at Taylor’s University :)

26 12 2011

Here’s some pics from my visitation to Taylor’s Lake College in Malaysia few times ago… one interesting thing here, is the atmosphere of studying for students are well-considered by the university ;) have a look guys!

This slideshow requires JavaScript.





Pertamina Housing Complex, Balikpapan

26 12 2011

When i was little, i spent lots of time exploring this complex with my father. I guess that’s the very first time i learnt about architecture in a larger scope other than my own house :D

This slideshow requires JavaScript.





Picturing Architecture: Balikpapan

26 12 2011

Here are some more photographs i took when i was in my hometown, Balikpapan :) Hope that they will give some examples and ideas in how a city scape should be developed… ;)

This slideshow requires JavaScript.





menulis…

22 12 2011

I love writing! Bagi saya, menulis seperti menangkap kupu-kupu ide yang hinggap dalam benak, begitu sekilas singgahnya, begitu cepat perginya…

Menulis membantu kita menyadari dan mengkonstruksikan pemikiran-pemikiran yang berserakan, seperti nasib back-up file yang cepat pindah ke recycle bin kalau tidak segera diselamatkan…

Menulis juga sangat menolong jika kita ingin mengungkapkan pendapat kita kembali suatu saat, secara lisan…

Menulis bermanfaat dalam membentangkan arsip ingatan kita dan menyusunnya kembali secara alfabetis, seperti kegiatan analisa dan sintesa yang terus-menerus.

Satu lagi, menulis suatu saat dapat melatih kita untuk bersabar… tidak semerta-merta mengeluarkan pikiran-pikiran yang bercampur-baur dengan emosi, kemudian menyesalinya di kemudian hari, seperti kisah seseorang (saya lupa siapa, karena tidak saya tulis ;P) yang menuliskan sebuah surat makian, tapi hanya menyimpannya di laci meja kerja. Tiga hari kemudian, ia membukanya lagi, dan mensyukuri keputusannya untuk tidak benar-benar mengirimkannya.

Dan menulis memang berfungsi seperti kegiatan memback-up file yang sewaktu-waktu dapat kita buka kembali… kita akan tersadar kembali, terkejut, terbawa dan mungkin terbahak-bahak dengan pemikiran-pemikiran yang pernah kita tuliskan… menyadari ketololannya, atau mungkin merasa terheran-heran akan kemampuan pemikiran kita sendiri =D

….

Karenanya, mungkin bagi saya tidak terlalu penting tulisan-tulisan itu disukai oleh orang lain, karena sesungguhnya apa yang saya tulis lebih banyak menggambarkan keterbatasan saya,

Dan orang yang membaca tulisan saya bisa saja memiliki ilmu yang jauh lebih dalam dan luas daripada saya, karenanya membaca tulisan saya tidak akan membawa banyak manfaat bagi mereka.

Tetapi tulisan-tulisan itu sudah membawa manfaat cukup banyak bagi diri saya sendiri…

Ini bukan berarti saya tidak peduli pendapat mereka, sama sekali tidak. saya justru sangat butuh pendapat yang obyektif, namun saya tidak akan merasa kapok menulis karena pendapat yang meruntuhkan… justru itu yang saya butuhkan untuk bisa menilai dan menyadari keterbatasan saya, kita selalu butuh orang lain untuk menyadarkan kita bahwa kita adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan ini dan itu…

….

Dan tulisan saya kali ini, juga untuk mengingatkan kepada saya suatu saat, bahwa saya sukaaa sekali menulis dan mendapatkan banyak manfaat darinya, terlepas dari bagus atau tidaknya tulisan-tulisan itu… 





i love reading :))

22 12 2011

I like reading  Bagi saya, membaca sama dengan membawa jiwa melakukan pengembaraan menjelajahi dunia makna.

Membaca adalah ganti bagi ketidakmampuan saya mengadakan perjalanan fisik di luasnya penjuru bumi Allah.

Dan keduanya sama-sama memberikan inspirasi, pelajaran, ibroh bagi jiwa manusia…

Dengan membaca kita lalu dapat menulis… Urut-urutan ini secara implisit terdapat di dalam Al-Qur’an, surah Al-Alaq empat ayat pertama. Dengan banyak membaca, kita akan dapat banyak menulis.

