Analogi Arsitektur di dalam al-Qur’an

Posted on Updated on

analogi-upload-1.jpgAl-Qur’an sebagai kitab pedoman utama kehidupan, sesungguhnya merupakan lautan hikmah dan pelajaran yang tak terkira tepi dan dasarnya. Al-Qur’an menjadi inspirasi dan dasar bagi penulisan begitu banyak buku sesudahnya. Tidak tercatat dalam sejarah, sebuah kitab pun yang dapat menandingi al-Qur’an dalam hal ini. Berjuta buku yang telah ditulis berdasarkannya pun tak sanggup menguraikan isi dan kandungan al-Qur’an secara menyeluruh. Hal ini disebabkan isi dan kandungannya yang begitu luas dan dalam untuk diselami. Karenanya, setiap usaha untuk mengambil pelajaran dan memperoleh hikmah dari sebagian kecil isi dan kandungan al-Qur’an pun akan sangat berarti bagi perkembangan pengetahuan dan peningkatan kesadaran kita sebagai makhluk Allah swt.

Tulisan kali ini pun hanya mencoba untuk memaparkan setetes kecil hikmah dari ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan arsitektur. Seperti kita ketahui, terdapat cukup banyak ayat al-Qur’an yang menceritakan tentang rumah-rumah binatang, teknologi bangunan dan peradaban bangsa-bangsa terdahulu. Pada dasarnya, seluruh cerita di dalam al-Qur’an ini tidaklah semata-mata bersifat deskriptif. Dalam bukunya ‘Indahnya Al-Qur’an Berkisah’, Sayyid Quthb memaparkan bahwa kisah-kisah di dalam al-Qur’an bukanlah sebuah karya seni yang hanya bertujuan seperti seni sastra pada umumnya. Sebenarnya, kisah-kisah itu adalah salah satu cara al-Qur’an mewujudkan tujuan keagamaan, di antaranya menetapkan wahyu dan risalah, membenarkan kabar gembira dan ancaman, memberikan nasehat dan peringatan, dan sebagainya. Dengan kata lain, selalu terdapat pelajaran, hikmah dan peringatan di balik setiap perumpamaan dan cerita di dalam al-Qur’an. Hal ini ditegaskan di dalam al-Qur’an surat Yusuf ayat 111, sebagai berikut:

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf [12]:111)

Perumpamaan atau seni ilustrasi di dalam al-Qur’an, antara lain digunakan untuk memberikan gambaran yang hidup (visualisasi) terhadap makna-makna yang terkandung. Sayyid Quthb memaparkan bahwa sebagian besar sifat, percakapan, tekanan kata, nada kalimat dan irama ungkapan dalam al-Qur’an ikut dalam menampakkan suatu gambar yang dapat dinikmati dengan mata, telinga, indra, khayalan, pemikiran dan perasaan. Dengan demikian, setiap orang dapat dengan jelas dan mudah memahami pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya.

Salah satu contoh perumpamaan atau analogi arsitektur terdapat pada surat At-Taubah ayat 109, yang artinya:
Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. at-Taubah [9]:109)

 

Dalam ayat di atas, Allah swt. membuat perumpamaan tentang keadaan orang-orang yang zalim dengan orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh. Perumpamaan ini membawa orang yang membacanya untuk membayangkan secara langsung, betapa sia-sia perbuatan mendirikan bangunan di tepi jurang dan betapa perbuatan itu sebenarnya membahayakan dirinya sendiri.

Contoh lain dari analogi ini, adalah pemaparan al-Qur’an di dalam surat An-Naml ayat 44 tentang kekaguman Ratu Saba ketika memasuki istana Nabi Sulaiman.

Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.” (QS. an-Naml [27]:44)

Di dalam ayat ini, dideskripsikan kemajuan teknologi bangunan yang telah dicapai di masa lalu. Penggunaan kaca sebagai bahan lantai, sehingga menampilkan kesan seperti air, mencerminkan teknik konstruksi dan karya seni yang sangat mengagumkan, bahkan sampai saat ini. Dengan demikian, kita lalu dapat menepis anggapan bahwa orang masa kini lebih pintar dari orang di masa lalu. 

