Holocaust dan Arsitektur

Posted on Updated on

Holocaust adalah sebuah kata yang senantiasa terdengar hingga saat ini dan telah tertanam dalam memori banyak orang. Membicarakannya berarti juga membicarakan sejarah panjang bangsa Yahudi di pentas dunia. Holocaust, seperti yang telah kita ketahui, merupakan peristiwa pembasmian etnis secara sistematis (genocide) terbesar di dunia yang terjadi selama Perang Dunia II oleh Nazi Jerman terhadap orang-orang Yahudi di penjuru Eropa. Holocaust saat ini merupakan alat legitimasi terkuat bagi bangsa Israel bagi pendudukannya terhadap bangsa Palestina, sebuah usaha genocide yang sama yang mereka timpakan terhadap suatu bangsa yang tak memiliki sangkut paut apapun dengan peristiwa genocide yang mereka alami.

Saat ini, di tengah kontroversi dunia mengenai valid tidaknya peristiwa Holocaust yang menimpa bangsa Yahudi, mereka memandang bahwa pemeliharaan terhadap keberlanjutan memori kolektif akan peristiwa itu di dalam hati dan pikiran masyarakat Yahudi generasi selanjutnya sangat urgen bagi keberlanjutan usaha mendirikan sebuah negara Yahudi di tanah Palestina. Seperti telah santer diberitakan, Presiden Iran Ahmadinejad dengan berani menyatakan bahwa peristiwa Holocaust itu sebenarnya hanya isapan jempol belaka. Pernyataan Ahmadinejad ini bahkan memperoleh dukungan dari 12 profesor sejarah dari beberapa universitas di Jerman. Mereka menyatakan pula bahwa peristiwa itu didramatisasi oleh Israel dengan tujuan yang jauh lebih kejam daripada peristiwa Holocaust itu sendiri. Lebih dari pembasmian sebuah bangsa, apa yang dilakukan oleh bangsa Israel saat ini sebenarnya merupakan pembasmian sebuah peradaban. Mereka melakukan lebih dari pembunuhan dan penculikan, namun juga pembumihangusan aset-aset pendidikan, kesehatan dan ekonomi, serta pencurian dan penghangusan data-data penting bangsa Palestina, menjadikan bangsa ini kehilangan modal yang sangat berharga bagi usaha membangkitkan diri di tengah keterpurukan yang ditimpakan secara terus-menerus oleh bangsa Israel.

Dengan demikian, jelaslah bahwa setiap usaha penghapusan citra kekejaman Holocaust oleh pihak lain selalu merupakan ancaman bagi bangsa Israel. Pemeliharaan memori tentang Holocaust, seperti dinyatakan Yael Padan dalam Architectural Design, lebih dari sebuah penghargaan dan peringatan yang ditujukan bagi para korban Holocaust itu sendiri. Secara sangat eksplisit, ia menyatakan bahwa usaha ini bertujuan untuk menjaga Holocaust agar tetap hidup sebagai bagian penting dari narasi tentang sebuah negara yang bernama Israel. Lebih dari sekedar usaha pengingatan tentang masa lalu, memori Holocaust memiliki nilai strategis bagi masa depan bangsa Israel dengan segala tujuannya.

Selain alasan di atas, mempertahankan memori tentang Holocaust ini juga menjadi isu yang sangat penting saat ini, karena semakin jauhnya jarak waktu yang terbentang antara peristiwa itu sendiri dengan bangsa Israel saat ini. Hal lain yang juga menjadi masalah dalam usaha menjaga memori ini agar tetap hidup adalah jauhnya jarak geografis antara tempat terjadinya peristiwa Holocaust dengan tempat yang saat ini diakui Israel sebagai tanah airnya. Holocaust merupakan peristiwa yang terjadi di sebagian besar benua Eropa, sementara ’negeri yang dijanjikan’ itu sendiri terletak di jazirah Arab, berbatasan dengan Mesir, Libya dan Suriah.

