Month: February 2008

Precedent as One of the Channels of Creativity

Posted on Updated on

Case Study: Tadao Ando on Japanese Pavilion for Seville World Exhibition 1992

precedent-1.jpg

 

Peradaban masa lalu telah mewariskan banyak sekali karya arsitektur yang memiliki tingkat estetika dan kandungan makna yang tinggi. Karya-karya arsitektur di masa lalu itu tentu saja bukan sekedar pelengkap bagi kekayaan sejarah peradaban dunia. Dalam konteks kiwari, karya-karya arsitektur di masa lalu itu dapat dijadikan sebagai preseden atau contoh yang dijadikan teladan, bagi perancangan obyek-obyek arsitektur di masa kini dan masa depan.

Para arsitek dapat mengambil manfaat yang besar dari pengetahuan mereka akan karya-karya arsitektur terdahulu. Karya arsitektur masa lalu merupakan bahan referensi yang sangat kaya untuk mengembangkan kemampuan para arsitek dalam merancang. Karenanya, preseden-preseden arsitektur yang ada telah dimanfaatkan oleh banyak arsitek dunia sebagai salah satu jalan untuk mengeksplorasi rancangan mereka.

Dalam usaha mempelajari preseden arsitektur yang telah ada, seorang arsitek harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam usaha peniruan bentuk semata. Untuk menghasilkan sebuah karya arsitektur dengan cara ini, seorang arsitek harus mempelajari sebuah preseden secara menyeluruh. Ia harus memiliki pengetahuan akan anatomi bangunan, struktur dan konstruksi, tata ruang, nilai-nilai yang dikandung, kondisi sosial budaya masyarakat, hingga sejarah yang melatarbelakangi keberadaan sebuah preseden. Hal ini dikarenakan, di dalam sebuah preseden selalu terkandung makna-makna tertentu. Makna-makna ini tidak dapat diterapkan begitu saja pada karya arsitektur baru, hanya dengan meniru bentuk fisik semata dari presedennya. Preseden pada dasarnya tidak berfungsi sebagai ”pemberi contoh bentuk” belaka. Prinsip-prinsip dan esensi yang terdapat di dalam preseden harus dapat dikembangkan oleh si arsitek. Dengan begitu, ia akan memperoleh sebuah rancangan baru yang dapat dengan tepat menerapkan prinsip dan esensi itu, sesuai dengan konteks waktu dan tempatnya masing-masing.

Read the rest of this entry »

ARSITEKTUR DAN PERJALANAN SEJARAH: Menengok Sejenak Nasib Arsitektur Kolonial di Indonesia

Posted on Updated on

dan ketika sebuah bangsa telah lengah,

yang tersisa dari sejarah

hanya dinding-dinding bisu yang berdarah

(anonim)

 

Tiga baris puisi di atas mengandung pesan yang dalam tentang nilai sejarah bagi sebuah bangsa. Nyatalah bahwa kemampuan untuk menghargai sejarah dan mengambil pelajaran darinya ternyata sangat penting bagi kelangsungan hidup bangsa itu sendiri. Sebuah kalimat yang telah sering kita dengar menyampaikannya lebih singkat, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”

Di dalam setiap sejarah berkumpul berbagai unsur pembentuknya: manusia, peristiwa, waktu, dan tempat. Keempatnya bersinergi membentuk informasi yang utuh bagi keberlanjutan sebuah sejarah. Walaupun demikian, telah nyata bahwa manusia tak dapat hidup selamanya, peristiwa pun datang dan pergi hanya sekali, sementara waktu tak dapat berputar kembali. Hanya tempat yang bertahan menjadi saksi bagi sejarah. Hanya tempat yang tetap tinggal dan dijadikan wadah persinggahan waktu. Ketika sejarah tidak lagi memiliki makna di hati sebuah bangsa, seperti diungkapkan baris-baris puisi di atas, maka yang tersisa dari suatu tempat (place) hanyalah ruang (space) yang tidak lagi punya makna.

Read the rest of this entry »

Different viewpoints for the same condition

Posted on Updated on

different-1.jpgTerkadang, dalam usaha memberi pemahaman yang tepat terhadap arsitektur, mahasiswa-mahasiswa saya harus dibawa melanglang jauh dari pembicaraan yang terbatas pada konteks arsitektur semata. Mereka seringkali justru lebih “nyambung” ketika diajak berbincang-bincang tentang kejadian-kejadian sehari-hari yang mereka lihat dan jalani sendiri.

 Perbincangan kami dalam kelas Studio Perancangan Arsitektur 1 tadi pagi adalah salah satu contohnya. Sebenarnya, saya hanya berniat memberi pengertian kepada mereka mengenai proses yang harus mereka tempuh dalam merancang.

 Dalam salah satu sub pembicaraan mengenai penggalian potensi tapak di awal proses perancangan, saya mencontohkan adanya penanganan khusus terhadap lahan-lahan yang berkontur. Seperti biasa, setiap pokok pembicaraan selalu diawali dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, seperti “Menurut kalian, tapak yang berkontur curam itu potensi atau masalah di dalam perancangan arsitektur?”

  Read the rest of this entry »

Menjadi Penduduk “Ramah Lingkungan”

Posted on Updated on

ramah-1.jpg

 Pada saat-saat tertentu, ketika kita berjalan kaki di daerah permukiman padat di kota-kota besar, kita akan menyadari bahwa bayang-bayang yang menaungi jalan yang kita lalui bukanlah berasal dari rimbunnya pepohonan. Bayangan itu terbentuk oleh dinding-dinding bangunan yang merapat sedemikian rupa, sehingga menaungi sebagian besar badan jalan.

 Kenyataan di atas adalah salah satu contoh sederhana, betapa disadari atau tidak, degradasi kualitas lingkungan telah terjadi dan berdampak pada perubahan suasana kota. Jika secara sepintas kita merasakan peningkatan suhu kota kita atau air yang banyak tergenang di jalan raya ketika hujan turun, maka sesungguhnya telah terjadi perubahan besar pada lingkungan alam yang mewadahi kota kita.

 Perubahan yang terjadi, berupa penurunan kualitas lingkungan, sejatinya jauh lebih besar daripada yang secara sepintas lalu kita sadari. Lingkungan alam merupakan wadah manusia mengembangkan lingkungan binaannya. Lingkungan alam ini memperoleh dampak negatif dari usaha manusia membangun dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dampak negatif ini pada akhirnya kembali lagi kepada manusia dalam bentuk penurunan kualitas kesehatan dan masalah kependudukan lainnya.

 Apa yang bisa kita lakukan?”

Sampai di sini, bisa jadi akan muncul satu pertanyaan besar di benak kita masing-masing. “Lalu apa yang bisa kita lakukan?” Kita bukanlah pemegang kekuasaan yang dapat mengambil keputusan penting dalam pengembangan kota dan infrastrukturnya. Kita bukan pula seorang ahli lingkungan yang dapat memperhitungkan berapa besar dampak negatif dari setiap sampah plastik yang tak dapat diuraikan atau detergen yang mengalir bersama air sungai. Jika kita hanyalah salah satu dari penduduk biasa yang tinggal di suatu kota, apa yang kemudian dapat kita lakukan?

Read the rest of this entry »