mencari sebuah masjid

13 01 2012

Taufik Ismail

 

Aku diberitahu tentang sebuah masjid

yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan

fondasinya dari batu karang dan pualam pilihan

atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan

dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok

topan kutub utara dan selatan

aku rindu dan mengembara mencarinya….

 

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan

dihiasi dengan ukiran kaligrafi Qur’an

dengan warna platina dan keemasan

bentuk daun-daunan sangat teratur

serta sarang lebah demikian geometriknya

ranting dan tunas jalin berjalin

bergaris-garis gambar putaran angin

aku rindu dan mengembara mencarinya….

Aku diberitahu tentang masjid

yang menara-menaranya menyentuh lapisan ozon

dan menyeru adzan tak habis-habisnya

membuat lingkaran mengikat pinggang dunia

kemudian nadanya yang lepas-lepas

disulam malaikat jadi renda-renda benang emas

yang memperindah ratusan juta sajadah

di setiap rumah tempat singgah

aku rindu dan mengembara mencarinya….

 

Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya

di mana bila waktu adzan lohor engkau masuk ke dalamnya

engkau berjalan sampai waktu ashar,

tak kau capai shaf pertama

sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu

bershalatlah di mana saja

di lantai masjid ini, yang besar luar biasa

aku rindu dan mengembara mencarinya….

 

Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mehrabnya

yaitu sebuah perpustakaan yang tak terkata besarnya

dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya

di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian

yang menyimpan cahaya matahari

kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan

ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu berguna

di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta

terletak di sebelah menyebelah masjid kita

aku rindu dan mengembara mencarinya….

 

Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya

tempat orang-orang bersila bersama

dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka

dan pendapat bisa berlainan

namun pertikaian bisalah diuraikan

dalam simpul persaudaraan sejati

dalam hangat sajadah yang itu juga

terbentang di sebuah masjid yang sama

tumpas aku dalam rindu

mengembara mencarinya

di manakah dia gerangan letaknya….

 

Pada suatu hari aku mengikuti matahari

ketika di puncak tergelincir

sempat lewat seperempat kwadran turun ke barat

dan terdengar merdunya adzan di pegunungan

dan aku pun melayangkan pandangan

mencari masjid ke kiri dan ke kanan

ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan

dia berkata, “Inilah masjid yang dalam pencarian Tuan”

 

Dia menunjuk tanah ladang itu

dan di atas lahan pertanian

dia bentangkan secarik tikar pandan

kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran

airnya bening dan dingin mengalir beraturan

tanpa kata dia berwudhu duluan

aku pun dibawa air itu menampungkan tangan

ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan

hangat air yang terasa, bukan dingin kiranya

demikianlah air pancuran bercampur

dengan air mataku yang bercucuran….

Advertisement

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.