intuisi dan ilham

13 05 2012

lagi pengin cerita tentang intuisi dan ilham.. istilah ini happening banget nih di kalangan mahasiswa arsitektur *ehh :D

intuisi.. kata ini bukan berasal dari bahasa indonesia aseli lohh, tetapi diadaptasi dari bahasa enggres..

dalam bahasa aslinya, intuition berarti the state of being aware of or knowing something without having to discover or perceive it. (kamus)

atauuuuu.. something known or believed instinctively, without actual evidence for it. (kamus)

artinya, mengetahui atau menyadari sesuatu tanpa mengetahui alasannya, melihat atau menyaksikan sendiri, atau tanpa bukti yang nyata..

kenapa dikatakan di definisi itu, intuisi sebagai pengetahuan yang tiba-tiba muncul tanpa sumber yang jelas?

karena dalam keilmuan barat, hanya dikenal observasi empiris dan penalaran rasional sebagai sumber ilmu dan pengetahuan..

observasi empiris menggunakan pengamatan inderawi, sedangkan penalaran rasional dengan kekuatan akal pikiran itu sendiri.

mereka tidak mengenal, atau minimal tidak mengakui bahwa wahyu dan ilham juga merupakan sumber ilmu.

karenanya, intuisi dianggap sebagai pengetahuan yang datang tiba-tiba tanpa sumber yang jelas.

padahal, di dalam Islam, pengetahuan semacam itu merupakan ilham yang bersumber dari Allah.

intuisi, dalam terminologi Islam, merupakan keutamaan yang diberikan Allah bagi mereka yang secara sungguh-sungguh mendalami suatu masalah.

dengan kata lain, intuisi itu sama dengan ketajaman mata hati. kepekaan dalam melihat dan membedakan benar dan salah, baik dan buruk.

intuisi adalah ilham yang diberikan Allah kepada orang-orang yang memiliki hati yang bersih dan orang-orang yang istiqomah dalam berusaha.

dan hati yang bersih hanya dapat diperoleh dengan senantiasa berusaha melaksanakan ketaatan dan menghindari maksiat.

kata Imam Syafi’i, ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan turun kepada ahli maksiat ahli dosa…

itulah kenapa, merancang dengan intuisi sama sekali bukan merancang yang muncul begitu saja tanpa pertanggungjawaban dan pertimbangan.

kalau ada bisikan kyk gitu, maka itu bukan ilham, tapi bisikan hawa nafsu. hati yang hitam tak bisa membedakan mana ilham, mana hawa nafsu..

merancang harus seimbangkan akal dan hati untuk menghasilkan sesuatu yang benar, baik, dan indah. bermanfaat dan tidak menimbulkan mudharat.





My articles in other websites :) *lazy to re-upload lol

21 10 2011

http://www.medinanet.org/architecture/149-a-brief-review-on-masjid-kampus-ugm-yogyakarta

http://press.uin-malang.ac.id/newsdetail.php?id=69

http://www.tabloidrumah.com/?p=2053

 

 

 





Creativity in the Perspective of Islamic Architecture: A case of dealing positively with constraints and limitations

1 08 2010

Presented in Artepolis 3 International Conference on Creative Collaboration and the Making of Place: Bandung, 22-24 July 2010

INTRODUCTION

From ancient cultures to modern civilizations across the world, we can evidently see traces of creativity in every human-made object. Creativity has taken an important place in the process of creating new objects or producing new ideas. Creativity also has affected a large part of our today’s lives through innovations and inventions in technology, art, science, etc. Therefore, creativity can be considered as a key to the development of our civilization.

Despite the importance of creativity, the definition of creativity itself is vague and complex (Robinson, 2008: 3). There is a lack of agreement about what the term creativity means. Torrance note that some definitions are formulated in terms of a product, while others are formulated in terms of a process, a kind of person, or a set of conditions (Torrance in Robinson, 2008: 3). In general, creativity is often described as an ability in making something uncommon, or something common in an uncommon way.  In other words, creativity is an ability to use the imagination to develop new and original ideas or things, especially in an artistic context (Encarta Dictionaries, 2008). According to Webster’s Dictionary the definition of creativity is artistic or intellectual inventiveness. Creativity is marked by the ability or power to create or bring into existence, to invest with a new form, to produce through imaginative skill, to make or bring into existence something new (Robinson, 2008: 6). Random House Webster’s College Dictionary 2nd Edition even stated that creativity is defined as “the ability to create meaningful new forms, etc.” (Robinson, 2008: 6).

Unfortunately, this lack of adequate definition of creativity has also affected in the way people practicing it. In architecture, the above Random House’s definition of creativity is often misunderstood as an ability to make certain unusual or distinct shapes and forms of buildings. The more eye-catching and striking the building, the more creative the architect will be judged by his surroundings. This kind of mindset may lead to a destructive competition between architects in order to create new amazing buildings with the intention of seeking fame or recognition from others. Nowadays, we can easily set our eyes on those kinds of buildings all over the world. They are designed and built with a hidden agenda to flourish the image of their owners and architects.