Dalam situs www.yadvashem.org, Avner Shalev, pemimpin organisasi Yad Vashem, mengutarakan kekhawatirannya, Young people today regard the past not in the sense of where they have come from, but rather as a bygone series of events which are “past,” while they themselves are living “post.” This viewpoint is dangerous in that it is disjunctive rather than connective.”. Para korban dan saksi mata yang masih bertahan saat ini telah banyak yang berusia lanjut dan meninggal dunia. Apa yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bangsa Israel, kini menjadi pengalaman kolektif yang harus diorganisasi agar dapat terus diingat oleh para penerusnya. Keterpisahan inilah yang dianggap berbahaya oleh Shalev dalam usaha memelihara memori ini. Ketiadaan para saksi mata itu dianggapnya sebagai kevakuman dalam kekuatan moral, kultural dan edukasional untuk memelihara semangat kebangsaan yang dibangkitkan oleh Holocaust. Shalev juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimanakah nasib dari peringatan terhadap peristiwa Holocaust ini di mata generasi keempat dan seterusnya dari bangsa Yahudi, tempat apa yang akan didudukinya di tengah-tengah arus yang menyapu masyarakat dunia ke arah milenium ketiga, akankah peringatan tentang hal ini akan bermakna di dalam konteks peristiwa yang selalu berubah dan bagaimana bangsa Israel mempersiapkan dirinya di dalam kontinuitas sejarahnya.

Salah satu cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan untuk menjaga kesinambungan memori kolektif akan peristiwa Holocaust itu adalah dengan pendirian banyak memorial dan museum di banyak negara. Di Jerman dan banyak negara di Eropa yang pernah berada di bawah pendudukan Nazi, sisa-sisa dari banyak kamp konsentrasi dan tempat pembunuhan massal dikonversikan menjadi museum dan memorial. Sementara itu, di negara-negara yang tidak terlibat secara langsung dengan peristiwa itu, pemerintah dan organisasi Yahudi mendirikan bangunan-bangunan memorial dan museum untuk memperkenalkan kembali dan menghidupkan memori Holocaust di dalam diri generasi setelahnya.

holocaust-3.png

Salah satu dari kompleks bangunan yang didirikan dengan tujuan ini adalah Yad Vashem, sebuah Otoritas Peringatan bagi para pahlawan dan korban peristiwa Holocaust yang didirikan di tahun 1953 oleh Parlemen Israel untuk memperingati peristiwa pembunuhan bangsa Yahudi oleh Nazi. Yad Vashem merupakan sebuah kompleks bangunan di Yerusalem yang terdiri dari memorial, museum dan sekolah internasional yang dikelola secara profesional dan memiliki program-program yang secara sistematis bertujuan untuk memelihara kesinambungan akan memori Holocaust, dengan tujuan membangkitkan rasa nasionalisme bangsa Israel, mempengaruhi opini masyarakat dunia dan memperoleh legitimasi internasional tentang langkah-langkah agresif yang selama ini ditempuh negara itu.

Dalam kajian ini, penulis membahas secara singkat peristiwa Holocaust dan bagaimana pengaruhnya terhadap berdirinya negara Israel di Palestina. Pembahasan singkat ini menjelaskan apa yang menjadi latar belakang pentingnya pemeliharaan memori mengenai peristiwa ini bagi bangsa Israel, yang dihadirkan, salah satunya dalam bentuk arsitektur. Pembahasan selanjutnya akan lebih memperinci tentang bagaimana memori tentang peristiwa itu diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk arsitektural Yad Vashem. Beberapa pertanyaan penting yang mencuat mengenai peran arsitektur sebagai wadah bagi memori kolektif ini, seperti dinyatakan di dalam Architectural Design, adalah apakah sebenarnya fungsi dari arsitektur dalam proses mengistitusionalkan dan menggantikan memori yang tinggal? Dalam bentuk-bentuk seperti apakah memori itu dapat diterjemahkan dan untuk kegunaan apa? Dan dengan jalan apa bangunan-bangunan itu dapat menyampaikan pesan-pesan abstrak itu?. Pada bagian akhir, penulis akan menyertakan kesimpulan singkat mengenai usaha penerjemahan, pembangkitan dan pemeliharaan memori tentang Holocaust di dalam kompleks bangunan Yad Vashem, Yerusalem. Selain itu, penulis juga berusaha untuk menarik kesimpulan mengenai penerjemahan memori Holocaust di dalam perancangan arsitektural Yad Vashem, berdasarkan uraian mengenai hal itu pada bagian sebelumnya.

