Yulia Eka Putrie, MT
Occupation
Dosen Tetap Jurusan Arsitektur UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Education
S1 Arsitektur Universitas Brawijaya Malang
S2 Perancangan dan Kritik Arsitektur ITS Surabaya
Field of Interests
Islamic Architecture
Islamic Thought and Civilization
.
Where to Correspond?
yuliaeka_p@yahoo.com
Department of Architecture, Faculty of Science and Technology
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Jl. Gajayana 50 Malang 65144






tulisn nya keren banget… sy lagi penelitian pemukiman melayu dalam konteks perkotaan…
sy berharap bisa ngobrol dan diskusi banyak dengan mbak yulia.. thanks
terimakasih mas fadli, sedang tesis atau disertasi nih mas? menarik banget topik penelitiannya
e-mail saya yuliaeka_p@yahoo.com, monggo kalau kapan2 mau diskusi, tapi jangan topik yang berat-berat ya, hehe… nanti saya bisa bingung jawabnya
sangat menarik jika berdiskusi tentang arsitek, palagi dengan bu dosen. Namun saya selalu bertanya apakah mahasiswanya sehebat doseennya nggak ya… ato hanya dosennya aja yang jago nulis. setahu saya mulai dari generasi pioner arsitek uin malang hanya beberapa aja yang mampu melakukan riset, hal ini berbeda ketika saya belajar biologi disana. mulai dari semester 3, pengetahuan riset telah menjadi makanan mahasiswa biologi kala itu. terus nulis, dan berkarya bagi bangsa.
terima kasih, btw pertanyaannya hanya untuk diri sendiri atau harus dijawab nih?
Bukan suatu hal yang mustahil jika mahasiswa jauh lebih baik daripada para dosennya. Hal itu manusiawi sekali (dosen juga manusia…:D). Kalo masalah dosen pintar nulis, saya pikir tidak hanya dosen yang harus pintar nulis. Tetapi, memang salah satu tugas dosen itu menulis (salah duanya meneliti, salah tiganya baru mengajar, hehe).
tentang riset (yang notabene agak berbeda dengan menulis), keilmuan arsitektur memang memiliki kadar dan jenis riset yang agak berbeda dengan jurusan biologi, fisika dan ilmu-ilmu eksakta murni lainnya. Arsitektur merupakan gabungan antara science, humaniora dan application. Jadi, untuk strata satu, jenis riset yang mereka lakukan adalah riset yang menjadi dasar bagi mereka untuk merancang. Misalnya untuk merancang sebuah rumah sakit, mereka harus melakukan penelitian tentang behavior manusia di rumah sakit, jenis-jenis dan karakteristik penyakit, peralatan medis, urut-urutan langkah medis, perlakuan penghawaan dan pencahayaan bangunan rumah sakit, dan sebagainya. Mereka juga harus melakukan langkah-langkah analisis dan sintesis di sini, karena permasalahan dalam perancangan biasanya pelik dan kompleks sekali. Hasil sintesis mereka adalah konsep perancangan yang terdiri dari strategi-strategi pemecahan masalah berdasarkan potensi-potensi yang telah mereka analisis, untuk kemudian dituangkan ke dalam gambar rancangan. Jadi, agak keliru kalau mengira keilmuan arsitektur miskin riset, walaupun memang betul kalau dikatakan riset bukan makanan mahasiswa arsitektur, karena mereka memang tetap makan nasi dan minum susu supaya sehat
bu dosen kayaknya orang ini sinis banget sama anak arsitek.klu di katakan kurang riset wah saya tersinggung.naudzu billa mindzalik
@gizmi: hehe, sabaar giz, orang sabar disayang Allah
mungkin ini bisa kita jadikan masukan, supaya mahasiswa-mahasiswa arsitektur juga lebih semangat nulis, supaya sebanding dengan skill gambarnya, ya nggak?