Salah satu dosen saya menjawab pertanyaan panjang saya tentang bagaimana saya dapat menentukan luas atau sempitnya lingkup penelitian dengan satu kalimat singkat, “dengan banyak membaca…”.

Memang hanya dengan membaca kita akan tahu bahwa penelitian yang akan kita lakukan atau thesis yang akan kita tulis telah dibahas sebelumnya oleh peneliti lain atau tidak,
apakah isu yang kita angkat up-to-date atau tidak, dan sebagainya.

Subhanallah, bahkan langkah-langkah keilmuan mendasar ini telah tersirat di dalam Kitab Suci kita yang diturunkan di saat tradisi keilmuan di belahan barat dunia belum dilahirkan.

Satu pernyataan “…jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…” dalam Al-Qur’an surah Al-Hujuraat: 6 bahkan dikembangkan menjadi satu tradisi keilmuan yang diterapkan hingga saat ini.

Bermula dari metodologi takhrij hadits yang dilakukan dengan sangat selektif dan teliti oleh generasi-generasi Muslim awal, hingga kini penelitian awal tentang kompetensi orang-orang yang dijadikan referen merupakan salah satu penanda obyektivitas dan “keshahihan” keilmuan kita. Wallahu a’lam bishawab 





bidadari and me…

22 12 2011

selama ini selalu ada semacam rasa iri terhadap kesempurnaan bidadari…

tetapi, membaca cerita panjang seorang teman tentang percakapan pria dan bidadari,

entah kenapa rasanya jadi sedikit lebih beruntung daripada bidadari (sedikiit..hehehe)…

setidaknya sebagai perempuan yang manusia, akan selalu ada kesempatan untuk mengerti

bahwa keindahan hidup terkadang berbaur dalam setiap air mata,

bahwa keriputnya kulit karena usia bukanlah sesuatu yang sangat menakutkan

selama jiwa terus dipupuk untuk lebih paham akan makna hidup,

bahwa penyakit sebenarnya diciptakan tak lain untuk menggugurkan dosa dan menempa keikhlasan,

daaan… bahwa terkadang tidak mengapa untuk tampil sangat sederhana, terlihat tidak cantik,bahkan terkadang boleh saja terlihat bodoh (we don’t have to look clever all the time, do we!?) 
mungkin itu sebabnya kata lain dari ketidaksempurnaan adalah “manusiawi” 





Kenapa belajar bahasa arab??

22 12 2011

Bu, kami ini kan mahasiswa arsitektur, kok harus belajar bahasa Arab segala sih?”, sebuah protes klise di kalangan mahasiswa UIN dari jurusan-jurusan selain Bahasa Arab, Tarbiyah dan Syariah, yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Saya tersenyum geli karenanya, mengingat kakak-kakak tingkat mereka juga menanyakan hal yang sama dengan redaksi yang benar-benar mirip. ”Wah, kayak nyontek waktu ujian aja,” pikir saya dalam hati.

Saya tanya deh sama kalian, kalian dari SD belajar bahasa Inggris nggak?”

Mereka mengangguk.

Kalian pernah ngobrol sama orang bule nggak?”

Mereka menggeleng.

Atau kalian pernah punya pacar orang bule?”

Mereka menggeleng lagi.

Kok kalian tidak pernah protes: Kenapa kami harus belajar bahasa Inggris dari SD?”

Mereka terdiam.

Saya tidak bermaksud menyuruh kalian protes juga sama pelajaran Bahasa Inggris lho… Saya cuma ingin kalian lebih obyektif dalam menilai permasalahannya. Mengapa Bahasa Arab yang jelas-jelas bahasa Al-Qur’an kalian protes, tetapi Bahasa Inggris kalian iyakan saja, padahal menurut kalian tadi, ngga ada yang benar-benar pernah kalian gunakan secara langsung… Artinya protes kalian nggak imbang, nggak adil. Sebenarnya, kalau dilihat manfaatnya, dua-duanya pasti punya manfaat dalam segi keilmuan. Kalau hanya dilihat dari segi materi, tentu belajar bahasa Inggris bernilai sekali di dunia kerja. Tapi belajar di universitas ini bukan sekedar bertujuan untuk bisa kerja aja, kan? Bagaimana kalau ternyata kalian meninggal sebelum lulus kuliah? Apa artinya masa kuliah kalian selama itu sia-sia aja? Memang jadi sia-sia kalo tujuannya hanya supaya bisa kerja, tapi kalo tujuan belajar itu ibadah, nggak akan ada yang sia-sia, pun ketika meninggal sebelum lulus kuliah. Bahasa Arab itu kan alat untuk mempelajari dan memahami Al-Qur’an, jadi manfaatnya baik untuk kehidupan maupun kematian udah jelas, tinggal motivasi belajar kalian aja yang sekarang harus diperbaiki ya, jangan lupa niatnya juga diluruskan lagi… ^_^”