 

 

HOLOCAUST, DESKRIPSI SINGKAT

Deskripsi singkat tentang Holocaust ini dimaksudkan agar diperoleh gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang terdapat di dalam memori kolektif bangsa Yahudi. Deskripsi ini juga diperlukan bagi kejelasan usaha-usaha penerjemahannya di dalam obyek-obyek arsitektur yang didirikan untuk memperingati peristiwa yang bersangkutan.

Holocaust berasal dari bahasa Yunani yang berarti “pengorbanan dengan api”. Holocaust merupakan istilah yang digunakan untuk penyiksaan dan pembunuhan yang sistematis dan birokratis oleh Nazi. Bermula dengan hukum yang rasial dan diskriminan di Jerman, gerakan ini meluas sampai pada pembunuhan massal para penganut Yahudi di Eropa. Selama Holocaust, Nazi juga menjadikan kelompok-kelompok selain Yahudi sebagai target, karena “kelemahan rasial” mereka. Kelompok lain juga disiksa karena perbedaan latar belakang politik dan kelainan perilaku.

Nazi mulai memegang tampuk kekuasaan di Jerman pada bulan Januari 1933. Dalam kekuasaannya, terdapat sebuah filosofi utama yang berasal dari teori Darwin yang membangun keseluruhan konsep “perjuangan untuk mempertahankan hidup”. Menurut Darwin, konflik sengit dan perjuangan berdarah melingkupi alam kehidupan ini. Yang kuat selalu menang melawan yang lemah, dan ini mendorong yang kuat untuk berkembang. Konflik serupa juga berlaku pada ras-ras manusia. Bahkan subjudul dari bukunya “The Origin of Species: by Way of Natural Selection or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life“, dengan jelas mengungkap pandangan rasialnya. Menurut Darwin, ras pilihan adalah ‘bangsa kulit putih Eropa’, sedangkan ras Asia atau Afrika gagal dalam perjuangan mempertahankan hidup. Darwin bahkan mengatakan bahwa ras-ras ini akhirnya akan dihapuskan sama sekali (Yahya, 2004). Berdasarkan teori inilah muncul ideologi Nazi dengan kepercayaan bangsa Jerman merupakan ras yang unggul, sedangkan bangsa lain merupakan bangsa yang “ tidak berharga”.

Pada tahun 1933, jumlah populasi Yahudi di Eropa mencapai lebih dari sembilan juta jiwa. Sebagian besar hidup di negara-negara yang diduduki oleh Nazi. Tentara Nazi mendirikan kamp-kamp konsentrasi untuk memenjarakan pemeluk Yahudi dan kelompok lain yang termasuk dalam target operasi mereka. Pada awal September 1939, Jerman menduduki Polandia dan memulai Perang Dunia II. Hanya dalam tempo dua tahun setelahnya, Jerman berhasil menduduki sebagian besar negara di Eropa.