Selain itu, ayat ini juga memberikan pelajaran kepada manusia tentang betapa setiap kekaguman terhadap keindahan dan nilai-nilai estetika arsitektur seharusnya bermuara pada kesadaran dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah swt. sebagai pemilik segala keindahan dan keagungan. Setiap arsitek muslim harusnya menyadari bahwa segala kemampuannya mengelola keindahan itu tidak lain dikarenakan karunia Allah kepadanya. Karenanya, semangat yang terbangun harusnya terjaga dari keinginan untuk menonjolkan dan menyombongkan diri dengan karya arsitektur yang dihasilkannya.

 analogi-upload-2.jpg 

Beberapa ayat lain di dalam al-Qur’an juga menceritakan betapa majunya peradaban dan teknologi yang telah dicapai oleh bangsa-bangsa yang telah lalu. Al-Qur’an mendeskripsikan tentang kota ’Iram yang memiliki tiang-tiang yang tinggi, kaum Tsamud yang memahat tebing-tebing yang tinggi untuk dijadikan bangunan, serta Fir’aun dan arsiteknya Haman yang membuat bangunan yang tinggi. Lebih jauh, al-Qur’an juga memaparkan tentang bagaimana akhir peradaban bangsa-bangsa itu. Bekas-bekas peninggalan kota-kota itu bahkan masih dapat kita lihat dan temui saat ini.

 Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah.” (QS. Huud [11]:100)

Hal ini memberikan sangat banyak pelajaran kepada manusia. Pelajaran pertama yang dapat diambil, adalah bahwa tidak ada kebesaran yang dapat bertahan terhadap kehancuran di dunia ini. Kita dapat melihat peninggalan peradaban bangsa Mesir, Mesopotamia, Yunani, Romawi, China, India, Inca, Maya, dan sebagainya, yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Sehebat apapun peradaban yang dibangun, selalu terdapat siklus yang dilalui, yaitu kelahiran, perkembangan, puncak kemajuan dan masa kemunduran. Hal ini menunjukkan kepada manusia, bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya teramat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat kelak. Penyalahgunaan nikmat Allah SWT untuk bermegah-megahan dan hidup dalam kemewahan mengakibatkan manusia lalai dan menganggap kehidupan di dunia ini abadi. Karenanya, sembari mensyukuri segala karunia di dunia ini, manusia hendaknya tidak melupakan tujuan utamanya untuk meraih kehidupan yang lebih baik dan lebih kekal di akhirat kelak.

Pelajaran kedua yang dapat diambil dari kisah-kisah itu, adalah bahwa setinggi apapun kecerdasan dan kepintaran manusia, jika dibarengi dengan kesombongan dan pengingkaran akan nikmat dan perintah Allah swt., maka akan mengakibatkan kehancuran dan kebinasaan terhadap manusia itu sendiri.

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.” (QS. ar-Ruum [30]:9)

analogi-upload-3.jpgPeninggalan-peninggalan peradaban bangsa terdahulu di bidang arsitektur sangat banyak tersebar di muka bumi. Situs-situs purbakala ini dilestarikan dengan baik sebagai salah satu sumber ilmu sejarah, budaya, arkeologi, dan sebagainya. Perkembangan penemuan-penemuan di bidang arkeologis dan sejarah ini tentu bukanlah suatu kebetulan semata. Allah swt. telah menjadikannya sebagai bukti-bukti nyata yang dapat dilihat oleh manusia-manusia yang datang kemudian, agar mereka menjadikan semua itu sebagai bahan pelajaran dan peringatan.

Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]:66).

