Different viewpoints for the same condition

Posted on Updated on

different-1.jpgTerkadang, dalam usaha memberi pemahaman yang tepat terhadap arsitektur, mahasiswa-mahasiswa saya harus dibawa melanglang jauh dari pembicaraan yang terbatas pada konteks arsitektur semata. Mereka seringkali justru lebih “nyambung” ketika diajak berbincang-bincang tentang kejadian-kejadian sehari-hari yang mereka lihat dan jalani sendiri.

 Perbincangan kami dalam kelas Studio Perancangan Arsitektur 1 tadi pagi adalah salah satu contohnya. Sebenarnya, saya hanya berniat memberi pengertian kepada mereka mengenai proses yang harus mereka tempuh dalam merancang.

 Dalam salah satu sub pembicaraan mengenai penggalian potensi tapak di awal proses perancangan, saya mencontohkan adanya penanganan khusus terhadap lahan-lahan yang berkontur. Seperti biasa, setiap pokok pembicaraan selalu diawali dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, seperti “Menurut kalian, tapak yang berkontur curam itu potensi atau masalah di dalam perancangan arsitektur?”

 

Masalah bu…! Lebih baik minta tapak yang lain aja bu…” seru mereka. Di luar dugaan saya, sebagian besar dari mereka menjawab bahwa kondisi itu merupakan masalah dalam perancangan. Mereka menganggap lahan berkontur sebagai salah satu faktor yang mempersulit arsitek untuk menghasilkan rancangan yang baik. Sebenarnya, saya mengharapkan mereka mengetahui bahwa kondisi itu bisa jadi merupakan potensi yang baik dan menantang dalam menghasilkan karya arsitektur yang berkualitas, namun tampaknya keterbatasan wawasan arsitektural (karena mereka masih ada di semester awal) menyebabkan mereka menganggap hal itu sebagai sebuah masalah.

Let see… kalian pasti pernah ngeliat orang-orang yang overweight kan? Kegemukan itu dianggap oleh sebagian besar orang yang mengalaminya sebagai permasalahan. Tetapi, ada juga sebagian kecil yang menganggap hal itu justru merupakan potensi bagi mereka. Sekarang saya tanya yaa… Kalo seseorang menganggap kegemukan itu sebagai masalah, sebagai kekurangan, sebagai hal yang memalukan, kira-kira apa yang akan ia lakukan?”

Stress, Bu!”, “Minder!”, “Bunuh diri, Bu!” mereka ramai-ramai mengajukan opsi jawaban yang tampaknya sedikit berlebihan, hehehe… (ada bangett,,, orang bunuh diri karena gemuk!?)

Sebaliknya, kalau ia menganggap hal itu sebagai potensi, apa yang bisa ia lakukan?”

Jadi bintang sinetron, bu!” kata salah satu dari mereka sambil mencontohkan Tike ProjectPop (ini kan penyanyi, batin saya ^_^) dan Hughes…

Yaa… itu salah satu contohnya, dan sebenernya masih banyak lagi yang bisa mereka lakukan selain jadi bintang sinetron itu tadi… Misalnya giat berolahraga dan menjaga kesehatan… Mereka giat berolahraga karena mereka memandang kegemukan itu sebagai tantangan yang dapat memacu mereka untuk memperbaiki diri, bukan karena mereka putus asa, seperti kalo mereka memandang kegemukan mereka semata-mata sebagai masalah. Malahan, kalo mereka ngga mengalami kegemukan, belum tentu mereka bisa memacu diri untuk hidup sehat lhoo!”

different-2.jpgSekarang kita bisa melihat, bahwa dalam kondisi yang sama, sudut pandang kitalah yang sebenernya menyebabkan kita menanggapi kondisi yang ada secara berbeda. Hasilnya bisa positif, atau negatif, tergantung pada cara pandang kita, sikap mental kita…”

 “Daan… hal ini tidak hanya berlaku pada kegemukan semata. Seluruh kondisi yang kalian alami dalam hidup, sebenarnya bisa kalian pandang sebagai potensi untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik… Pernah denger ngga, pepatah yang mengatakan: Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada merutuki kegelapan? Di dalam gelap, kalian bisa memilih untuk mencaci-maki dan tidak menghasilkan apa-apa, atau kalian dengan mudahnya menyalakan sebatang lilin dan gelap itu akan sirna dengan sendirinya…”

Bu, kalo saya nggak bisa menggambar, itu kan masalah bu, apalagi di jurusan arsitektur… buktinya nilai saya jelek terus,” kata seorang mahasiswa dengan mimik wajah yang lucu, disambut gelak tawa teman-temannya.