Selama peperangan, Nazi menciptakan ghetto, yaitu suatu bagian kota yang dipergunakan untuk mengisolasi populasi Yahudi. Nazi juga membangun kamp-kamp baru untuk memenjarakan kelompok-kelompok yang ditargetkan dan mengerahkan mereka untuk melakukan kerja paksa. Menyertai invasi negara Soviet pada bulan Juni 1941, Einsatzgruppen, atau mobile killing units melakukan operasi yang membawa kematian bagi banyak penganut Yahudi, Roma, penduduk Soviet dan pendukung komunis di negara itu. Lebih dari sejuta populasi Yahudi dibunuh oleh unit-unit ini, sebagian besar dilakukan dengan penembakan massal. Selain itu, terdapat pula extermination camps atau kamp pembasmian, suatu tempat khusus untuk membunuh yang dilengkapi dengan gas beracun. Di kamp pembasmian terbesar, Auschwitz-Birkenau, populasi Yahudi dikirim hampir setiap hari dari seluruh penjuru Eropa.

Pada bulan terakhir peperangan, tentara Nazi memaksa penghuni kamp untuk berjalan sejauh beratus-ratus mil tanpa perlindungan, dalam usaha untuk mencegah pembebasan para tahanan ini oleh pasukan sekutu. Seiring dengan penyebaran tentara Sekutu di penjuru Eropa, usaha pembebasan tahanan di kamp-kamp konsentrasi pun dilakukan. Perang Dunia II berakhir dengan kekalahan pasukan Jerman di tahun 1945. Saat perang berakhir, hampir dua dari setiap tiga orang Yahudi telah terbunuh oleh Nazi dalam suatu kejahatan perang yang dikenal saat ini sebagai Holocaust.

 

Setelah perang, sebanyak 250.000 populasi Yahudi memasuki kamp-kamp yang disediakan oleh pasukan Sekutu di Jerman, Austria dan Italia. Mereka juga menekan Pemerintah AS untuk mengijinkan mereka berimigrasi ke Palestina. Pemerintah AS kemudian menekan Inggris untuk menerima pengungsian ini. Inggris menolaknya, dan ribuan orang Yahudi kemudian beremigrasi secara ilegal ke Palestina. Penderitaan mereka, tidak adanya tempat tujuan dan kebijaksanaan Inggris yang menahan kapal dan mengirim mereka kembali ke kamp hukuman di Siprus menyebabkan berpihaknya opini publik kepada para pengungsi ini. Para pemeluk Yahudi di AS kemudian memobilisasi pemecahan masalah pengungsi dengan menciptakan status yang legal bagi Yahudi di Palestina. Di bawah tekanan ini, Inggris kemudian memaksa PBB untuk membagi Palestina ke dalam dua bagian, yaitu Palestina dan Israel. Dengan demikian, pada bulan Mei 1948 negara Israel secara resmi berdiri di tanah air bangsa Palestina.

Dari deskripsi di atas, jelaslah bahwa nilai peristiwa Holocaust sangat penting bagi legitimasi berdirinya sebuah negara bernama Israel dengan Zionisme sebagai ideologi resminya. Organisasi Yahudi Dunia didirikan untuk melakukan propaganda massal dan melakukan kegiatan di negara-negara yang memiliki populasi Yahudi. Kekejaman yang terjadi dalam peristiwa Holocaust dan simpati publik terhadap mereka di masa lalu terus-menerus diperdengungkan dan menjadi usaha sistematis saat ini, walaupun validitas peristiwa itu semakin diragukan dari waktu ke waktu. Seperti telah disebutkan dalam bagian sebelumnya, usaha pengingatan ini lebih dari sekedar penghargaan dan kenangan terhadap para korban, namun lebih mengarah pada tujuan-tujuan masa depan negara Israel di Palestina.

 

PRESERVASI MEMORI HOLOCAUST DALAM ARSITEKTUR YAD VASHEM
Tujuan dibangunnya museum dan memorial adalah untuk menghadirkan suasana yang merupakan proyeksi atau cerminan dari memori akan sesuatu,
dan pada akhirnya membentuk suatu hubungan yang baru antara memori dengan ruang. Dengan asumsi bahwa gambaran-gambaran visual merupakan sesuatu yang paling mudah diingat, maka subyek yang diperingati itu haruslah dimemorikan bersamaan dengan ruang-ruang arsitektural yang telah familiar di mata pengunjungnya. Dengan demikian, memori yang terbentuk kemudian dapat sewaktu-waktu dikunjungi kembali di alam pikiran, menghasilkan suatu pengulangan dari memori kolektif yang telah ada. Bagaimanapun, sebuah susunan ruang yang sama dapat digunakan kembali untuk mengingat hal-hal yang berbeda, karena kandungan dari memori di dalam pikiran tidaklah setetap gambaran visual akan suatu tempat.