 

Selain beberapa contoh di atas, analogi arsitektur di dalam al-Qur’an dapat kita temui pula pada tataran konseptual. Dalam dunia arsitektur, secara umum dikenal sebuah konsep dasar yang dicetuskan oleh Vitruvius, seorang arsitek yang hidup di zaman Romawi, untuk menilai sebuah obyek arsitektur. Konsep dasar ini terdiri dari tiga unsur utama, yaitu kekokohan (firmitas), kegunaan (utilitas) dan keindahan (venustas). Alam semesta dan segala yang ada di dalamnya ternyata mengandung nilai-nilai kekokohan (firmitas), kegunaan (utilitas) dan keindahan (venustas) yang sangat sempurna. Pelajaran ini bahkan dapat diperoleh dari ciptaan-ciptaan Allah SWT yang seringkali dianggap remeh oleh manusia, seperti lebah, semut dan laba-laba.

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”.” (QS. An-Naml [27]:18)

Sarang-sarang mereka dianggap lemah dan tidak berarti oleh manusia, sehingga seringkali manusia merusaknya, dengan sengaja ataupun tidak, tanpa rasa berdosa. Padahal, di balik setiap penciptaan mereka terdapat hikmah dan pelajaran yang sangat besar, bahkan bagi perkembangan keilmuan arsitektur saat ini. Di dalam sebuah sarang lebah madu misalnya, terdapat sebuah perhitungan matematis yang sangat akurat tentang optimalisasi pembentukan ruang dari segi bahan baku dan volume ruangan. Sementara itu, di dalam sebuah sarang semut terdapat mekanisme pengaturan panas dan sterilisasi ruang, seperti yang dibutuhkan di dalam perancangan sebuah rumah sakit. Lebih jauh, dari rumah-rumah laba-laba yang kita anggap lemah, ternyata kita juga dapat memperoleh pelajaran mengenai prinsip struktur kabel yang kuat menahan beban tarik.

Demikianlah beberapa contoh singkat analogi arsitektur yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Dari pemaparan ini, diharapkan pembaca dapat memperoleh gambaran yang jelas, bahwa alam semesta dan setiap makhluk ciptaan Allah SWT ternyata mengandung nilai-nilai kekokohan (firmitas), kegunaan (utilitas) dan keindahan (venustas), dengan tingkat kesempurnaan dan keseimbangan yang sangat tinggi. Lebih jauh, pembahasan ini bertujuan untuk mengantarkan pembaca kepada pemahaman bahwa di dalam setiap ciptaan Allah SWT terdapat banyak sekali hikmah dan makna yang dapat diterapkan dalam dunia keilmuan arsitektur.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Huud [11]:6)

Dalam tataran hikmah, pemaknaan obyek arsitektur ternyata bukanlah sekedar pemaknaan akan kekokohan, kegunaan dan keindahan semata. Pemaknaan lebih dalam, sebenarnya adalah pemaknaan yang mengantarkan manusia kepada kesadaran yang lebih tinggi (transendensi) akan keesaan dan kebesaran Allah SWT. Pada akhirnya, keilmuan menjadi penguat dan penegak keyakinan agama. Insya Allah.

 

5 thoughts on “Analogi Arsitektur di dalam al-Qur’an

    yoyok said:
    December 31, 2008 at 5:21 am

    bagus banget. selain membangun wawasan juga membangun keimanan kita trhadap Allah SWT. mj trs

    mardinur said:
    January 7, 2010 at 6:17 pm

    thanks.. buat segala rujukan..
    saya juga sedang menulis Artikel ttg ” Arsitektur dalam alquran”
    mgkin bahasan saya lbh luas…

    Yulia Eka Putrie responded:
    January 8, 2010 at 9:36 am

    terima kasih kembali mas mardinur🙂
    wah, tema artikelnya bagus sekali, mungkin malah bisa dijadikan buku ya, untuk memperkaya literatur arsitektur Islam di Indonesia🙂

    Jamaludin Adin said:
    May 6, 2013 at 7:23 am

    agama Islam itu sndiri bisa nggak di analogikan sebagai bangunan fisik, seperti rumah contohnya? tolong penjelasannya. Syukron…

    Yulia Eka Putrie responded:
    July 6, 2013 at 4:33 am

    kalo saya cenderungnya pada perancangan bangunan rumah tinggal berbasis nilai Islam, bukan berbasis analogi🙂 misalnya berbasis nilai kemanfaatan dan penghindaran kemudharatan, nilai ketauhidan, dsb…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s