artikel ini dibahas di banjarmasin post. selamat bu…..

    Ahmad Karmadi, ST said:
    August 12, 2008 at 1:23 am

    Salam Kenal……sesama arsitek.
    From Manado with happy day

    U B, ST said:
    September 10, 2008 at 12:23 pm

    Bu,bagaimana menjadi seorang arsitek yang profesional??

    apakah seorang arsitek itu harus mempunyai jiwa seni??

    Yulia responded:
    October 17, 2008 at 4:21 am

    Hmmm… jiwa seni? Menurut saya, ketika seseorang menginginkan menjadi seorang arsitek, berarti sadar atau tidak sadar ia udah memiliki jiwa seni hehe… Kalo soal bakat… Ada yang bilang bakat itu 20%, yang 80% kerja keras… kalo saya bilang, bakat mungkin cuma 10%, kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas yang 90%nya ^_^

    eka saripudin said:
    February 3, 2009 at 3:47 am

    saya tertarik sekali, membuat konsep kependudukan dengan berorientasi kepada lingkungan

    eka saripudin said:
    February 3, 2009 at 3:48 am

    tapi masih bingung !!!! hehehehehhehhhehehehhehe ….

    Yulia Eka Putrie responded:
    February 7, 2009 at 3:44 am

    salam mas eka, wah, mas eka sedang membuat tesis atau penelitian tentang konsep ini ya? bagus banget kalo bisa jadi konsep yang mendalam sekaligus aplikatif… looking forward 4 a discussion mas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s