Mereka masih terdiam, mungkin shock karena saya ajak bicara tentang kematian, hehehe…





Sebuah jarum dalam ingatan..

22 12 2011

Sore itu, seorang anak kecil tampak mengendap-endap keluar dari pintu samping sebuah rumah. Pintu itu menghubungkan rumah kayu yang berusia lebih dari 60 tahun itu dengan sebuah gang kecil di sebelahnya, tempat orang-orang lalu-lalang dengan ramainya. Anak kecil yang berumur sekitar lima tahun itu kemudian perlahan-lahan menancapkan sebuah jarum yang dicurinya dari kotak jahit neneknya. Jarum yang masih berkilat itu ditancapkannya tepat di tengah jalan, dengan tujuan agar terinjak oleh orang-orang yang lewat di sana. Gang itu memang tidak menggunakan perkerasan apa pun, sehingga jarum itu dengan mudah menancap, dengan bagian matanya yang tajam menghadap ke langit.

Setelah itu, si anak pun dengan gembiranya berniat kembali ke dalam rumah, tempat neneknya menyediakan teh hangat dan pisang goreng untuknya. Sebelumnya, ia memetik rumput-rumput yang tumbuh di tepi rumah untuk dijadikan bahan permainannya. Namun kegembiraannya tidak berlangsung lama, karena sedetik kemudian ia menyadari telah menjadi korban dari keisengannya sendiri. Jarum yang sedianya diperuntukkan bagi orang lain, kini dengan manis telah menancap di telapak kakinya yang mungil, dan iapun menangis tersedu-sedu. Dengan perasaan cemas bercampur bingung, si nenek datang dan mencabut jarum itu. Beliau bertambah bingung ketika mengenali jarum itu sebagai miliknya yang baru saja “hilang” dari tempatnya. Si cucu yang iseng dan “jahat” ini tidak berani mengaku bahwa ia sendirilah yang telah mengambil dan menancapkan jarum itu di sana.

Kalau saat ini saya memikirkan apa yang sebenarnya dipikirkan anak kecil itu pada saat melakukan kejahatannya, saya tidak akan mampu menemukan “kemarahan” atau “kebencian”nya pada orang-orang yang lewat di gang samping rumahnya, walau terkadang mereka ribut sekali dan mengganggu tidur siang si anak kecil. Ia mungkin benar-benar hanya iseng atau usil (dengan dosis kelewat tinggi ^_^) saat itu. Karenanya, saya sebenarnya malu mengakui bahwa dia adalah saya sendiri. Tetapi anak kecil itu memang saya sendiri, dan kejadian itu adalah satu dari sedikit kejadian masa kecil yang masih begitu membekas di hati saya…

Ketika kisah kenakalan ini saya ceritakan pada seorang teman, sesungguhnya celetukannya-lah yang membuat saya sadar betapa berharganya pengalaman ini memberi pelajaran kepada saya. Ia berkata, “Berarti Allah masih sayang sama kamu, Lia… Kamu ditegur langsung dengan cara itu,” Subhanallah, sebuah teguran tegas yang amat lembut dan kasih di masa kecil itu baru saya sadari lama setelahnya…

Mengingat kejadian itu rasanya seperti membaca surah At-Takasuur yang menggambarkan keMahaLembutan dan keMahaSabaran Allah dalam menegur hambanya, tiga kali berturut-turut dengan bahasa yang mencontohkan ketinggian etika, “Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim…” Di dalam surah ini, ketegasan-Nya terasa benar berpadu dengan kelembutan, dan teguran-Nya benar-benar dikarenakan kasih sayang-Nya pada hamba-Nya. Dan keharuan pun kembali melingkupi hati setiap kali kenangan tentang jarum cinta di telapak kaki itu muncul dalam ingatan…








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.