 

Museum dapat dipandang sebagai sebuah kontainer bagi memori-memori yang ada dan sebuah usaha arsitektural untuk menciptakan sebuah sarana yang digunakan untuk memunculkan kembali memori kolektif yang telah ada. Bagaimanapun, hubungan antara pengalaman keruangan di dalam suatu bangunan dengan memori yang ada tidak diharapkan hanya berupa kebetulan atau fungsional belaka. Arsitektur museum dan memorial harus mencoba untuk memberikan bentuk-bentuk yang berbeda bagi memori tertentu, sebuah bentuk yang tidak dapat digunakan kembali untuk mengingat hal lain selain peristiwa Holocaust itu sendiri.

Yad Vashem merupakan kompleks peringatan Israel bagi korban dan pahlawan Holocaust. Kompleks ini terletak di area yang sangat luas di Yerusalem dan terdiri dari banyak fasilitas, di antaranya museum, monumen, exhibition hall, gedung arsip, perpustakaan, sekolah internasional dan sebagainya. Yad Vashem merupakan tempat penyimpanan arsip Holocaust terbesar di dunia. Yad Vashem dikelola oleh badan otoritas peringatan Holocaust yang bertujuan, selain mengenang para korban, juga membangkitkan semangat nasionalisme bangsa Israel dalam misinya melegitimasi wilayah Palestina sebagai bagian dari sebuah negara Israel Raya yang berdaulat.

Pada kompleks-kompleks memorial Holocaust yang terletak di negara-negara bekas pendudukan Jerman, memori kolektif dibangkitkan melalui penggunaan sisa-sisa kamp konsentrasi sebagai museum atau kompleks memorial. Dengan demikian, memori secara langsung terhubung dengan tempat kejadian berlangsung. Dalam studi kasus ini, Yad Vashem terletak di Israel yang tidak berhubungan secara geografis dengan peristiwa Holocaust itu sendiri. Ditambah dengan rentang waktu yang cukup jauh dengan waktu terjadinya peristiwa itu, penerjemahan memori kolektif tentang Holocaust menjadi tantangan tersendiri bagi perancangnya. Hal ini diperumit dengan adanya kenyataan bahwa generasi yang saat ini memaknai arsitektur Yad Vashem ini merupakan generasi-generasi penerus yang tidak mengalami langsung peristiwa itu dan memiliki pengalaman-pengalaman dan latar belakang yang berbeda dengan para pendahulunya.

Dua bangunan yang ada di dalam kompleks Yad Vashem, sebuah memorial dan sebuah bangunan pendidikan, memiliki dua pendekatan yang berbeda terhadap peran dari arsitektur dalam memberikan bentuk terhadap memori kolektif mengenai Holocaust. Dalam usaha menghidupkan kembali memori kolektif di dalam kedua rancangan ini, dipertimbangkan hal-hal yang telah diuraikan sebelumnya, yaitu adanya perbedaan rentang waktu dan jarak geografis dengan peristiwa, serta perbedaan pengalaman visual dan latar belakang generasi selanjutnya. Selain itu, bangunan-bangunan di dalam kompleks ini juga berusaha untuk dihadirkan dengan bentuk-bentuk yang berbeda, agar dihasilkan memori yang tidak dapat disamakan dengan memori yang tercipta untuk peristiwa-peristiwa lainnya.