Furthermore, this definition of creativity as an ability to create meaningful new forms is also frequently associated with freedom of expressions. Some architects and artists love to use these phrases to justify their ‘unique’ and eccentric designs. One of the mainstream in art is also known by their l’art pour l’art jargon. This jargon reflected their disputes on limitations, whether by law, morality, religion, or anything else outside art itself, in their creativity process. Faisal Ismael, for example, mentioned in his book, Paradigma Kebudayaan Islam, that one of the effects of  correlating art and religion is  the limitation of freedom and creativity in art itself (Ismael, 1996: 65-66).  This statement indicates that there are certain way of thinking that considers constraints as a bound for creativity.

Such opinions, even in some sort of situations are quite tolerable, seem to indicate problems when creativity has to deal with constraints or limitations. Constraints, as has been generally known, are never absent in any circumstances of design. Unfortunately, architects and artists, consciously or unconsciously, often perceived constraints or limitations as a bound for their creativity in design. This mindset takes effect in negative attitude towards constraints as opposed to creativity. Thus, the negative perspective will strike their mind and influence the way they face those constraints along the process of design.

This paper is intended to show that both constraint and creativity are conjoined in a positive notion. Islamic architecture is used as a viewpoint, because in the perspective of Islamic architecture, there is no such thing called total freedom. When we talk about Islamic architecture, we will have to deal with some constraints that arised from Islamic values and worldview. It is noteworthy to explore how Islamic architecture can be developed creatively while people think that there are so many constraints in this field of study.

Read the rest of this entry »





Pendekatan Psikologi Arsitektur dalam Perancangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota-Kota Multikultural

23 01 2010

(Diformat ulang dari Makalah untuk Seminar Nasional UUPR Jurusan PWK Universitas Brawijaya Malang, 29 April 2009)

Yulia Eka Putrie & Nunik Junara

Pada kota-kota dengan penduduk yang multikultural, permasalahan lingkungan hidup acap kali berkaitan dengan meningkatnya jumlah pendatang dan kurangnya rasa memiliki dari masyarakat pendatang terhadap kota tersebut. Citra kota pun terdegradasi akibat kenyataan ini. Karenanya, penyediaan RTH sebagai salah satu jalan penyelesaian permasalahan lingkungan hidup, selain mempertimbangkan faktor-faktor fisik, juga harus mempertimbangkan faktor-faktor psikologis penduduk yang multikultural ini. Dari sudut pandang psikologi arsitektur, faktor-faktor psikologis yang tidak kasat mata justru berpengaruh besar terhadap keberhasilan perancangan arsitektur. Karena itu, pendekatan ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam perancangan RTH di kota multikultural. Dengan pendekatan psikologi arsitektur, pemerintah dapat lebih bertindak sebagai pendorong dan pengarah. Pemerintah dapat menanamkan rasa bangga dan ikut memiliki kepada masyarakat pendatang. Salah satu contoh penerapan konsep ini adalah dengan lomba taman yang tampaknya sederhana. Masyarakat pendatang berperan melalui paguyubannya masing-masing untuk menampilkan segi-segi positif daerahnya pada RTH yang disediakan. Seluruh penduduk pun dapat menyaksikan bahwa para pendatang telah ikut berpartisipasi dalam pemeliharaan lingkungan kota. Taman-taman itu menjadi daya tarik visual yang tidak sekedar menunjukkan eksistensi masyarakat pendatang, tetapi juga mendorong mereka untuk menjadi bagian dari kota yang mereka tinggali. Dengan demikian, citra kota pun meningkat, baik di mata penduduknya sendiri maupun di mata para wisatawan.

  Read the rest of this entry »





Reality Show Renovasi Rumah Tinggal dan Budaya Berhuni Masyarakat Kurang Mampu

23 01 2010

(Diformat ulang dari presentasi panel dan makalah untuk Seminar Nasional Riset Arsitektur dan Perencanaan (SERAP)1 Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan UGM, 16 Januari 2010)