Tadao Ando, arsitek kenamaan Jepang, kemampuan grafisnya biasa-biasa aja. Tetapi ia berpikir lebih jauh: Waah, kalo gambar saya jelek, berarti saya harus punya karyawan yang gambarnya bagus, supaya ide-ide saya bisa dipahami oleh klien…”

Terbukti kan, sekarang ia ngga perlu menggambarkan sendiri idenya karena ia udah punya seabreg karyawan yang siap memvisualisasikan ide-idenya,” kata saya sambil tersenyum geli. “Ketidakbisaannya menggambar justru mendorong ia untuk menjadi arsitek yang membawahi banyak karyawan. Nah, gimana dong dengan kalian yang udah bisa menggambar??”

Di sudut kelas, saya menangkap anggukan pasti seorang mahasiswa. Sepertinya ia telah bertekad mencari “karyawan” sejak dini untuk tugas-tugas kuliahnya saat ini, hehehe…

Jadi, sekarang kalian boleh memilih, apakah ketidakmampuan kalian menggambar itu akan menyebabkan kalian putus asa, keluar dari jurusan arsitektur dan bunuh diri, hehehe… atau kalian justru terpacu untuk lebih banyak berlatih, meng-upgrade skill gambar kalian, atau bahkan bisa juga mengalihkan fokus kemampuan kalian pada AutoCAD yang juga dapat membantu kalian menggambar lebih cepat dan rapi…”

Bu, kalo putus cinta gimana?” celetuk seorang mahasiswa lagi. Out of context much too far, actually… ^_^

Waaah, itu potensi, potensi bu!” seru sebagian besar kaum adam di kelas.

Hmmm… kalau buat yang laki-laki ternyata potensi yaa?” kata saya sambil tertawa geli, “Tapi jangan salah lhoo, sebagian besar berita bunuh diri setelah membunuh kekasihnya itu, kalo di BUSER, SERGAP, de-el-el, justru dari kalangan laki-laki,” ledek saya kepada mereka, “Jarang lho saya denger, ada seorang perempuan yang diputuskan kekasihnya, trus ia membunuh kekasihnya itu, lalu kemudian bunuh diri… Nah, ini bisa jadi membuktikan bahwa perempuan justru lebih tahan banting terhadap yang namanya patah hati,” simpul saya asal-asalan, yang disambut tepuk tangan hangat dari minoritas perempuan di kelas dan cengar-cengir mahasiswa saya yang laki-laki… ^_^ “Ups, ini bukan sentimen gender lho yaa, saya cuma bercanda!!” kata saya berusaha meluruskan.

Udah yaa, ini udah terlalu jauh dari topik potensi lahan tadi kaan? Intinya, setiap kondisi tapak, buruk ataupun baik, sebenernya merupakan potensi yang bisa kalian manfaatkan untuk menghasilkan rancangan yang spesifik, tepat guna dan bernilai estetis tinggi… Daan jangan lupaa… begitu juga di dalam kehidupan kalian, kalian bisa mulai mencoba memandang setiap kondisi yang sama dengan sikap mental dan sudut pandang yang berbeda, yang jauh lebih positif pastinya… Deal or no deal students??”

Deal bu!!” seru mereka berbarengan. Hehehe… kadang saya ngerasa ngga ada bedanya mengajar mereka dengan mengajar anak TK yang manja, butuh banyak perhatian dan selalu always (tidak pernah never) super aktif… ^_^.

Bu, berarti kalo mau merancang, sebaiknya kita pilih tapak yang berkontur daripada yang tidak berkontur ya?” tanya pelan salah seorang dari mereka yang duduk paling belakang.

Ouch, ananda sayang, you get it wrong…” seru saya dalam hati. “Begini, kalau kalian boleh, sekali lagi boleh, memilih, kalian akan memilih bisa menggambar atau ngga?” Pertanyaan saya ini dijawab dengan jargon iklan salah satu produk di TV, “Bisa!!” hehehe…

Nah, selama kalian boleh memilih, pilihlah yang terbaik, termudah dan tidak membahayakan,” kata saya asal. “Kondisi-kondisi yang saya ceritakan di atas, adalah kondisi di mana kita tidak memiliki pilihan yang lain dan harus menghadapi kondisi itu dengan cara pandang yang tepat. Sebagai muslim kalian pasti udah ngerti bahwa kita tidak diperbolehkan mencari-cari musuh, tetapi kalau kalian berhadapan dengannya ya jangan lari ketakutan, bukankah begitu?…”

Sudah cukup diskusi kali ini, sekarang kalian bisa langsung turun ke lapangan untuk tugas penggalian potensi dari tapak yang udah kalian pilih… And, don’t forget to say…?”

Bismillah…” kata mereka berbarengan membaca tulisan besar yang terpampang di in-focus slide di hadapan mereka… ^_^.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s