holocaust-4.png

Bangunan pertama, The Valley of the Communities atau Lembah Komunitas, merupakan salah satu bangunan memorial yang terdapat di dalam kompleks Yad Vashem. The Valley of the Communities ini berbentuk labirin yang digali ke dalam tanah dengan bagian atasnya terbuka ke arah langit. Dengan tinggi hampir sembilan meter dan dinding-dinding yang massif dan terbuat dari batu, bangunan ini menghadirkan perasaan tenggelam dan terkungkung saat para pengunjung berada di antara kedua dindingnya. Pandangan yang tersisa hanyalah pandangan ke arah langit. Selain itu, bentuk labirin yang berputar-putar tidak tentu arah menimbulkan kesan kehilangan orientasi pada diri pengunjung yang belum familiar dengan rute memorial ini. Dengan bentuk-bentuk arsitektural ini, para pengunjung dapat menyelami perasaan keterkungkungan, ketidakpastian, kebingungan dan ketakutan yang dirasakan populasi Yahudi pada masa-masa Holocaust.

 

Rancangan denah The Valley of the Communities secara kasar menyerupai peta dari Eropa Tengah dan Timur, tempat terjadinya peristiwa Holocaust di masa silam. Konfigurasi bangunan yang secara langsung merujuk pada bentuk geografis ini menghasilkan ekspresi yang benar-benar literal dari ide menghadirkan memori tentang suatu tempat. Penerjemahan secara literal ini diperkuat pula dengan dipahatnya nama-nama komunitas yang menjadi korban Holocaust di dinding-dinding batu itu, sesuai dengan lokasi geografis mereka. Ukuran dari setiap komunitas ditunjukkan dengan jenis-jenis huruf yang berbeda. Inskripsi-inskripsi yang terpahat dengan jenis huruf yang berbeda, mulai dari epitaph sampai dengan tulisan kuno, menghadirkan memori tentang kemasalaluan pada diri pengamatnya.

Walaupun sepintas tampak literal, penulis mengamati bahwa bisa jadi bentuk-bentuk literal itulah yang paling mudah dipahami oleh sebagian besar pengunjung dengan latar belakang dan pengalaman visual yang berbeda. Keragaman inilah yang menyebabkan si perancang mengambil bentuk-bentuk yang literal untuk menerjemahkan memori tentang peristiwa Holocaust itu. Hal ini disebabkan adanya kemungkinan bahwa bentuk-bentuk simbolisasi yang terlalu abstrak tidak akan dengan mudah dipahami oleh orang-orang yang tidak terlibat langsung dengan peristiwa itu. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa subyek yang diperingati itu haruslah dimemorikan bersamaan dengan bentuk-bentuk arsitektural yang telah familiar di mata pengunjungnya. Dengan demikian, tujuan perancangan memorial ini dapat mencapai keberhasilan, yaitu ketika bangunan ini dimaknai oleh pengunjung sesuai dengan makna-makna dan memori kolektif yang ingin dimunculkan oleh perancangnya.

holocaust-6.png

Dari gambar di atas, dapat kita lihat bahwa letak obyek arsitektur ini seolah-olah terpisah dari dunia luar. Hal ini melukiskan perasaan keterasingan yang dialami bangsa Yahudi pada saat ditempatkan di ghetto-ghetto dan kamp-kamp konsentrasi. Walaupun demikian, setting abstrak dari tempat ini benar-benar merepresentasikan tempat-tempat sebenarnya dari peristiwa Holocaust, yang telah diperkecil dan dipadatkan. Karenanya, para pengunjung merasa tersesat di dalam sunken labyrinth, namun pada saat yang sama memperoleh rasa orientasi yang dihasilkan melalui keberadaan nama komunitas tertentu yang saling berhubungan dengan komunitas lainnya. Kombinasi dari keabstrakan dan literalitas pada tapak dan bangunan menghasilkan dua pengalaman sekaligus bagi para pengunjung. Yang pertama adalah perasaan tersesat dan ketidakamanan yang dijelaskan sebelumnya, dialami baik oleh pengunjung yang tidak memahami peta Eropa ataupun yang telah mengenalnya. Yang kedua adalah pengetahuan dan pengenalan yang diperoleh melalui logika pergerakan di dalam sebuah labirin.