Yulia Eka Putrie & Luluk Maslucha

Salah satu acara reality show di televisi yang dikenal masyarakat saat ini adalah acara renovasi rumah tinggal bagi masyarakat kurang mampu. Terdapat cukup banyak dampak positif dari acara-acara semacam itu bagi masyarakat penerima bantuan dan para pemirsa televisi pada umumnya. Walaupun demikian, terdapat pula beberapa dampak negatif yang muncul akibat acara-acara itu terhadap masyarakat kurang mampu, baik penghuni rumah yang bersangkutan maupun anggota masyarakat lain yang menontonnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak-dampak negatif dari hasil renovasi hunian terhadap masyarakat kurang mampu yang menerima bantuan, terutama dalam aspek-aspek fisik hunian dan budaya berhuni mereka. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif yang merupakan penelitian awal bagi Evaluasi Purna Huni yang akan dilakukan setelahnya. Aspek-aspek yang diteliti dalam penelitian ini terdiri dari aspek fisik dan aspek non-fisik dari hunian-hunian yang telah mengalami renovasi. Terdapat beberapa temuan dalam penelitian ini, yaitu (1) terdapat beberapa aspek kualitas fisik bangunan dan ruang-ruang di dalam hunian yang kurang memadai untuk kehidupan berhuni, (2) terdapat keseragaman dan kemonotonan rancangan fisik bangunan pada sebagian besar hunian hasil renovasi tanpa mempertimbangkan perbedaan budaya berhuni, latar belakang, dan karakteristik masing-masing penghuni, (3) terdapat indikasi upaya pengubahan yang signifikan pada arsitektur hunian tanpa pertimbangan tentang kekhasan budaya berhuni pemilik masing-masing hunian, dan (4) terdapat indikasi upaya untuk mengarahkan para penghuni untuk mengikuti standar berkehidupan dan berhuni tertentu yang dianggap lebih layak.

Read the rest of this entry »





Call for Papers: Journal of Islamic Architecture

31 10 2009

Journal of Islamic ArchitectureJournal of Islamic Architecture, Volume 1 Issue 2 December 2010

Dear all Under/Postgraduate Students and Academic Scholars of Architecture who have deep concern and awareness of the development of Islamic Architecture,

We gladly invite you to submit your scientific writings in widespread themes of Islamic Architecture to our “Journal of Islamic Architecture”. The journal is published by International Center for Islamic Architecture from the Sunnah (CIAS), Department of Architecture, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

 

  

 

Writing Guidelines

  1. Language in English or Indonesian (Abstract in both English and Indonesian)
  2. A4 page size
  3. 20 – 30 pages
  4. Font Trebuchet 11
  5. Double spacing
  6. Endnote quotation (Numbering Reference)

 

Paper Structure

Title, Author(s), Correspondence and e-mail address, Abstract (in English), Introduction, Method (for research-based articles), Content, Conclusion, Reference

Paper Submission

  1. Submissioned by e-mail to journal.islamicarchitecture@gmail.com
  2. Deadline  1 April 2010
  3. Questions and suggestions can be addressed to yuliaeka_p@yahoo.com
  4. More about the instruction for authors: Instruction for Authors




New Book: Rumah Ramah Lingkungan

31 08 2009

COVER DEPAN RRL

 

 An Excerpt:

Kerusakan lingkungan hidup dan lingkungan sosial sesungguhnya telah nyata keberadaannya di tengah-tengah kita. Namun demikian, dari sekian banyak tanda yang terlihat oleh mata kepala kita, ternyata hanya sedikit yang bisa sampai ke mata hati kita. Tidak ada yang kita lakukan selain menunggu kerusakan itu menimpa diri sendiri dan keluarga, untuk kemudian kita sesali kedatangannya. Bahkan setelah bencana itu datang pun, tak jarang kita beralasan tak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu, karena merasa bukan ‘siapa-siapa’ dan hanya ‘orang biasa’. Padahal, setiap manusia diberi kemampuan oleh Allah swt untuk menjadi pemimpin dan mengadakan perbaikan, bahkan di lingkungan terkecil sekalipun. Di dalam lingkungan terkecil itu, kita memiliki kemampuan untuk mengubah dan memperbaiki kerusakan yang ada, walaupun sedikit demi sedikit. Lingkungan terkecil itu berada sangat dekat dengan kita, dan kita hidup di dalamnya setiap hari. Lingkungan terkecil yang begitu dekat itu adalah rumah kita sendiri.

Read the rest of this entry »





Gambaran Surga dan Arsitektur Bumi

7 08 2009

masjid cordovaDi dalam dunia arsitektur penulis mendapati sebuah pandangan yang keliru ketika menempatkan gambaran tentang surga sebagai inspirasi fisik arsitektur yang ideal di muka bumi. Sebenarnya, tidak ada yang salah ketika kita mengagumi keindahan rumah di surga yang digambarkan di dalam al-Qur’an dan terinspirasi olehnya. Namun, gambaran tentang keindahan surga di dalam al-Qur’an ini sesungguhnya bukanlah ditujukan agar manusia membangun tempat yang ‘serupa’ di muka bumi. Spahic Omer (2009a: 14), menjelaskan bahwa kenikmatan tiada tara di surga berada di luar jangkauan kognitif manusia di dunia. Kesamaan jenis kenikmatan pada keduanya tidak lebih dari kesamaan dalam nama atau penyebutan semata. Selain dikarenakan ketidakmungkinan untuk menyamai keindahan surga, gambaran akan keindahan rumah di surga sesungguhnya lebih ditujukan agar manusia berlomba-lomba berbuat amal kebaikan yang dapat mengantarkannya ke surga.

Read the rest of this entry »








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.