@fauzing: nah tu mas fauzing, mahasiswa arsitektur ada yang protes…
mudah-mudahan dengan adanya share ini jadi lebih tau karakteristik ilmu satu-sama lain ya…
@ semuanya aja: Anyway, menurut saya pribadi superioritas satu ilmu di atas ilmu yang lain hanya dapat terjadi ketika ilmu itu memiliki manfaat dan mendekatkan pemiliknya kepada Allah. Selebihnya, ilmu malah dapat mengantarkan kita ke neraka kalau kita menjadi tinggi hati dan merendahkan orang lain. Sesungguhnya hanya Allahlah pemilik segala pengetahuan “Maha suci Engkau, tiada yang kami ketahui selain dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami“.
Biarin protes, emang itu realitasnya. kalo emang benar berkualitas, ayo tunjukkan.
hampir semua bidang keilmuan itu hampir sama, andai berbicara mengenai riset. saudara juga tahu sebuah perguruan tinggi, salah satu ujung tombaknya juga riset. dan mahasiswa perlu pengalaman mengenai riset sejak dini, “bagaimana mengplikasikan ilmu pengetahuan ke masyarakat nantinya, jika lulusan tidak mengetahui arti sebuah riset. namun sayangnya kebutuhan riset seolah hanya di jadikan sebuah kelulusan / skripsi.
saya bukannya merendahkan saudara dan mahasiswanya, tapi semua itu hanya demi kebaikan anak arsitek, dan kebaikan dosen beserta perangkat birokrasinya. “sebuah universitas yang luar biasa itu di ukur dari kualitas mahasiswanya, bukan kualitas Dosennya.
“Biarin protes, emang itu realitasnya. kalo emang benar berkualitas, ayo tunjukkan.”
Saya rasa saya sudah cukup santun dalam menanggapi anda. Saya juga sudah cukup panjang menjelaskan hakikat riset dalam keilmuan arsitektur. Penjelasan saya sebelumnya saya rasa sudah cukup dan saya tidak akan menjelaskan lebih jauh lagi karena mungkin akan percuma jika yang dicari bukan kebenaran, tetapi pembenaran. Maaf jika saya harus mengatakan bahwa cara berbahasa anda di atas tidak menunjukkan seseorang yang mendapat manfaat dari ilmunya dan beradab baik dengan ilmunya. Terima kasih, wassalam.
terima kasih juga atas semuanya, semoga ilmu saudara bermanfaat dan beradab.
dan semoga saudara di beri kemurahan hati oleh Allah SWT, untuk selalu mengingatkan semua kata2 saya yang salah. maaf sebelumnya, sukses selalu
Pada dasarnya sederhana saja …
Ilmu science mempunyai bidang keahlian masing-masing, jurusan biologi identik dengan risetnya, jurusan matematika identik identik dengan hitungannya, serta jurusan yang lainnya identik dengan bidang keilmuannya masing-masing. Saya rasa teman-teman dari biologi salah menafsirkan, tolong dipahami pengertian riset sendiri jadi pemaknaan riset bukan hanya berkaitan dengan ilmu biologi atau secara biologis saja. he…he…
Tapi pemaknaan riset mencakup wilayah yang luas. Saya rasa jurusan arsitek juga melakukan riset tetapi yang berhubungan dengan ranah arsitektur tetapi kuotanya tidak sebanyak jurusan biologi. Tetapi apakah jurusan biologi juga melakukan analisa serta konsep apa yang dilakukan setelah melakukan riset tersebut? saya rasa tidak kan?
Yang anda lakukan adalah melaporkan hasil rtiset anda tanpa memberikan solusi yang terbaik mengenai riset yang anda lakukan (tidak ada nilai sosial yangh anda tawarkan hanya sebatas laporan saja). Tetapi arsitek tidak seperti itu kawan……
Saya rasa juga apa yang dari teman-teman Biologi melakukan riset juga tidak berpengaruh pada kondisi masyarakat sekarang (riset hanyalah bahan diskusi selama perkuliahan saja tetapi hasilnya tidak ada kan?).
Maaf teman-teman dari Biologi….