Pendekatan yang digunakan untuk menghidupkan memori kolektif dalam bangunan ini tidak didasarkan pada identifikasi terhadap cerita-cerita dari seseorang atau sebuah komunitas, namun lebih berhubungan dengan aspek jumlah keseluruhan. Hal ini disebabkan karena terdapatnya kesulitan untuk merekam keseluruhan memori Holocaust karena panjangnya rentang waktu, luasnya wilayah dan banyaknya jumlah korban yang gugur selama masa itu. Dalam the Valley of the Communities ini para perancangnya menggunakan faktor skala sebagai salah satu perangkat memori, memberikan penandaan dari lokasi-lokasi yang berhubungan dan jumlah dari komunitas Yahudi sebagai indikasi terhadap banyaknya jumlah korban yang berjatuhan. Bersamaan dengan hal itu, lansekap baru yang unik ini juga memperoleh tempat tertentu di dalam memori kolektif para pengunjungnya, yang menghubungkan peristiwa Holocaust dengan bangunan memorial ini.

holocaust-7.png

Sebagai bahan perbandingan, penulis juga membahas secara singkat pemaknaan akan peristiwa yang sama dalam obyek arsitektur yang berbeda di dalam kompleks Yad Vashem, yaitu the International School for Holocaust Study. Bangunan ini terdiri dari 17 ruang kelas dan fasilitas-fasilitas pendidikan lainnya, termasuk auditorium, pusat-pusat penelitian dan ruang-ruang kerja. Bangunan terdiri dari tiga lantai, dibelah oleh sebuah ruang terbuka yang memanjang. Melalui jendela-jendela besar yang terdapat di kedua sisi bangunan, pengunjung dapat memandang jauh ke arah kota Yerusalem di satu sisi, dan ke arah halaman-halaman bangunan di sisi lainnya. Sebagian besar sirkulasi mengarah pada ruang terbuka di bagian tengah bangunan. Ruang-ruang staf disusun pada satu sisi dan ruang kelas diletakkan pada sisi lainnya. Penyusunan ini menghasilkan kejelasan orientasi pada bangunan.

 

Arsitektur dari bangunan ini secara eksplisit mengalamatkan diri pada lokasinya yang spesifik. Para pengunjung tidak dipisahkan dari dunia luar seperti yang terjadi pada the Valley of the Communities, di ruang kelas sekalipun. Pemandangan yang jelas ke arah kota Yerusalem melukiskan bahwa pusat studi Holocaust ini ditujukan lebih dari sekedar mengenang dan menggali masa lalu, namun lebih bertujuan untuk membangun negara Israel di masa yang akan datang. Dalam hal ini, memori masa lalu tentang Holocaust dipelajari dan digunakan untuk membangkitkan semangat nasionalisme bangsa Israel di masa sekarang dan akan datang.

Elemen-elemen simbolis di dalam bangunan ini terasa lebih abstrak dan menyatu. Ruang terbuka yang memanjang di bagian tengah bangunan dan menyatukan seluruh fungsi bangunan, merupakan representasi dari arah orientasi yang jelas dari pusat studi ini di masa depan. Ruang tengah ini juga disimbolkan sebagai kontainer waktu, yang direpresentasikan dengan adanya kesadaran akan perubahan suasana yang terus-menerus dihasilkan oleh perubahan intensitas pencahayaan alami dari bagian atapnya.

