Month: December 2007

Kreativitas vs Batasan (vs; the right term?)

Posted on Updated on

“Bu, kenapa sih, seni itu harus dibatasi? Kan kita jadi nggak bisa kreatif mengeluarkan ide-ide kita?” tanya seorang mahasiswa dengan nada sedikit memprotes, ”Padahal sebagai calon arsitek kita harus kreatif kan? Kalo dibatas-batasi, gimana karya kita bisa bagus jadinya??” lanjutnya lagi.

64cityofcordoba.jpg

Saat itu, topik pembahasan ’Arsitektur dan Kebudayaan’ yang saya sampaikan di matakuliah Arsitektur Pramodern rupanya berkembang menjadi diskusi yang cukup hangat antara saya dan para mahasiswa. Banyak hal kami bahas, terutama mengenai keterkaitan peradaban dan arsitektur, perbedaan filosofi Timur dan Barat, perkembangan worldview bangsa-bangsa di dunia, sampai pada keterkaitan dan jalinan empat instrumen dalam diri manusia (iman, akal, rasa dan etika) untuk memahami kebenaran. Saya jelaskan bahwa keilmuan, apapun bentuknya, tidak dapat benar-benar terlepas dari iman dan etika, juga estetika, walaupun instrumen utama yang banyak digunakan dalam keilmuan manusia adalah akal. Karenanya, saat ini muncul ilmu bioetika dan sejenisnya yang mengkaji keterkaitan ilmu dan etika. Begitu pula dengan seni yang tidak dapat bergerak semaunya tanpa batasan etika, seperti yang akhir-akhir ini ramai dibahas di media massa.

Sambil perlahan menarik nafas panjang, saya berusaha mencari jawaban yang cukup sederhana dan dapat mengena ke dalam alur logika mereka. Hal yang sangat sulit saya rasa, karena sebagai tenaga pengajar yang masih harus banyak belajar, saya seringkali terkaget-kaget dalam hati dengan pertanyaan mahasiswa yang beraneka ragam.^_^. Feeling saya mengatakan hal ini cukup sensitif, karena ketidakmampuan atau kesalahan saya dalam menjawab akan berakibat cukup fatal bagi si penanya, juga bagi mahasiswa lainnya.

Read the rest of this entry »