Anda membicarakan satwa langka tetapi binatang langka sekarang hampir punah…
Anda membicarakan solusi hidup sehat tetapi banyak dari kita yang hidupnya tidak sehat………
Bukankah itu hanya sebatas riset anda bahkan sebatas bahan diskusi anda tetapi tidak ada solusi sama sekali. Lainya halnya dengan arsitektur kita membicarakan global warming, mendiskusikan gempa, membicarakan kondisi sosial secara umum tetapi banyak solusi yang kita tawarkan dari segi arsitektur misalnya rumah green untuk mengantisipasi global warming, perancangan rumah tahan gempa untuk wilayah yang sering dilanda gempa……..
Saya rasa sedikit tidak kita telah memberikan solusi bukan?
Kemudian untuk teman-teman Biologi seperti apa….
He…he… mungkin karena saya bukan Jurusan Biologi jadi saya tidak tau, tetapi saya berharap apa yang dari teman-teman Biologi lakukan sama seperti apa yang teman-teman arsitek lakukan juga….
Jadi saya berharap ini bukan hanya wacana yang hanya kita ributkan diforum saja tetapi kita mampu memberikan solusi yang baik bagi masyarakat kita…..
Oke teman-teman dari Biologi saya rasa kita adalah saudara….
Satu rasa ….
Satu jiwa ….
Satu bangsa …
Itupun kalau kita masih mempunyai jiwa sosial yang tinggi…….
Wassalam….
Maaf Bu…
Kalau saya berbicara seperti ini di blog Ibu…
Tetapi saya tidak dapat menerima apa yang diucapkan dari teman-teman Biologi
Jadi sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya…
Arsitek masih punya harga diri
Terimakasih Bu…
Wassalam
Assalamu’alaikum….
Blognya bagus sekali..
Saya mau sumbang ide, mungkin bisa dpikirkan tema baru : arsitektur modern dan postmodern ditinjau dari sudut agama Islam..
By d y, saya sdg thesis ttg arsitektur Melayu, mungkin bisa sharing pendapat dengan bu Yuli…
Dan ini juga merupakan undangan terbuka kepada sdr. Fadli utk berdiskusi lebih lanjut ttg kebudayaan Melayu…
Email saya : reg_dsyah@yahoo.co.id
Trims & Assalamu’alaikum….
Waalaikumsalam wr. wb.
mdh2an masukan sdr. Darmansyah jadi cambuk untuk belajar lebih giat lagi, amiin.
Terimakasih atas comment dan masukan sdr. Darmansyah, idenya bagus sekali… saya juga berniat menjadikan topik itu sebagai bahan disertasi kelak (belum tahu kapan, hehe). Saat ini, karena masih dalam tahap belajar, jadi belum berani menulis, takut salah
Arsitektur Melayu menurut saya menarik sekali, karena menyangkut rumpun yang cukup luas persebarannya di nusantara. Saya sangat terbuka untuk diskusi tentang hal ini, itung2 menggali ilmu lebih dalam lagi. Kalo boleh tau, fokus pembahasannya diarahkan kemana?
Pembahasan saya difokuskan kepada ars. Melayu Deli (karena tulisan ttg itu msh dikit sekali, n saya jg tinggal d Medan, jd biar hemat ongkos hehehe..).
Memang sih secara umum ars. Melayu Deli tdk jauh berbeda dengan ars. Melayu lainnya. Karena kalaupun ada perbedaan, itu umumnya ditentukan oleh sultan/penguasanya pada saat itu (kata budayawan Melayu)..
Tapi yg menjadi objek penasaran saya adalah filosofi ars. Melayu itu sendiri..
Karena thesis saya ttg implementasi/aplikasi arsitektur vernakular/ regionalisme Melayu Deli pada perancangan bangunan Pusat Kebudayaan Melayu di Medan. Jadi saya tdk bermaksud mau sekedar ‘nempelin’ elemen ars.-nya aja…
Hipotesa awal saya, bahwa ars. Melayu itu sangat Islami (berfilosofi pada kebudayaan Islam). Karena produk arsitektur yg dihasilkannya berkesesuaian dgn budaya Islam. Produknya itu mampu ‘menampung’ tatacara ber-muamalah. Misalnya : pembagian ruang bagi pria & wanita, metafora bentuknya, dsb…
Cuma yg jadi masalah adalah pendapat saya td masih ‘sekelas hipotesa’…
Jd saya mau mencari sumber (termasuk pendapat) yg bs dijadikan sbg penguat hipotesa saya td.