 

Tangga utama yang terletak di bagian tengah ruang terbuka menandai titik pemecah arah dari sumbu utama itu, sebelum membuka pandangan ke arah dinding kaca besar dari kafetaria. Sumbu utama bangunan berakhir secara simbolis dengan jendela yang menghadap ke arah dinding batu. Makna yang tercermin dari bangunan ini adalah bahwa pendidikan merupakan suatu proses yang panjang dan tiada akhir, yang kandungan-kandungannya tidak memiliki konfigurasi eksplisit karena mereka terletak di dunia naratif. Karenanya, arsitektur bangunan ini tidak berusaha untuk membentuk memori kolektif dengan penggunaan geometri-geometri yang berbeda atau pemisahan-pemisahan dari dunia luar.

Bangunan ini lebih dimaknai sebagai kontainer ilmu pengetahuan, menyediakan lingkungan yang sangat kondusif bagi studi dan perenungan. Lokasi bangunan yang terletak di dalam kompleks Yad Vashem menyediakan latar belakang yang sangat memadai untuk kegunaannya. Bangunan ini tidak menggunakan simbolisme-simbolisme yang berlebihan, melainkan menitikberatkan pada nilai penting dari kandungan konseptual memori kolektif. Para pengguna yang sebagian besar kaum terdidik dan memiliki pengetahuan yang dalam mengenai peristiwa Holocaust menjadikan perancangnya tidak menggunakan penerjemahan literal seperti pada the Valley of the Community. Selain itu, suasana yang ingin dihasilkan pun berbeda satu sama lain. Karenanya, pemaknaan dan pembangkitan memori kolektif tentang Holocaust pada bangunan ini lebih ditujukan agar kaum terdidik itu memiliki visi yang jelas tentang masa depan negara Israel.

 

 

PENUTUP
Kedua obyek arsitektural yang telah dipaparkan,
the Valley of the Community dan the International School for Holocaust Studies merepresentasikan sebuah peristiwa yang sama dengan persepsi yang berbeda. Perbedaan tampak pada tingkatan makna yang digunakan untuk menghadirkan memori kolektif di dalam benak pengunjungnya. The Valley of the Community merefleksikan makna-makna presentasional secara literal, membawa pengamatnya pada ingatan-ingatan di masa lalu. Sementara itu, the International School for Holocaust Studies merepresentasikan makna-makna yang lebih simbolis dan berorientasi ke masa depan.

Walaupun demikian, keduanya sama-sama merepresentasikan arsitektur sebagai sarana untuk membangkitkan sebuah memori kolektif akan suatu peristiwa. Kedua obyek arsitektur ini juga menunjukkan arti penting arsitektur sebagai pemberi bentuk bagi sebuah narasi sejarah yang sangat mungkin dilupakan oleh generasi selanjutnya, akibat keterbatasan memori dan jauhnya jarak waktu dan geografis yang terbentang dengan peristiwa sebenarnya. Kedua obyek arsitektur ini juga menunjukkan rumitnya usaha-usaha untuk menerjemahkan memori kolektif dalam bentuk-bentuk arsitektural yang dapat diapresiasi oleh pancaindera manusia. Bagaimanapun, keterbatasan ini sebenarnya merupakan tantangan bagi para arsitek untuk menemukan cara-cara yang unik dan kreatif dalam menerjemahkan memori ke dalam obyek arsitektur.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2000. Reconstructing Recollection, Making Space for Memory dalam Architectural Design, Vol. 70 No. 5 Thn. 2000

Downing, Frances. 1994. “Memory and the Making of Places” dalam Franck, KA, Schneekloth, LH. Ordering Space, Types in Architecture and Design. New York: Van Nostrand Reinhold

http://www.ushmm.org/wlc/article.php diakses tanggal 26 Desember 2006

http://www1.yadvashem.org/index.html diakses tanggal 26 Desember 2006

Hershberger, Robert G. 1974. “Predicting the Meaning of Architecture”, dalam Fundamental Processes of Environmental Behavior.

Microsoft Encarta Reference Library 2005

Yahya, Harun. 2004. Menyingkap Tabir Fasisme. Bandung: Dzikra

____________

Yulia Eka Putrie, ST

Jurusan Arsitektur UIN Malang

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s