Introduction
|
The failure of many formal solutions for low income housing has often been the lack of understanding of the informal phenomenon which is an alternative to those excluded from the formal housing market.
|
|
The failure of many formal solutions for low income housing has often been the lack of understanding of the informal phenomenon which is an alternative to those excluded from the formal housing market.
|
An Excerpt:
Kerusakan lingkungan hidup dan lingkungan sosial sesungguhnya telah nyata keberadaannya di tengah-tengah kita. Namun demikian, dari sekian banyak tanda yang terlihat oleh mata kepala kita, ternyata hanya sedikit yang bisa sampai ke mata hati kita. Tidak ada yang kita lakukan selain menunggu kerusakan itu menimpa diri sendiri dan keluarga, untuk kemudian kita sesali kedatangannya. Bahkan setelah bencana itu datang pun, tak jarang kita beralasan tak memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu, karena merasa bukan ‘siapa-siapa’ dan hanya ‘orang biasa’. Padahal, setiap manusia diberi kemampuan oleh Allah swt untuk menjadi pemimpin dan mengadakan perbaikan, bahkan di lingkungan terkecil sekalipun. Di dalam lingkungan terkecil itu, kita memiliki kemampuan untuk mengubah dan memperbaiki kerusakan yang ada, walaupun sedikit demi sedikit. Lingkungan terkecil itu berada sangat dekat dengan kita, dan kita hidup di dalamnya setiap hari. Lingkungan terkecil yang begitu dekat itu adalah rumah kita sendiri.
Tradisi membaca telah dimulai dalam Islam sejak kemunculan pertamanya, jauh sebelum pakar-pakar psikologi dan linguistik menemukan manfaat yang besar dalam kegiatan ini. Perilaku keilmuan seseorang ditunjukkan oleh setidak-tidaknya satu indikator, yaitu kebiasaan membaca. Lebih jauh, di dalam Islam tradisi membaca ini meliputi bukan hanya pembacaan terhadap buku dan karya tulis, namun juga pembacaan terhadap alam semesta dan segala isinya. Alam semesta seperti halnya kitab suci Al-Qur’an al-Karim, adalah ayat-ayat Allah SWT yang terbentang untuk dibaca, dijadikan pelajaran dan digali hikmahnya oleh manusia-manusia yang berpikir (ulul albab). Harun Yahya dalam bukunya ‘Keajaiban pada Laba-laba’, menyatakan bahwa bagi orang yang berpikir, setiap bagian alam merupakan tanda, atau dengan kata lain sebuah kunci bagi pintu kebenaran.
Recent Comments