Sementara ini sumber referensi (buku) saya cuma dari :
Arsitektur Islam-nya Nangkula Utaberta;
Kebudayaan Islam-nya Yusuf Qardhawi;
Kebudayaan Melayu Sumatera Timur-nya T. Luckman’S;
Rumah Melayu-nya Mahyudin Al Mudra (dasarnya adalah ars. Melayu Riau).
(tiga penulis terbawah bukan berbasis arsitektur)
Jadi saya masih buntu pada teori-teori & aplikasi ars. regionalisme dan vernakular-nya plus juga tambahan lagi ttg kebudayaan & ars. Melayu &Islam…
(maklumlah pustaka disini msh terbatas sekali)
By d y, boleh tanyakan bu??
Dlm tulisan ttg muqarnas, geometris sarang lebah bukannya heksagonal??
Saya ada jurnal KALAM UTM, hasil penelitian Prof. Tajuddin tentang arsitektur melayu di semenanjung Malaysia, kalau memang diperlukan, insyaAllah bisa saya attach di e-mail yang kemarin.
Oya, apa ada filosofi dasar dari masyarakat Melayu yang bisa dijadikan dasar? Misalnya kalau di Minang ada filosofi “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”. Kalau ada, mungkin bisa jadi dasar untuk memperdalam kajian ini ya…
Trus, mungkin bisa dicoba juga mengambil pendekatan nilai (value-based). Nilai-nilai Islam yang menjadi dasar dikaji terlebih dahulu, misalnya prinsip hijab, konsep aurat, adab bertamu, adab bertetangga, dsb. Nilai-nilai ini sangat universal, artinya selalu bisa diterapkan dalam berbagai rentang waktu dan wilayah. Ada kaidah di dalam Islam tentang muamalah, yaitu hukum asal muamalah adalah mubah (boleh) selama tidak bertentangan dengan nash dan syariat. Nah, di ranah inilah berbagai budaya memperoleh ruang yang sangat luas untuk dikembangkan berdasarkan nilai-nilai Islam yang universal itu. Jadi, ada universalitas sekaligus lokalitas di sana. Misalnya, prinsip privasi di dalam Islam yang diperoleh dari kajian tentang konsep hijab, aurat, adab di atas, mewujud menjadi kebiasaan menerima tamu di beranda (masyarakat Betawi), menerima tamu laki-laki di mushola (masyarakat Madura), memisahkan letak bruga untuk tamu jauh (masyarakat Lombok), dan sebagainya.
Btw, iya benar sarang lebah memang berbentuk heksagonal… (kan di tulisan itu saya juga sebutkan heksagonal ya? hehehe, nevermind…).
Waah.. trimakasih sekali. Saya mau dikirimin, mudah2n tdk merepotkan..
Filosofi Minang itu juga dipakai oleh masy. Melayu, karena Melayu itu luaaaas sekali (mulai dari Maluku sampai Madagaskar). Dan oleh masy. Melayu sekarang, Melayu tdk dipandang lagi hanya sebagai jenis etnis, tapi lebih didasari oleh filosofi ttg jati diri Melayu, yaitu : “Beragama Islam, berbahasa Melayu, dan beradat Melayu”. Jadi hubungan darah bkn lagi jadi patokan utama. Hal ini mungkin berkaitan dgn nilai universal (dpt diterapkan dlm rentang waktu & wilayah yg tak terbatas) dan mubah dlm Islam sehingga Islamisasi bs diterima d byk tempat, terutama di daerah pesisir (tempat berlabuhnya pedagang-pedagang Arab pd masa dulu)..
Makanya fungsi beranda pd rumah Betawi sm dgn rumah Melayu lainnya (sbg tempat menerima tamu ‘jauh’/bkn muhrimnya), bahkan mngkn sm dgn teras (aku lali opo jenenge, hehehe) pd rmh Jawa umumny. Paling-paling beda pd penataan ruangnny krn beda kultur & teknologi lokalny. Klo d rmh Melayu, rg. tgh sbg tmpt org tua tdr d malam hari, ato ibu-ibu & anak perempuan berkegiatan d siang hari. Sedangkan lotengnya dijadikan tempat anak dara tinggal & mengintip ke luar.
Bydy, Matur suwun again looo….(pikiranq agk mbuka lg)
Ok, insyaAllah saya kirimkan beberapa hari mendatang (karena harus di-scan dulu, jadi agak lambat
mudah-mudahan gpp).
Oya, ada lagi, mungkin harus dibedakan juga antara aspek-aspek yang substantif (filosofis), dengan aspek-aspek yang simbolis. Menurut saya pribadi (ini masih hipotesis juga lho), di dalam arsitektur Islam, aspek-aspek yang substantif jauh lebih menentukan daripada aspek-aspek yang simbolis. Misalnya, pada aspek simbolis, kita dapat menemukan jumlah kolom atau tinggi menara di sebuah masjid yang biasanya merupakan simbol dari angka-angka tertentu, seperti 99 m tinggi menara menyimbolkan asmaul husna, 6 buah kolom menyimbolkan rukun iman, dsb. Tetapi, apakah jika jumlah menara tidak 99 m berarti tidak islami? Tidak kan? Malah bisa jadi jika kita terlalu berlebih-lebihan dalam memaksakan ketinggian menara itu kita akan terperangkap dalam kemubadziran yang justru tidak sesuai dengan nilai Islam.
Karena itu, aspek-aspek simbolis semata tidak dapat dijadikan tolak ukur atau indikator, apakah sebuah obyek arsitektur sesuai atau tidak dengan nilai Islam. Bukan berarti aspek simbolis sama sekali tidak dipertimbangkan, tetapi kita tidak boleh melupakan hal yang sebenarnya lebih menentukan, yaitu aspek substantif yang benar-benar berasal dari nilai-nilai Islam, seperti prinsip privasi, kebersihan dan kesucian, kesederhanaan, kedekatan dengan alam, dsb. yang jika tidak kita dapati di dalam sebuah obyek arsitektur, maka kita dapat menyimpulkan bahwa obyek arsitektur itu tidak islami atau tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Mungkin dengan pertimbangan ini kajian sdr. Dharmansyah dapat lebih mendalam, tidak semata-mata membahas simbolisasi dari bentuk-bentuk fisik yang ada, tetapi menuju tepat ke dalam jantung arsitektur Melayu, lewat kajian pada tataran filosofis (mencakup prinsip-prinsip) yang dapat kita analisis penerapannya pada tataran bentuk fisik arsitektur (tataran operasional). Selamat mengkaji!
Salam kenal Mbak…. wah dunia emang sempit ngeblog eh malah ketemu dosen Malang
… Mantab artikelnya… but kurang banyak tuh postingannya apa sedang sibuk ya… sukses terus ya…
wah “kera ngalam” juga ya mas Aditya…
saya udah mengunjungi blog arsitektur lansekapnya, keren, baru tiga bulan udah banyak postingnya, hehehe… ngga kayak saya, malah macet tengah jalan. bukan karna sibuk sih, hanya belum dapat ide mau nulis apa… (jangan diikuti nih yang kayak begini ini, hehehe). smangat, smangat!
Salam
Kunjungan kebloggeran dari Sunan Gunung Djati (Komunitas Blogger Kampus UIN SGD Bandung). Semoga bermanfaat. Amien.
Wasalam
Tim Sunan Gunung Djati
Wassalam, terima kasih atas kunjungannya
Terus berkarya!
wew….ada yang dari medan juga tuh melayu deli ya…..hmmmm….bu saya tunggu informasinya ya lebih lanjut
ih keren bu blog nya…byk tulisannya…bisa di kopikan bu…sebagai bahan pelajarn buat kita-kita yang haus akan ilmu…..
makasih reza, boleh kok, dicopy aja, tapi dibaca ya, jangan cuma dikumpulkan, hehehe…
iya reza, kalau mau korespondensi sama pak darmansyah bisa tuh…
iya bu… pasti dibaca….
waw ngomongin rumah melayu inget tugas yang kemarin dari makul arsitektur nusantara…..tentang rumah bubungan tinggi di kalimantan, sama rumah adat dari bengkulu….(lupa namanya)..iya bu .mungkin bisa bncang lebih byk sama pak darmansayah…
bu alamat blog ibu ini namanya pa bu…ni buka lewat google soalnya…sama blog yang dulu itu bu ya…makasih…soalnya mau jadi kan rujukan buat blog reza (masih blajar).
dah ketemu nama blognya bu…
salam kenal mbak….
salam kenal juga…
terimakasih ilmunya :
http://halimizuhdy.blogspot.com/
http://sastrahalimi.blogspot.com/
http://ibnuzuhdy.multiply.com/links/item/12
wah, gurunya kalah ilmu nih pak, hehe
maaf baru bales za, ok deh kalo udah ketemu
Asslamualaikum Wr. Wb
Bu Yulia, saya punya sebuah usulan, ada lebih baiknya jika Jurusan Teknik Arsitektur UIN Maliki Malang mendirikan sebuah lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat yang didalamnya melibatkan dosen dan mahasiswa.
Terima Kasih
Wassalam
Waalaikumsalam wr. wb.
Terima kasih atas usulan yang baik ini. Untuk sementara, lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat kita masih berada di bawah universitas, yaitu LPM dan Lemlitbang UIN Maliki. Seluruh kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat yang kita lakukan ada di dalam kedua lembaga itu. Semester lalu fakultas juga menyelenggarakan kompetisi penelitian dosen dan mahasiswa yang sudah dilakukan oleh empat laboratorium yang kita miliki. Insya Allah tahun-tahun selanjutnya juga akan ada kompetisi-kompetisi serupa.
Alo sistaaa…..
seneeeeng baca2 blog nya..biar gak ngerti juga..hehe…..
really smart way and smart thought my dear…. kayak nya aku harus banyak belajar lagi dari kamu niiy…. ajariiin duuooonnkk…..
keep on writing yaaah….
miss you bangeeeeeeetts….
Teteeeeeh ^_^ makasi ya teh hehehehehe, insyaAllah teh, kapan main ke Malang lagiii? i miss you too
wah.. Bu bagus bgt artikel ny,,,jika d d phami secara jelas…
saya blm bsa mgubah gmbar fto.. bgmn cra ny Bu???
makasih feriska
mungkin resolusi foto terlalu besar, coba dikecilkan ya…
salam kenal….
saya bangga menjadi lulusan brawijaya yang notabene banyak diakui ketika berkiprah dan berkarya demi menyumbang pencerdasan dan pembangunan di negeri ini, di pekerjaan saya pun alhamdulilah menjadi andalan ketika kita dinobatkan dan cukup bisa diandalkan dalam pekerjaan, sebagai lulusan brawaijaya
@ibu yulia–> anda adalah salah satu yang saya kagumi di saat saya membuka browsing blog ibu,
tinggal saya sebagai lulusan brawijaya, mempertanyakan diri saya apakah saya akan sanggup menjadi hebat dalam berkiprah di dunia ini sedangkan saya tidak tahu harus memulai dari mana.
oya salam kenal dengan wanita yang hebat ini
terima kasih banyak mas yoyon, amiiin, semoga semua lulusannya bisa bermanfaat bagi masyarakat, demikian pula halnya dengan mas yoyon…
insyaAllah bisa, mulai saja dari hal yang kecil, yang paling dekat dengan kita, yang bisa kita lakukan sekarang
don’t wait till there’s a big thing to do, just do little things in such a big way… semoga sukses dunia akhirat